Menuju konten utama

DPR Kritik Penggunaan Gajah dalam Pembersihkan Kayu Sisa Banjir

Pemanfaatan gajah dalam kasus ini tidak bisa dibenarkan, karena bukan untuk menangani konflik antara satwa dan manusia. 

DPR Kritik Penggunaan Gajah dalam Pembersihkan Kayu Sisa Banjir
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak yang ditunggangi mahout bersama petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan personel Polri membersihkan puing kayu yang menutupi jalan dan permukiman warga akibat bencana alam di Desa Meunasah Bie, Pidie Jaya, Aceh, Senin (8/12/2025). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/nz.

tirto.id - Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, menentang cara Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang mengerahkan sejumlah gajah untuk membersihkan puing-puing kayu yang terbawa banjir di permukiman warga di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Daniel menyoroti risiko keselamatan hingga kesejahteraan para gajah. Menurutnya, gajah merupakan salah satu satwa yang harus dilindungi.

“Komisi IV justru memandang penggunaan gajah untuk membersihkan puing kayu sebagai langkah yang kurang tepat. Gajah adalah satwa lindung, sehingga melibatkan mereka dalam pekerjaan berat pascabencana menimbulkan risiko terhadap keselamatan satwa serta bertentangan dengan prinsip konservasi yang menempatkan kesejahteraan hewan sebagai prioritas,” kata Daniel saat dihubungi, Rabu (10/12/2025).

Menurut Daniel, pemanfaatan gajah dalam kasus ini tidak bisa dibenarkan. Pasalnya, konteks pekerjaannya bukan untuk menangani konflik antara satwa dan manusia, sehingga semestinya bisa diselesaikan oleh alat mekanis alih-alih menggunakan hewan.

Daniel juga menilai sulitnya menjangkau alat berat di tengah kondisi bencana tak bisa dijadikan alasan untuk memanfaatkan hewan demi membereskan kayu-kayu bekas banjir.

Oleh karena itu, Komisi IV DPR RI mendorong pemerintah untuk mengevaluasi penanganan pascabencana, terlebih ketika tidak mempertimbangkan penggunaan alat berat untuk membereskannya.

“Alasan tidak digunakannya alat berat perlu dievaluasi, karena seharusnya pemerintah daerah maupun Kementerian Kehutanan dapat memastikan mobilisasi peralatan teknis,” katanya.

“Gajah harus mendapat perlindungan, kerusakan habitat gajah dan hutan terjadi karena ulah manusia dengan adanya illegal logging/pembalakan liar,” tambah dia.

Menurutnya, Komisi IV menekankan penanganan bencana ke depannya harus mengutamakan penggunaan peralatan yang aman bagi manusia dan satwa. Meski dalam situasi darurat, BKSDA Aceh tetap perlu bersikap bijaksana dalam melindungi satwa yang dilindungi, khususnya gajah.

Sebelumnya diwartakan, BKSDA Aceh mengerahkan empat ekor gajah jinak guna membantu pembersihan puing kayu di permukiman penduduk di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Gelondongan kayu masuk ke kawasan tersebut saat banjir bandang menerjang.

"Gajah terlatih yang kami bawa ini sebanyak empat ekor, dan semuanya dari PLG (Pusat Latihan Gajah) Saree," kata Kepala KSDA Wilayah Sigli, Hadi Sofyan, di Pidie Jaya pada Senin (8/12/2025).

Hadi membeberkan nama dari “keempat rekannya”. Masing-masing bernama Abu, Mido, Ajis, dan Noni. Keempat gajah tersebut ditunggangi oleh para mahot (pawang). Mereka membersihkan puing-puing kayu di permukiman penduduk Gampong Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Irfan Teguh Pribadi