tirto.id - Setahun lalu, Muhammad Risky Pratama (12) menghabiskan waktunya berkeliling menjual ikan segar di kawasan Bagan Deli, Kota Medan. Dengan mengayuh sepeda menempuh jarak puluhan kilometer, ia membantu keluarganya memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kini, kehidupan Risky berubah. Melalui Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, ia memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan sekaligus menumbuhkan harapan baru untuk meraih cita-citanya.
“Kadang (sehari) Rp30 ribu dapatnya, paling banyak dikasih Rp90 ribu, kalau habis semua (ikannya),” kata Risky saat menceritakan pengalamannya berjualan ikan di Medan, Sumatera Utara, Selasa (23/6/2026).
Risky berasal dari keluarga sederhana. Sejak duduk di bangku kelas 4 SD, anak sulung dari empat bersaudara itu diasuh oleh kakek dan neneknya, Salamuddin dan Masitah. Sang ibu merantau untuk bekerja di luar daerah, sementara ayahnya telah berkeluarga kembali dan tinggal berjauhan.
Keluarga tersebut menggantungkan hidup dari penghasilan Salamuddin yang mencari kerang di laut. Pendapatannya berkisar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari, bergantung pada kondisi cuaca.
Dengan tanggungan 13 anggota keluarga, penghasilan tersebut kerap tidak mencukupi, termasuk untuk membiayai pendidikan Risky.
Karena itu, sejak kelas 6 SD, Risky memilih membantu keluarga dengan berjualan ikan. Sebagian hasil penjualannya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok rumah tangga.
“Hasil jualan dibagi nenek, habis itu nenek beli beras dan pempers adek,” ujar Risky.
Sekolah Rakyat Tumbuhkan Asa
Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi titik balik bagi Risky dan keluarganya. Program tersebut memberi kesempatan bagi Risky untuk tetap bersekolah di tengah keterbatasan ekonomi yang dihadapi keluarganya.
Masitah (55), sang nenek, mengaku bersyukur atas hadirnya program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, tanpa program tersebut, cucunya kemungkinan besar kesulitan melanjutkan pendidikan.
“Dulu saya menangis, kenapa? Karena saya tak akan mampu menyekolahkan dia (Risky). Karena dia bilang, cita-cita awak ini nek, apa bisa awak sekolah, nah itu saya menangis memang. Tapi kalau sekarang ini saya menangis, tapi menangis bahagia,” kata Masitah dengan suara bergetar dan meneteskan air mata haru.
Ia juga melihat perubahan besar pada diri Risky sejak bersekolah di Sekolah Rakyat. Selain lebih mandiri dan percaya diri, Risky dinilai semakin disiplin serta lebih rajin menjalankan ibadah.
“Bukan lagi ada perubahan, jauh kali, bilangkan jauh kali lah. Perhatiannya kalau pulang jauh lah dia, tidak sebelumnya dulu mau melalak (keluyuran), kalau sekarang melalak arahnya ke musala sana atau masjid,” ujarnya.
Sementara itu, sang kakek Salamuddin (63) menuturkan bahwa Risky memang memiliki inisiatif tinggi. Keputusan berjualan ikan datang dari keinginannya sendiri, bukan karena paksaan keluarga. Meski demikian, ia selalu mendorong cucunya untuk tetap mengutamakan pendidikan.
“Kalau penghasilan lumayan juga, cuma kan kita kan sayang sekolahnya, nggak bisa sekolah itu aja, maka kami kerahkan ini supaya kami semangatkan dia untuk sekolah, ini supaya dia terdidik, menjadi orang,” ungkap Salamuddin.
Harapan untuk Sang Ibu
Menjalani hari-hari tanpa kehadiran ibu bukan perkara mudah bagi Risky. Sejak terakhir bertemu saat duduk di kelas 4 SD, ia belum pernah lagi berjumpa dengan sang ibu. Komunikasi pun hanya sesekali dilakukan melalui telepon.
“Kangen (mamak) mau jumpa kaya dulu, dulunya mamak nyuruh nyuci piring, sekarang nggak lagi, dulunya mamak nyuruh jaga adik, sekarang nggak lagi,” kata Risky berkaca-kaca.
Situasi tersebut membentuk Risky menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Sebagai anak sulung yang turut bertanggung jawab menjaga adik-adiknya, ia terbiasa menghadapi berbagai tantangan sejak usia dini. Karakter itu semakin berkembang setelah ia bergabung dengan Sekolah Rakyat. Di sana, Risky tidak hanya memperoleh pendidikan, tetapi juga pembinaan karakter dan keterampilan hidup.
Risky mengaku senang belajar di Sekolah Rakyat karena fasilitas yang tersedia mendukungnya untuk mengejar cita-cita menjadi seorang tentara.
“Dulu saya enggak pandai baca pak, jadi saya pandai diajarin guru, wali asuh, wali asrama pak. Nggak pandai niat salat, niat wudhu, bisa pandai pak,” imbuhnya.
Menjelang akhir perbincangan, Risky mengungkapkan harapannya untuk dapat segera bertemu kembali dengan sang ibu, sembari terus menata masa depan melalui pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Mamak biar bagus-bagus kerjanya, jangan terpikir kami dulu, kalau mamak terpikir, jadi mamak nggak terlalu konsen bekerja. Terimakasih mamak sudah menjaga kami dari kecil,” ungkap Risky haru.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id





























