tirto.id - Lamanya antrean pelayanan kesehatan di Puskesmas maupun rumah sakit di Kabupaten Jember, Jawa Timur, membuat sebagian pasien penyakit kronis memilih menunda bahkan menghentikan pemeriksaan rutin.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko komplikas penyakit seperti hipertensi dan diabetes melitus yang membutuhkan pengobatan serta pemantauan secara berkelanjutan.
Kepala Puskesmas Ajung, dr. Nur Rakhman Ahadi, mengatakan, hipertensi dan diabetes melitus masih menjadi dua penyakit kronis yang paling banyak ditangani di wilayah kerjanya. Kedua penyakit tersebut masuk dalam program prioritas nasional karena dapat memicu berbagai komplikasi serius apabila penderita tidak rutin menjalani kontrol kesehatan.
"Diabetes sering disebut sebagai ibu dari segala penyakit karena dapat menyebabkan stroke, memperparah hipertensi hingga serangan jantung apabila tidak ditangani dengan baik," ujar dokter Rakhman saat dikonfirmasi di Puskesmas Ajung, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, pasien penyakit kronis sebenarnya dapat menjalani kehidupan normal apabila disiplin mengonsumsi obat, melakukan pemeriksaan secara berkala, serta menerapkan pola hidup sehat.
"Kalau diobati dengan baik, komplikasi bisa dicegah. Memang penyakitnya tidak bisa sembuh total, tetapi bisa dikendalikan, sehingga pasien tetap dapat hidup seperti orang sehat. Obat sekarang juga sudah praktis, cukup diminum satu kali sehari jika kondisinya sudah stabil," katanya.
Namun di lapangan, masih banyak masyarakat yang enggan datang ke fasilitas kesehatan. Salah satunya disebabkan anggapan bahwa proses pelayanan membutuhkan waktu yang lama, terutama saat harus dirujuk ke rumah sakit.
Zainah (69), warga Dusun Curah Kates, Desa Klompangan, Kecamatan Ajung, mengaku kerap mengurungkan niat memeriksakan kesehatannya meski memiliki riwayat hipertensi. Ia baru bersedia datang ke Puskesmas Ajung setelah kondisinya melemah akibat diare.
"Saya terkadang malas periksa ke puskesmas atau rumah sakit karena sering antreannya panjang dan lama. Jadi kalau sakit, lebih baik dirawat di rumah. Ini saja saya dipaksa anak-anak ke Puskesmas Ajung karena badan sudah lemas. Mungkin ada solusi dari pemerintah atau Pak Bupati supaya pelayanan untuk lansia bisa lebih mudah," ujarnya.
Keluhan serupa juga dialami Gimun (78), warga Dusun Langsatan, Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung. Putrinya, Ita (40), mengatakan ayahnya yang menderita penyakit menahun kerap menolak menjalani kontrol karena menganggap proses berobat selalu memakan waktu lama. Keterbatasan sarana transportasi juga menjadi kendala bagi keluarga.
"Bapak saya sudah lama sakit dan usianya juga sudah sepuh. Selama ini jarang kontrol karena antreannya lama. Kami juga tidak punya kendaraan, sementara bapak tidak bisa naik sepeda motor. Harapan kami, kalau bisa ada pelayanan kesehatan yang datang ke rumah atau ambulans keliling untuk membantu lansia yang kesulitan berobat," kata Ita.
Tercatat Ada 235 Pasien Penyakit Kronis di Kecamatan Ajung
Dokter Rakhman mengungkapkan hingga saat ini terdapat sekitar 235 pasien penyakit kronis yang rutin dipantau di wilayah kerja Puskesmas Ajung. Namun, jumlah tersebut diperkirakan belum mencerminkan kondisi sebenarnya karena masih banyak warga yang belum pernah memeriksakan kesehatannya.
"Banyak masyarakat takut penyakitnya diketahui sehingga enggan datang ke fasilitas kesehatan. Padahal semakin cepat diketahui, semakin mudah dikendalikan. Yang paling sulit justru mengubah pola hidup dan menjaga kedisiplinan minum obat," ungkapnya.
Sebagai upaya meningkatkan deteksi dini, Puskesmas Ajung terus mengoptimalkan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) yang dilaksanakan setiap bulan. Program tersebut melayani seluruh kelompok usia, mulai ibu hamil, bayi, anak-anak hingga lansia.
"Harapan kami masyarakat tidak menunggu sakit parah baru datang berobat. Dengan pemeriksaan rutin melalui Posyandu ILP, penyakit kronis bisa ditemukan lebih dini sehingga risiko komplikasi dapat ditekan," pungkasnya.
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































