Menuju konten utama

Dirut PT PAL Sebut Potensi Pasar Industri Kapal Capai Rp1.522 T

Kebutuhan akan datang dari pendukung tiga sektor ketahanan nasional yang dicanangkan Prabowo: ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan teritorial.

Dirut PT PAL Sebut Potensi Pasar Industri Kapal Capai Rp1.522 T
Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod dalam Diskusi Strategis Industri Maritim di Jakarta, Jumat (27/2/2026). tirto.id/Nanda Aria Putra

tirto.id - Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengungkapkan besarnya potensi pasar industri galangan kapal nasional. Ia memproyeksikan nilai pasar pembangunan kapal di Indonesia mencapai Rp1.522 triliun dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun mendatang.

Angka fantastis tersebut, menurut Kaharuddin, berasal dari kebutuhan pendukung tiga sektor ketahanan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto: ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan teritorial.

“Dari tiga ketahanan ini kita melihat 10-15 tahun ke depan, berapa potensi project yang akan muncul. Ketahanan teritorial akan memunculkan kebutuhan 260 kapal perang sekelas fregat atau korvet,” ujar Kaharuddin dalam Diskusi Strategis Industri Maritim di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Ia menambahkan, jika dihitung dengan kapal perang tanpa awak, jumlah kebutuhan alutsista laut tersebut akan berlipat ganda. Selain sektor pertahanan, Kaharuddin merinci kebutuhan besar di sektor ketahanan pangan dan energi.

Berdasarkan visi Presiden untuk mengembalikan kejayaan maritim Indonesia, terdapat rencana pembangunan 20.000 kapal ikan serta ratusan kapal pendukung energi dan logistik.

“Di Ketahanan Energi, ada 588 kapal yang akan dibangun. Saat ini saja, Pertamina International Shipping akan membangun 105 kapal tanker untuk kebutuhan 5 tahun ke depan. Sementara PLN membutuhkan 20 FSRU (Floating Storage Regasification Unit),” paparnya.

Sektor konektivitas maritim melalui BUMN seperti Pelni dan ASDP juga diproyeksikan membutuhkan peremajaan dan penambahan armada sebanyak 25 kapal dalam lima tahun mendatang.

Untuk menangkap peluang tersebut agar tidak lari ke luar negeri, Kaharuddin menyebut bahwa Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) telah mengeluarkan kebijakan strategis. Seluruh kebutuhan pemesanan kapal baru dari BUMN kini wajib dipesan melalui PT PAL Indonesia.

“Januari kemarin secara resmi Danantara mengumumkan bahwa semua project harus diberikan kepada PT PAL Indonesia. Ini sebenarnya perintah Presiden,” tegasnya.

Namun, Kaharuddin mengingatkan bahwa penugasan ini bukan sekadar untuk meningkatkan pendapatan perusahaan, melainkan sebuah tanggung jawab besar untuk membangun kemandirian industri dalam negeri.

Ia menyoroti fenomena masa lalu di mana persaingan tidak sehat antar-galangan kapal lokal justru membuat 90 persen proyek lari ke luar negeri.

“Peluang yang begitu besar tidak akan mungkin [tercapa] kalau kemudian kita masih berjalan seperti kondisi kemarin-kemarin. Kalau potensi ini kita jalankan dengan cara persaingan tidak sehat, ini hanya akan lari ke luar negeri,” ucap Kaharuddin.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen industri perkapalan untuk menyatukan langkah dan berkolaborasi.

Sebagai bagian dari strategi penguatan industri, proses pembentukan holding galangan kapal BUMN terus dikebut. Kaharuddin memastikan proses penggabungan atau merger ini ditargetkan selesai pada semester pertama tahun 2026, sebagaimana disampaikan oleh Wakil Kepala Danantara, Dony Oskaria.

“Kita sedang bekerja untuk menyatukan semuanya. Termasuk menyelamatkan insan-insan perkapalan yang ada di galangan kapal BUMN lain untuk bisa terus berkarya dan memberikan yang terbaik,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait GALANGAN KAPAL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Alfons Yoshio Hartanto