Dunia yang Mencintai Keanu Reeves

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 14 Juni 2019
Dibaca Normal 5 menit
Kisah Keanu Reeves adalah kisah tentang seorang superstar yang belajar arti hidup dari kehilangan, sebuah proses yang membuat jutaan penggemar memujanya.
tirto.id - Keanu Reeves terlihat gagah saat berdiri di panggung konferensi E3 Microsoft 2019. Padahal, ia menampilkan gaya yang itu-itu saja sejak membintangi John Wick (2014).

Sang aktor memelihara kumis dan jenggot dengan rambut sepanjang bahu yang ia belah tengah. Jas dan celananya berwarna abu-abu gelap. Sepatunya jenis boots cokelat — konon barang kesayangan yang ia pakai selalu.

Tugasnya adalah mengumumkan tanggal peluncuran Cyberpunk 2077, gim di mana ia memerankan salah satu karakternya. Sepanjang tiga menit ia mempromosikan gim yang menyuguhkan lanskap dunia masa depan itu.

Keanu baru menarik napas untuk melanjutkan kata-kata saat seorang penonton di barisan depan berteriak: "Kamu itu lho yang menakjubkan!"

Gemuruh tawa mengisi ruangan. Keanu, sambil salah tingkah, menimpali penonton itu, "Kamu yang menakjubkan. Kalian semua menakjubkan!" katanya sambil menunjuk ke arah si penonton. Dalam video yang diunggah GameSpot, terdengar teriakan histeris dari beberapa penonton perempuan.

Pujian si penonton boleh jadi mewakili pendapat warga internet (warganet) secara umum. Keanu dipandang tidak hanya sebagai aktor rupawan dan bertalenta, tapi juga super baik dan rendah hati. Ibarat paket lengkap, sebagian warganet bahkan kerap berkomentar bahwa Keanu tidak memiliki hater.


Reputasi itu melekat pada diri Keanu melalui perkataan maupun perilakunya yang terekam kamera lalu diunggah dan menjadi viral di dunia maya. Lucunya, Keanu tidak memiliki akun media sosial, tapi popularitasnya belakangan bahkan mampu menyaingi pesohor Hollywood lain yang punya ratusan ribu pengikut.

Reaksi Keanu di acara E3 Microsoft 2019, misalnya, diabadikan melalui meme hingga ilustrasi seni penggemar (fan art). Atau pada Mei lalu, Keanu yang berpakaian formal serba-hitam mendapat respons manis saat menjadi bintang tamu The Late Show with Stephen Colbert.

Stephen dan Keanu sebagian besar membicarakan aksi-aksi menantang dalam film John Wick: Chapter 3 (2019). Namun, menjelang akhir segmen, Stephen secara tak diduga melempar pertanyaan berat—yang disambut tawa penonton, seolah mereka paham bahwa pertanyaan itu merupakan gaya khas Stephen ketika menggoda tamu.

"Apa yang akan terjadi setelah kita mati, Keanu Reeves?”

Keanu membenarkan posisi duduknya, mengambil napas panjang. "Yang aku tahu orang-orang yang mencintai kita akan merindukan kita."

Penonton terharu, mendesah "aww…," sembari bertepuk tangan meriah. Stephen sendiri tersenyum lebar. Wajahnya berbinar sembari mengangguk-angguk, perpaduan antara kagum sekaligus tersentuh dengan jawaban bijak sang tamu. Stephen dan Keanu mengakhiri pertanyaan itu dengan jabat tangan erat.

Warganet paham. Jawaban Keanu itu berkenaan dengan pengalaman pribadinya yang pernah ditinggal orang-orang terdekat. Kisahnya beredar luas. Ada yang dilebih-lebihkan atau menjadi hoaks. Satu yang faktual: sejak kecil Keanu memang terbiasa dengan guncangan, kehilangan dan kesendirian.

Ditelantarkan hingga Kehilangan Sahabat

Keanu lahir di Beirut, Lebanon, pada 2 September 1964. Namanya diambil dari nama seorang paman, Henry Keanu Reeves. Nama "Keanu" diambil dari paman buyut Keaweaheulu yang dalam bahasa Hawaii berarti "angin sepoi-sepoi."

Ibunya bernama Patricia, seorang seniman panggung dan perancang busana asal Inggris. Ayah biologisnya, Samuel Nowlin Reeves Jr, adalah keturunan separuh Hawai separuh Cina serta membawa sedikit darah Irlandia dan Portugis.

Wawancara bersama Majalah Parade edisi 11 Juni 2006 mengungkap bagaimana Samuel Nowlin pergi menelantarkan istri dan Keanu kecil. Saat dewasa, Keanu mengetahui bahwa Samuel pernah dipenjara di Hawaii karena ketahuan menjual heroin di Bandara Internasional Hilo.

Pada usia dua tahun ia dan ibunya pindah ke Australia, tempat di mana adik perempuannya lahir. Ibunya menikah lagi dengan seorang sutradara teater, tapi bercerai setahun kemudian.

Mereka pindah ke Toronto, Kanada, saat Keanu berusia enam tahun. Lalu pindah lagi ke New York, Amerika Serikat, di mana ibunya menikah dengan seorang sutradara bernama Paul Aaron.


Pernikahan itu lagi-lagi berumur singkat. Keduanya bercerai pada 1971. Tapi kedekatan dengan Paul sempat membuka jalan bagi Keanu untuk berkecimpung di dunia perfilman. Saat itu usianya 15 tahun. Ia mengawali pekerjaan sebagai asisten produksi.

Ibu Keanu sempat dua kali lagi melakoni kawin-cerai dalam usia singkat. Pertama dengan seorang promotor musik bernama Robert Miller (1976-1980). Kedua bersama penata rambut Jack Bon yang kandas pada 1994. Selama fase itu, Keanu dan adik perempuannya tinggal di rumah nenek mereka di Toronto.

Ketidakstabilan dalam hidup Keanu berlanjut di masa SMA. Ia berpindah-pindah sekolah hingga empat kali dalam lima tahun. Ia dan adiknya ternyata menderita disleksia. Meski meraih nilai akademik yang lumayan, Keanu memutuskan untuk keluar dari sekolah sebab ingin fokus di dunia akting.

Ibunya mendukung keputusan tersebut. "Lakukan apa yang kau inginkan," katanya. Keanu pun pindah ke Los Angeles. Namanya mulai jadi perhatian sejak membintangi film Dangerous Liaisons (1988) dan My Own Private Idaho (1991).

Di film terakhir ini ia bertemu dengan River Phoenix. River adalah sahabat terbaik Keanu. Sayang, ia meninggal pada 1993 karena overdosis valium di kelab malam The Viper Room kepunyaan Johny Depp.

Di masa itu, Keanu juga sedang menemani adik perempuannya yang menderita leukemia. Proses perawatannya panjang, mulai dari pertama kali didiagnosa pada tahun 1991 hingga dinyatakan boleh beraktivitas normal pada 1999.

Tragedi Ganda

Meninggalnya River Phoenix adalah kehilangan besar pertama Keanu. Namun, pada saat yang bersamaan, kariernya makin meroket lewat peran-peran utama di film drama, horor-thriller, dan laga.

Beberapa di antaranya Bram Stoker’s Dracula (1992), Much Ado About Nothing (1993), Speed (1994), dan The Devil’s Advocate (1997). Di mata awak media Amerika, Keanu adalah ikon Hollywood 1990-an. Puncaknya saat ia memerankan Neo di trilogi The Matrix (1999-2003).

Sayangnya, di tengah nuansa gembira, kabar kehilangan lain menghantam Keanu secara beruntun dan lebih keras. Ia kehilangan anak dan pasangannya, Jennifer Syme.

Jennifer bertemu Keanu pada 1998. Keduanya langsung jatuh cinta. Tidak sampai setahun menjalin hubungan, Jennifer hamil. Pada usia kandungan kedelapan, tanggal 24 Desember 1999, Ava Archer Syme-Reeves lahir ke dunia dalam kondisi prematur serta sudah tidak bernyawa.

Duka mendinginkan hubungan Jennifer dan Keanu hingga keduanya memutuskan untuk berpisah beberapa minggu setelah kematian Ava.

Pada 2 April 2001 Jennifer sedang menyetir mobil sendirian di Cahuenga Boulevard, Los Angeles. Tiba-tiba mobil tergelincir, menabrak tiga mobil lain yang sedang terparkir, dan berguling-guling beberapa kali. Jennifer menghembuskan napas terakhir.


Arsip majalah People mencatat otoritas setempat meyakini Jennifer meninggal di lokasi kecelakaan. Di dalam mobil ditemukan obat-obatan penenang. Selama beberapa minggu sebelum tragedi, Jennifer dilaporkan sedang menjalani perawatan karena depresi.

"Kesedihan berubah bentuk, tapi tidak pernah berakhir. Orang-orang salah paham, bahwa katanya 'itu akan hilang, dan saya akan merasa lebih baik.' Mereka keliru. Ketika orang yang kamu cintai pergi, kamu sendirian," kata Keanu, masih mengutip Parade.

Duka tidak sampai menghentikan karier Keanu. Pada 2000-an hingga 2010-an, selain masih berkecimpung di genre drama-romantis, Hollywood makin giat "mengeksploitasi" kemampuan beladiri si tampan. Misalnya, dalam Man of Tai Chi (2013) atau 47 Ronin (2013).

Tapi, popularitas raksasa, seperti yang Keanu raih saat membintangi The Matrix, baru muncul saat ia membintangi John Wick. Saking larisnya, hingga beberapa tahun ke depan film arahan Chad Stahelski itu masih diteruskan sebagai proyek waralaba baru. Plot film ini klise. Namun, publik tetap terpesona karena beresonansi dengan kisah asli Keanu.

Infografik Kisah Sedih Keanu
Infografik Kisah Sedih Keanu. tirto.id/Quita


Terlalu Baik untuk Dunia

Sejak 2010-an pula Keanu mendapat reputasi sebagai the nice man of Hollywood. Ia dianggap pengecualian karena tidak terpapar sindrom bintang film, tetap down to earth, terlihat apa adanya. Setidaknya demikian menurut kesaksian beberapa orang yang pernah bertemu atau merekam kelakuannya.

Permulaannya bisa dilacak pada 2010 ketika foto Keanu yang sedang duduk dan makan sendirian di sebuah kursi taman mendadak viral. Warganet mengolahnya sebagai meme dengan tema "Sad Keanu." Kisah tragisnya menjadi bumbu pelengkap. Bahkan, ada yang secara tidak resmi menetapkan tanggal 15 Juni sebagai Hari Bergembiralah Keanu.

Contoh-contoh lain dicatat Naomi Fry dalam kolomnya di New Yorker dengan judul romantis: Keanu Reeves Terlalu Baik untuk Dunia Ini. Testimoni-testimoni warganet ia kompilasikan sebagai cerita tentang Keanu (Keanu Stories).

Salah satu cerita itu adalah saat Keanu menolong beberapa penumpang pesawat lain jurusan Los Angeles-San Fransisco tapi harus mendarat darurat di Bakersfield. Sang aktor mengangkut mereka dengan mobil van sewaan sambil mengoceh fakta-fakta seputar Bakersfield dan mendengarkan musik country.


Ada pula kisah kala Keanu proaktif memberikan tanda tangannya pada penggemarnya, seorang penjual tiket bioskop yang terlalu malu untuk meminta tanda tangan sang idola.

Lalu, ada cerita tentang Keanu yang menelpon penjual buku independen seminggu sekali untuk memesan buku—yang kemudian ia ambil sambil menunggangi sepeda motor.

Di lain waktu, ada pula kisah Keanu yang menawarkan tempat duduknya ke seorang penumpang perempuan di sebuah kereta bawah tanah di New York. Hal itu ia lakukan setelah melihat si perempuan membawa tas yang besar.

Dalam pengalaman Naomi sendiri, ia pernah melihat Keanu menonton pertunjukan tari Pina Bausch di Brooklyn Academy of Music. Bukan di kursi VVIP, tapi yang paling murah, sampai "kakinya yang kurus panjang memenuhi ruang kecil di depan kursinya."

Dan seterusnya. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Beberapa pihak menganggap fenomena Keanu sebagai pencitraan belaka, dan respons warganet dinilai terlalu berlebihan. Lainnya berargumen bahwa mereka hanya kagum pada seorang aktor yang pernah melalui fase tragis, dan sebagaimana respons yang pada umumnya muncul ketika mendengarkan cerita sedih, mereka pun bersimpati.

Apakah pengalaman pahit di masa lalu mengubah Keanu? Sekali lagi merujuk pada wawancaranya di majalah Parade, sang aktor mengiyakan secara tidak langsung.

"Sebagian besar apresiasi saya terhadap kehidupan datang melalui kehilangan. Hidup itu berharga. Hidup itu bermakna," sebutnya.

Baca juga artikel terkait KEANU REEVES atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara