Menuju konten utama

Dokter Aci, Si Penyelamat di Garis Konflik Aceh Wafat karena Corona

Muzakir Husaini atau Aci dikenal sebagai dokter berdedikasi tinggi untuk kemanusiaan, tak pandang bulu menyelematkan orang di medan perang.

Dokter Aci, Si Penyelamat di Garis Konflik Aceh Wafat karena Corona
Ucapan Bela Sungkawa Muzakir Husaini. foto/istimewa/Pancacita pemerintah Aceh

tirto.id - Muzakir Husaini atau akrab dipanggil Aci, seorang dokter yang pernah bertugas di wilayah konflik Aceh meninggal dunia karena COVID-19 pada usia 52 tahun. Ia dikenal sebagai dokter yang berdedikasi tinggi untuk kemanusiaan, tak pandang bulu siapa yang ia selamatkan di medan perang.

Perjalanan hidup Muzakir Husaini dan perjuangan kemanusiaanya di garis konflik kemudian menarik perhatian beberapa penulis untuk menuliskan kisahnya. Voice of Human Rights News Center sebuah organisasi non-pemerintah yang didirikan pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Thalib pernah mewawancarainya pada 2007.

Pimpinan Voice of Human Rights News Center saat itu FX Rudy Gunawan, dengan Azhari Aiyub dan Helena Rea yang terlibat dalam penulisan.

Rudy bilang sosok dokter yang akrab dipanggil Aci ini dinilai sebagai oase dari cerita-cerita konflik dan politik di Aceh saat itu. “Di tengah konflik itu ada cerita soal kemanusiaan. Munculah nama dokter Aci,” kata dia kepada saya via telepon, Jumat (2/10/2020).

Sejak 2007 itu, Rudy berkontak intens dengan Aci. Selain di Aceh, mereka juga beberapa kali bertemu untuk wawancara. Cerita-cerita Aci selama berada di daerah konflik, menyelamatkan orang-orang terutama di Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara tempatnya bertugas sebagai dokter puskesmas, betul-betul membuat ia terkesan.

Aci bercerita satu waktu ia harus masuk hutan untuk menyelamatkan orang. Perjalannya ke hutan adalah perkara rumit di tengah konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia saat itu.

Sebagai dokter ia harus menyakinkan orang GAM bahwa ia hanya mau menolong. Sementara kepada tentara ia juga harus meyakinkan bahwa tugasnya hanyalah untuk menolong orang tanpa memandang latar belakang apalagi afiliasi politik.

Aci kerap keluar masuk hutan, mendatangi orang yang tak berani ke puskesmas untuk ia obati. Apa yang dilakukan itu bukan tanpa risiko. Ia bisa saja dicurigai sebagai anggota GAM oleh tentara Indonesia atau sebaliknya. Sehingga aktivitasnya sebetulnya adalah ancaman untuk nyawanya.

“Ia pernah dianggap mati. Dianggap tertembak karena ada nama Muzakir dalam daftar orang yang meninggal. Dia diberitakan tertembak entah oleh GAM atau TNI,” kata Rudy. Namun ternyata yang meninggal adalah Muzakir yang lain. Orang-orang kala itu lega karena tak kehilangan dokter penyelamat mereka.

Namun nyawanya berkali-kali berada di ujung tanduk. Suatu kali saat ia berada di puskesmas, tiba-tiba terjadi kontak senjata di area puskesmas. Peluru beberapa kali mengenai bangunan, lalu lalang di area puskesmas.

Rudy bilang, Aci menceritakan hal-hal yang menakutkan itu tanpa mendramatisir. “Puskesmas terjadi tembak menembak itu menakutkan, ketika dia membawa pasien melewati pos pemeriksaan dan hutan yang banyak orang GAM itu penuh ketakutan.” Namun menurut Rudy, Aci adalah orang yang telah menang melawan ketakutan-ketakutan itu.

Kisah hidup Aci sejatinya telah selesai ditulis. Rudy dan Aci saat itu sepakat untuk bersama-sama mencari dana agar dapat menerbitkan menjadi sebuah buku. Sayangnya hingga akhir hayatnya, buku itu belum juga terbit.

Menolong Tanpa Pandang Bulu

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh Safrizal Rahman mengenal Aci dengan sangat baik. Safrizal mengenal Aci sejak sebelum menjadi dokter pada 1991. Keduanya sama-sama menempuh studi di Fakultas Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Aci adalah kakak kelas Safrizal.

Meski dua tingkat lebih senior, tetapi Safrizal mengenang Aci sebagai kakak tingkat yang ramah berbaur dengan siapa saja tak peduli senior atau junior. “Kami dulu main sepak bola bareng, sering ketawa bareng.”

Semasa mahasiswa, Aci kerap menginisiasi acara-acara sosial mengumpulkan dana untuk beli obat dan peralatan sunatan. Ia mengajak mahasiswa lain, mengajari cara menyunat, lalu pergi ke daerah-daerah terpencil di Aceh bikin sunatan massal. Safrizal pernah dua kali diajak Aci bikin sunatan massal.

Setelah jadi dokter, keduanya juga sama-sama aktif di IDI. Safrizal menyaksikan bagaimana Aci menjadi dokter di saat-saat sulit, waktu itu konflik di Aceh masih memanas. Baku tembak antara kombatan GAM dan tentara Indonesia kerap terjadi.

“Masa Aceh konflik pun dia bantu orang, dia tidak takut. Jadi banyak bantu orang, waktu masyarakat susah, tidak berani ke RS dia mau dia akan bantu jiwa sosialnya tinggi,” katanya.

Kala itu masyarakat takut untuk hanya sekadar keluar rumah dan berobat. Mereka khawatir dituduh bagian dari GAM. Aci tak segan mendatangi mereka ke rumahnya.

Sementara Ilarius Wibisono mengenal Aci pada 2009. Saat itu Aci menjadi salah satu motor penggerak program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Program gagasan Irwandi Yusuf, seorang mantan petinggi GAM yang kemudian menjadi Gubernur Aceh pada 2007 usai GAM berdamai dengan pemerintah Indonesia.

Ilarius saat itu jadi technical assistant untuk pemerintah Aceh yang mengawal berjalannya program JKA. Ia banyak bekerja dan berinteraksi dengan Aci sampai sekitar 2012. Aci dikenalnya sebagai sosok yang supel, ia banyak bercerita soal latar belakang dan kisahnya selama menjadi dokter di masa konflik.

“Dia tak memandang siapa yang dia tolong. Kalau ada aparat yang datang dia layani, kalau ada masyarakat yang datang atau menjemputnya butuh pertolongan juga ia layani. Tanpa memandang dia bagian dari GAM atau bukan,” kata Ilarius kepada saya melalui telepon.

Puskesmas tempat Aci bertugas bersebelahan dengan pos militer, tak banyak orang yang berani datang berobat ke puskesmas. Suatu waktu ia pernah dijemput malam-malam di rumahnya untuk menolong seseorang yang sedang sakit.

“Kalau niat jemput berarti orang butuh pertolongan saya,” kata Ilarius menirukan cerita Aci. Ia tak berpikir apakah mereka simpatisan GAM atau bukan. “Aparat menjulukinya dokter GAM karena ia sering juga dijemput untuk mengobati orang GAM.”

Gemar Bermain Bola

Aci lahir di Lhokseumawe, orang tuanya bekerja di sebuah perusahan gas. Aci merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Ia memiliki empat adik perempuan, dua adik laki-laki, dan seorang kakak laki-laki bernama Fakhri Husaini, mantan pemain dan pelatih sepak bola tim nasional Indonesia.

Aci menuntaskan harapan orang tuanya setelah sang kakak tak lulus ujian masuk fakultas kedokteran dan berkarier sebagai pemain sepak bola. Namun sama seperti Fakhri, Aci juga gemar bermain sepak bola.

“Aci kalau enggak jadi dokter dia bakal jadi pemain bola hebat. Karena punya bakat sepak bola dan badanya lebih bagus lebih tinggi dari saya,” kata Fakhri.

Namun jika keduanya bermain bersama dalam satu tim, Fakhri di posisi gelandang dan Aci posisi bek, tak pernah bisa bermain bagus. Permainan kakak beradik ini jadi amburadul karena keburu emosi.

“Jadi kalau saya dihantam orang dia emosi. Begitu juga dia kalau dia sudah dikasari striker saya juga balik emosi. Jadi saya bilang ke dia, kita enggak bisa satu tim,” katanya.

Namun bakat bermain bolanya tak ia seriusi, sebab ia fokus dengan studinya hingga akhirnya ia menjadi dokter, bekerja di puskesmas, di rumah sakit PT Arun hingga terakhir di bekerja di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Lhokseumawe.

Dua pekan sebelum meninggal, Fakhri dapat kabar Aci positif COVID-19. Setelah dapat kabar itu dia memastikan kondisi adiknya melalui sambungan telepon. “Dia bilang tidak sesak nafas. Tapi saya merasakan ketika bicara dia agak memaksakan diri untuk menarik nafas.”

Selang sehari menelpon, Aci yang mulanya isolasi mandiri di Lhokseumawe kemudian ia dibawa ke rumah sakit di Banda Aceh. Tes swab kedua Aci dinyatakan negatif COVID-19, tetapi ia malah akhirnya dirawat di ICU dengan mengenakan alat bantu pernafasan.

Ia tak pernah tahu adiknya itu punya penyakit bawaan. Kepadanya ia tak pernah mengeluhkan sakit tertentu. Kondisinya memburuk, Aci kemudian kembali dites swab pada 28 dan 30 September 2020 dan hasilnya kembali negatif.

Namun kondisinya malah semakin memburuk pada 1 Oktober 2020. “Saya dapat kabar kalau Aci harus cuci darah. Tapi tidak sampai lima menit setelah mendengar kabar itu Aci meninggal,” kata Fakhri.

Berdasarkan keterangan keluarga, dokter Aci tidak dimakamkan dengan protokol Covid-19 karena berdasarkan hasil tes swab terakhir sebanyak dua kali, ia sudah dinyatakan negatif.

Dari seberang pulau Kalimantan, Fakhri hanya bisa mengungkap duka di depan jenazah adiknya. Ia terngiang janji membelikan kaos besar yang untuk tubuh gemuk adiknya yang belum ia tunaikan sampai akhir hayat sang adik.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan lainnya dari Irwan Syambudi

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Riyan Setiawan, Irwan Syambudi & Riyan Setiawan
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz