tirto.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar sejumlah program prioritas untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia demi melaksanakan amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2025. Salah satunya, digitalisasi pembelajaran.
Program ini didesain untuk mendorong pemerataan mutu pendidikan berbasis teknologi melalui penguatan ekosistem pembelajaran digital yang menyeluruh, inklusif, dan berkelanjutan. Selain itu, program ini juga menekankan pentingnya menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, dan efektif agar peserta didik dapat lebih mudah memahami materi serta termotivasi untuk terus belajar.
Pendekatan ini menjadi krusial dalam menjawab tantangan learning loss yang masih dirasakan pascapandemi, ketika banyak siswa mengalami penurunan capaian belajar akibat terbatasnya interaksi, akses, dan kualitas pembelajaran daring yang tidak optimal.
Dalam program ini, Kemendikdasmen menyalurkan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif yang menggabungkan fungsi monitor komputer, papan tulis digital, dan proyektor. Pada tahun 2025, perangkat ini dibagikan ke 288 ribu sekolah untuk menunjang praktik pembelajaran berbasis digital.
Mendukung Pembelajaran yang Menarik dan Menyenangkan
SDN 2 Purwokerto Wetan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, termasuk salah satu sekolah yang telah memanfaatkan IFP untuk aktivitas pembelajaran. Sekolah ini menerima satu unit IFP beserta laptop dan hard disk pada Mei 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional.
“Bukan hanya murid yang senang, tetapi guru-guru juga merasa senang karena IFP ini, selain membantu kami dalam menyampaikan materi secara langsung, baik bisa menampilkan video, gambar atau animasi dalam satu perangkat, kami juga otomatis tidak direpotkan,” kata Rizky Nursifa, guru yang memanfaatkan IFP untuk pembelajaran di SDN 2 Purwokerto Wetan, pada Rabu (15/10/2025) lalu.
Penggunaan IFP memungkinkan aktivitas pembelajaran menjadi lebih interaktif. Bagi Rizky, alat ini membantunya menyampaikan materi secara lebih menarik, terutama karena fitur-fiturnya menyediakan visualisasi. Secara tidak langsung, dia juga dituntut untuk lebih kreatif dalam menyusun materi pembelajaran.
Pendidik berusia 34 tahun ini juga mengaku senang karena kelasnya menjadi lebih hidup. Banyak muridnya lebih antusias mengikuti pembelajaran ketika IFP digunakan.
Guru mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti itu menceritakan bagaimana siswanya begitu bersemangat mengikuti kelasnya. Mereka berebut maju demi mempraktikkan penggunaan IFP. “Mereka senang banget. Setiap pelajaran saya, (mereka) minta: ‘Bu Guru kapan ke ruang sananya?’”
Layar berukuran 75 inci tersebut kini ditempatkan di ruang khusus serbaguna SDN 2 Purwokerto Wetan. Pemanfaatannya masih memakai sistem penjadwalan bergilir untuk masing-masing kelas.
Rizky menjadi satu-satunya pengajar dari SDN 2 Purwokerto Wetan yang berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Bimbingan Teknis (bimtek) penggunaan IFP pada awal Oktober 2025. Setelah mengikuti bimtek, dia melatih guru-guru lain menggunakan fitur-fitur IFP.
Ia bersyukur rekan-rekannya tidak kesulitan memahami teknis penggunaan alat ini. “Teman-teman [guru] sudah bisa, sih. Walaupun kadang memang butuh penyesuaian, ya. Karena kadang juga alatnya enggak langsung respons,” ujar Rizky.
Dengan adanya perangkat digital semacam itu, mau tak mau, setiap guru juga harus bisa menyesuaikan diri dan kreatif. Rizky pun kerap mengajari guru lain merancang materi memakai aplikasi desain kreatif. Ia mengaku sering memanfaatkan fitur IFP untuk menayangkan video pembelajaran dari YouTube atau mengadakan kuis interaktif yang disediakan beberapa situs web.
Papan interaktif ini juga menunjang pembelajaran bagi sekolah difabel. Misalnya di SLB Negeri 1 Jakarta. Dedeh Kurniasih selaku kepala sekolah mengungkapkan bahwa papan interaktif tersebut sesuai dengan harapannya untuk mendukung pembelajaran siswa berkebutuhan khusus.
"Harapannya, setelah SLB Negeri 1 mendapatkan papan interaktif, guru lebih semangat, lebih inovatif lagi untuk memberikan materi pembelajaran,” kata Dedeh dalam sebuah wawancara dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK.
Dia juga berharap, dengan adanya IFP para murid bisa lebih terlibat dalam pembelajaran yang menyenangkan.
Saras, salah satu orang tua murid dari SLB Negeri 1 Jakarta, mengaku senang. Ia mulai beradaptasi dengan pembelajaran digital yang diikuti anaknya. Menurutnya, anaknya bisa jauh lebih fokus dengan adanya fasilitas pembelajaran digital.
"Terus eye-catching ya, anak-anak dengan sound-nya happy. Malah kalau sudah belajar di situ [di kelas yang disediakan dekat ruang rapat guru] itu gak mau keluar,” kata Saras.
Bagi murid difabel netra, papan interaktif membantu mereka mengakses materi dengan adanya audio dan video. Layar tersebut pun aksesibel dengan adanya fitur pembaca layar.
Bagi guru, alat tersebut bisa membantu dalam memantau atau memonitoring aktivitas di masing-masing perangkat murid melalui fitur berbagi layar.
"Khususnya pembelajaran tunanetra ya, bagi yang sudah menyelami di sekolah luar biasa tunanetra itu pasti pembelajaran rata-rata tidak membutuhkan papan. Dengan adanya papan interaktif, akhirnya sekaranglah inovasinya," ungkap Fachmi Budiansyah, guru SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta.
Salah seorang siswa tunanetra bernama Raka dari SLB Negeri Trituna Subang bersyukur dengan adanya papan interaktif tersebut. Ia mengaku bisa mengakses materi pembelajaran dengan lebih mudah.
"Kita jadi terbayang, mengimajinasikannya. Jadi makin seru belajar, makin menarik. Dengan IFP itu, baik itu tunanetra ataupun jenis [disabilitas] lainnya, semuanya terbantu," kata Raka, dalam sebuah cuplikan wawancara dengan Kemendikdasmen.
Di sekolah lain, kehadiran IFP memperkaya ragam metode pembelajaran. Seperti halnya di SMPN 1 Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang menerima distribusi perangkat IFP pada Oktober 2025.
“Dengan flat panel ini, [pembelajaran] lebih interaktif sehingga siswa misalnya disuruh maju, mereka bisa langsung mengerjakan sendiri,” kata Kepala SMPN 1 Moyudan, Suhartono, saat diwawancarai di sekolahnya pada Jumat (17/10/2025).
“Demikian pula guru juga bisa lebih improvisasi menciptakan aplikasi yang lain atau mungkin mencari [materi] secara online, kemudian disampaikan kepada siswa,” lanjut dia.
Menurut Suhartono, sejak pandemi COVID-19, guru-guru di sekolahnya memang sudah akrab dengan perangkat digital semacam laptop dan proyektor. Karena itu, proses adaptasi dalam menggunakan IFP dapat berlangsung relatif cepat.
“Untuk bapak-ibu guru, dengan adanya alat ini sangat senang sekali ya, terutama guru-guru yang muda,” ujarnya.

Di SMPN 1 Moyudan, IFP kini ditempatkan di salah satu ruang kelas serbaguna agar bisa dimanfaatkan oleh beberapa guru secara bergantian. Sekolah juga telah memiliki jaringan internet stabil untuk mendukung penggunaan perangkat tersebut.
Namun, Suhartono menegaskan, guru tetap memiliki peran kunci dalam pembelajaran. Dia menilai digitalisasi tidak mungkin sepenuhnya menggantikan media lama. Guru tetap memegang peran penting sebagai pendidik, pengajar, dan pembimbing yang mendampingi siswa dalam memanfaatkan teknologi untuk memahami pengetahuan baru.
“Tidak mungkin anak bisa belajar sendirian,” ujar dia menegaskan.
Peningkatan dan Pemerataan Mutu Pendidikan
Digitalisasi Pembelajaran menjadi bagian dari upaya Kemendikdasmen mengerek mutu pendidikan secara merata di sekolah-sekolah Indonesia.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengatakan bahwa pemerataan akses pendidikan, kesenjangan mutu antar-sekolah, dan pembentukan karakter generasi muda di era kemajuan internet menjadi tiga tantangan utama yang harus lekas ditangani.
Kemendikdasmen berusaha menjawab tiga tantangan itu dengan sejumlah program prioritas. Berbagai program tersebut seperti revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, dan peningkatan kompetensi guru.

"Secanggih apa pun teknologi, guru tetaplah agen peradaban. Karena itu, kualitas guru harus menjadi prioritas," kata Menteri Mu’ti saat menyampaikan kuliah umum di Lemhannas RI akhir September lalu.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq mengatakan, IFP diharapkan membuat peserta didik lebih aktif, terstimulasi, dan termotivasi ketika belajar. Selain bisa menayangkan gambar, suara, dan video, perangkat IFP memungkinkan pembelajaran menjadi lebih interaktif dan menarik bagi murid.
"Dengan teknologi ini, anak-anak di seluruh daerah di Indonesia, bisa mengakses konten pembelajaran yang sama dengan anak-anak di kota besar," ujar Wamen Fajar.
Namun, digitalisasi pembelajaran bukan perkara menghadirkan perangkat belaka. Lebih dari itu, program ini didesain untuk mewujudkan ekosistem pembelajaran berbasis digital yang mencakup teknologi, lingkungan belajar kondusif, ketersediaan konten, sekaligus strategi pedagogis yang berkualitas.
"Kata kuncinya adalah konten pembelajaran yang sama untuk semua anak Indonesia. Namun, keberhasilannya tetap tergantung pada kompetensi pedagogis digital guru. Jangan sampai perangkat ini hanya jadi hiasan. Guru tetap memegang peran utama dalam menghidupkan suasana kelas," terang Fajar.
Fajar mengingatkan, perangkat berteknologi digital dapat bermanfaat jika digunakan dengan benar, tetapi berisiko pula memicu efek negatif ketika penggunaannya tidak disertai pendampingan yang tepat. Contoh efek negatif itu adalah paparan layar yang kelewat lama pada anak-anak sehingga mengurangi interaksi fisik dan motorik.
Karena itu, digitalisasi pembelajaran dibarengi dengan pelatihan guru. Hingga kini, Kemendikdasmen telah menggelar bimbingan teknis (bimtek) secara daring maupun luring untuk melatih ribuan guru menggunakan IFP, mengembangkan metode pengajaran sesuai karakteristik jenjang sekolah, serta menerapkan metode pembelajaran yang inklusif dan interaktif.
Selain bimtek daring/luring, ada juga webinar dengan berbagai tema seperti pemanfaatan perangkat IFP, konten digital interaktif, hingga perawatan perangkat. Bimtek dan webinar ini digelar di berbagai daerah sebelum penyaluran IFP ke sekolah.
Akademisi sekaligus ahli bidang pendidikan yang juga Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof. Suyanto menilai, digitalisasi pembelajaran adalah salah satu unsur penting dalam upaya jangka panjang untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Dia menjelaskan, pendidikan harus terus mengikuti perkembangan zaman. Di era internet, digitalisasi menjadi kebutuhan tak terelakkan. Hanya saja, pembaruan dari segi perangkat pembelajaran saja memang tidak cukup.
Penggunaan perangkat digital menuntut pendekatan baru pula dalam penyampaian materi pelajaran. Apalagi saat ini ada kebutuhan yang menuntut guru menguasai berbagai metode inovatif dan kreatif dalam mengajar.
"Guru harus melepaskan cara-cara lama dan mulai menerapkan pendekatan baru," kata Suyanto.
Dia mengakui upaya meningkatkan sekaligus memeratakan mutu pendidikan di Indonesia bukan urusan gampang. Selain memerlukan upaya berkelanjutan, dimensi persoalan pendidikan di Indonesia kompleks, dan mencakup pula aspek-aspek non-struktural seperti kultur.
Mengingat hal itu, dia berpendapat perlu ada perbaikan sistematis secara nasional baik untuk sarana-prasarana maupun kualitas guru. Selain pembaruan perangkat, peningkatan kapasitas pedagogis dari para guru menjadi kebutuhan penting.
Meningkatkan kemampuan mengajar jutaan guru menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi kementerian saat ini. Suyanto mengatakan Indonesia perlu menengok langkah negara seperti Singapura yang mengalokasikan waktu 100 jam pelatihan per tahun untuk meningkatkan kualitas guru.
"Jadi, itu [peningkatan kualitas guru] aspek yang harus segera dipenuhi," ujar dia.
Menurut Suyanto, digitalisasi pembelajaran dapat mendukung implementasi pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam) yang diinisiasi oleh Kemendikdasmen era Menteri Mu'ti. Dengan begitu, program ini akan mendorong transformasi pembelajaran di sekolah-sekolah Indonesia.
Masuk tirto.id




































