Menuju konten utama

DPR Desak Pemda Tangani Polusi Debu Batu Bara di Kaliabang

Nurhadi mengatakan, debu ini dapat berdampak pada kesehatan masyarakat sehingga DLH Kota Bekasi perlu segera menanganinya.

DPR Desak Pemda Tangani Polusi Debu Batu Bara di Kaliabang
Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi. Dok. DPR RI/ Andri

tirto.id - Anggota Komisi IX DPR, Nurhadi, mendesak pemerintah daerah, terutama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, untuk memantau kualitas udara akibat debu batu bara di daerah Kaliabang, Bekasi, Jawa Barat, hingga memberikan sanksi tegas kepada pabrik yang melanggar. Ia pun mengungkapkan keprihatinan atas kondisi warga Kaliabang yang setiap hari hidup di tengah debu batu bara dari pabrik sekitar.

“Saya mendesak agar pemerintah daerah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), segera bertindak lebih tegas,” tegasnya dalam keterangan resmi, Kamis (20/11/2025).

“Termasuk melakukan pemantauan kualitas udara secara rutin, memberi sanksi kepada pabrik atau pihak-pihak yang melanggar, serta memastikan ada mekanisme perlindungan kesehatan bagi warga terdampak,” sambung Nurhadi.

Hal tersebut merupakan bentuk tindakan cepat dari pemerintah daerah untuk melindungi warga yang terdampak. Nurhadi mengatakan, debu ini dapat berdampak pada kesehatan masyarakat sehingga perlu segera diatasi.

“Saya sangat prihatin mendengar keluhan warga Kaliabang yang terus-menerus hidup di tengah debu batu bara dari pabrik sekitar. Ini bukan sekadar masalah kotoran, tetapi bisa berdampak serius pada kesehatan masyarakat,” kata Nurhadi.

Nurhadi mengingatkan, debu batu bara mengandung partikel halus dan zat toksik yang bisa mengiritasi saluran pernapasan, memicu batuk, sesak nap as, bahkan infeksi. “Banyak penelitian memang mengaitkan pajanan debu batu bara dengan gangguan pernapasan dan risiko penyakit paru kronis," tambahnya.

Seperti diketahui, warga Kaliabang, Kota Bekasi sudah sekitar satu bulan terakhir hidup berdampingan dengan debu hitam yang mengendap di lantai rumah, menempel di dinding, bahkan mengotori kulit mereka. Debu ini diduga berasal dari aktivitas pembakaran batu bara di pabrik sekitar, yang muncul dengan mengikuti arah angin dan kondisi cuaca. Saat hujan turun, debu menghilang sementara, namun kembali datang ketika cuaca kering dan angin bertiup. Beberapa warga melaporkan bahwa hampir seluruh bagian rumah mereka terkena debu, dari ubin, perabot, hingga dinding. Keluhan ini juga menimbulkan masalah pada kesehatan seperti iritasi kulit.

Terkait hal itu, Nurhadi mengatakan, dari sisi lingkungan, polusi ini juga merusak kualitas udara hingga tanah. Ia menyebut kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat sekitar.

“Polusi debu ini merusak kualitas udara, tanah, dan lingkungan pemukiman warga. Keberlanjutan hidup di daerah seperti Kaliabang harus dilihat dari sudut kesehatan warga bukan hanya dari sisi ekonomi pabrik,” ungkap Nurhadi.

Tak hanya itu, polusi juga bisa berdampak pada kualitas hidup masyarakat sekitar. “Polusi ini bisa menekan kualitas hidup masyarakat dan membebani sistem kesehatan di masa depan bila tidak ada tindak lanjut,” tuturnya.

“Belum lagi masalah sosial dan psikologi yang bisa mempengaruhi kehidupan warga setempat. Maka pemerintah, khususnya Pemda, harus segera mengatasi persoalan ini,” pungkas Nurhadi.

Baca juga artikel terkait POLUSI UDARA atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher