Menuju konten utama
Edusains

Bagaimana Tubuh Merespons Sepak Bola dengan Tensi Tinggi?

Ketegangan saat menyaksikan pertandingan sepak bola dengan tensi tinggi berpotensi membuat lonjakan kinerja organ kardiovaskular, dan itu berbahaya.

Bagaimana Tubuh Merespons Sepak Bola dengan Tensi Tinggi?
Penyerang Argentina bernomor punggung 10, Lionel Messi, dan gelandang Inggris bernomor punggung 10, Jude Bellingham, berebut bola dalam pertandingan semifinal turnamen sepak bola Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 15 Juli 2026. Jewel SAMAD / AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Piala Dunia 2026 tak lama lagi akan berakhir. Hingga artikel ini ditulis, dua negara sudah memastikan diri sebagai finalis.

Tidak semua pertandingan sepak bola diciptakan setara. Pertandingan fase grup yang tidak lagi menentukan tentu saja punya bobot berbeda dengan final. Kita bisa saja menonton laga fase grup yang tak lagi menentukan sambil lalu. Akan tetapi, mustahil untuk tidak menyaksikan laga final dengan penuh harap cemas.

Pertanyaannya, apa sebenarnya yang terjadi pada kita, secara fisiologis, ketika menyaksikan pertandingan-pertandingan penuh gengsi dan pertaruhan?

Semua berawal dari apa yang terjadi di otak. Sebuah studi pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) yang terbit di jurnal Radiology meneliti 61 penggemar sepak bola pria Chile berusia 20 hingga 45 tahun antara April 2019 dan Oktober 2022. Para partisipan dikelompokkan berdasarkan skala Football Supporters Fanaticism Scale menjadi penonton biasa, penggemar, atau fanatik, lalu otak mereka dipindai sembari menyaksikan 63 rekaman gol dari tim favorit, tim rival, atau tim netral.

Hasilnya, ketika tim favorit mencetak gol kemenangan atas rival, yang berarti pertandingan dengan tensi tinggi, wilayah otak yang menyala adalah ventral striatum, korteks prefrontal medial, dan fusiform face area, tiga area yang berkaitan dengan pemrosesan hadiah (reward) dan penguatan identitas sosial. Sebaliknya, saat tim favorit kalah, yang aktif adalah jaringan mentalisasi, area visual, dan precuneus, disertai dengan penurunan aktivitas di korteks singulat anterior dorsal, yang menandakan perubahan dalam kontrol kognitif dan emosi.

Dengan kata lain, otak kita memperlakukan kemenangan tim favorit sebagai kemenangan pribadi, begitu pula dengan kekalahan. Skala psikologis fenomena ini sepadan dengan skala turnamennya.

Piala Dunia adalah turnamen terbesar, terpopuler, dan paling bergengsi. Meski yang menjadi finalis hanya dua negara, bukan berarti mereka yang tidak berasal dari Spanyol dan Argentina abai begitu saja.

Di saat-saat seperti ini, akan banyak penggemar sepak bola yang melakukan hate watching untuk menyaksikan tim yang paling mereka benci merasakan kekalahan. Sebagai tambahan informasi, tim nasional yang kini paling dibenci warganet seluruh dunia adalah Argentina, menyusul berbagai kontroversi yang menyertai langkah mereka ke partai puncak.

Itu artinya, para penggemar sepak bola akan memperlakukan babak final Piala Dunia 2026 seperti halnya menyaksikan tim kesayangan mereka sendiri. Otak mereka pun akan bekerja dengan cara yang sama seperti otak para penggemar sepak bola di Chile tadi. Nah, dari situ, reaksi otak tersebut kemudian diteruskan ke seluruh tubuh lewat sistem saraf simpatik, atau yang lebih dikenal awam sebagai mekanisme fight-or-flight.

Jude Bellingham

Gelandang Inggris bernomor punggung 10, Jude Bellingham, bereaksi setelah kalah dalam pertandingan semifinal turnamen sepak bola Piala Dunia 2026 melawan Argentina di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 15 Juli 2026. PATRICIA DE MELO MOREIRA / AFP

Reaksi Tubuh

Menurut Dr Gbolagade Akintomide, psikiater konsultan di Cygnet Healthcare, secara fisiologis tubuh kita melepaskan reaksi simpatik yang diatur adrenalin untuk mempersiapkan diri menghadapi apa yang otak anggap sebagai tantangan, ancaman, atau kekhawatiran. Ini termanifestasi dengan detak jantung yang meningkat, napas yang memburu, dan keringat yang bercucuran.

Selain adrenalin, tubuh juga melepas kortisol, hormon stres yang memastikan energi tersedia dengan melepas glukosa dari hati sekaligus membantu koordinasi motorik. Sayangnya, lonjakan kortisol ini juga bisa memengaruhi suasana hati kita secara drastis. Akintomide menjelaskan bahwa kortisol bisa memicu mood rendah pada orang yang sedang sedih, kebahagiaan berlebih pada orang yang terlalu bersemangat, dan pada sebagian orang bahkan memicu agresi.

Dr William Zoghbi, kepala kardiologi di Houston Methodist Hospital, punya penjelasan senada dari sisi kardiovaskular. Menurutnya, kegembiraan, antisipasi, dan ketidakpastian selama pertandingan bisa meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, dan ini adalah respons yang sepenuhnya normal. Mekanisme ini, kata Zoghbi, adalah warisan evolusi yang sama dengan yang membantu nenek moyang kita menghadapi bahaya sungguhan, meski tubuh kita sebenarnya tidak bisa membedakan antara ancaman nyata dan drama di lapangan hijau.

Seberapa nyata efek ini bisa dirasakan, wartawan kesehatan BBC,James Gallagher, pernah mengujinya langsung pada dirinya sendiri. Ditemani Prof Damian Bailey dan mahasiswa doktoralnya, Danny Walmsley, dari University of South Wales, Gallagher dipasangi berbagai alat ukur, mulai dari probe ultrasound di kepala untuk mengukur aliran darah ke otak hingga sampel air liur untuk mengecek kadar kortisol, sembari menyaksikan laga pembuka Inggris di Piala Dunia 2026.

Sebelum pertandingan dimulai, detak jantung Gallagher berada di kisaran 54 kali per menit dengan tekanan darah 115/75. Begitu Harry Kane mencetak gol dari titik penalti, detak jantung Gallagher melonjak ke 69 kali per menit hanya dalam hitungan setengah detik. Tekanan darahnya pun naik, dan pola napasnya berubah hingga terjadi sedikit hiperventilasi, yang menurut Bailey turut menurunkan aliran darah ke otak Gallagher. Kadar kortisol dalam air liurnya juga naik, dari 4,19 nmol/L sebelum laga menjadi 5,15 nmol/L begitu peluit akhir dibunyikan.

Untungnya bagi Gallagher, responsnya tergolong sehat. Bailey menyebut reaksi stres sang wartawan lebih mirip olahraga ringan. Tubuhnya bereaksi, lalu pulih dengan cepat. Namun, Bailey mengingatkan tidak semua orang seberuntung itu. Pada orang yang lebih sensitif terhadap stres, detak jantung bisa melonjak 50 hingga 60 kali per menit. Lalu, pada mereka yang punya riwayat penyakit jantung atau otak, kondisi ini dalam situasi ekstrem bisa memicu serangan jantung karena pembuluh darah menyempit dan darah mengental seperti madu. Pada sebagian orang lain, perubahan pola napas bahkan bisa mengubah aliran darah ke otak hingga menyebabkan pingsan.

Kalau eksperimen BBC hanya melibatkan satu orang, sebuah studi dari Bielefeld University di Jerman mencoba mengukur fenomena serupa dalam skala yang jauh lebih besar. Peneliti memantau 229 penggemar klub Arminia Bielefeld lewat jam tangan pintar Garmin selama 12 minggu, mulai 14 Mei hingga 31 Juli 2025. Periode tersebut dipilih karena pada 24 Mei 2025 Arminia Bielefeld menjalani sebuah pertandingan bersejarah, untuk kali pertama mereka tampil pada laga final DFB-Pokal (Piala Jerman). Menghadapi runner-up Bundesliga, VfB Stuttgart, Bielefeld yang bermain di Liga 3 jelas berstatus sebagai underdog.

Hasil temuan Universitas Bielefeld itu pun konsisten dengan pengalaman Gallagher. Rata-rata level stres partisipan pada hari final mencapai 44,2 dari skala 0 hingga 100, atau meningkat sekitar 41 persen dibanding rata-rata hari biasa yang hanya 31,3. Detak jantung rata-rata pada hari final pun tercatat 78,7 kali per menit, lebih tinggi dibanding hari-hari biasa dalam periode observasi yang sama, yaitu 70,9 kali per menit.

Lokasi menonton pun ternyata memengaruhi seberapa besar reaksi tubuh seseorang. Fans yang menonton langsung di stadion memiliki detak jantung rata-rata 94,2 kali per menit, jauh lebih tinggi dibanding yang menonton lewat televisi (79,4 kali per menit) atau di acara nonton bareng (73,8 kali per menit). Begitu Arminia Bielefeld mencetak gol pertama mereka, detak jantung fans di stadion bahkan sempat melonjak hingga rata-rata puncak 108 kali per menit.

Konsumsi alkohol pun memperkuat efek ini. Partisipan yang mengaku minum alkohol selama pertandingan memiliki detak jantung rata-rata 5,3 persen lebih tinggi sepanjang laga, 7,4 persen lebih tinggi di babak kedua, dan 11,7 persen lebih tinggi setelah gol pertama Arminia Bielefeld, dibanding yang tidak minum.

Salah satu temuan paling menarik dari studi Bielefeld ini justru muncul di menit-menit akhir pertandingan. Meski Arminia Bielefeld akhirnya kalah 4-2 dan peluang comeback mereka secara matematis nyaris nol menurut odds taruhan, detak jantung fans tetap melonjak tajam begitu tim mereka mencetak dua gol di menit ke-84 dan ke-87. Ini menunjukkan bahwa tubuh kita merespons bukan cuma peluang objektif untuk menang, melainkan juga emosi seperti harapan, kebanggaan, dan keterikatan pada tim.

Kylian Mbappe

Penyerang Prancis bernomor punggung 10, Kylian Mbappe, dalam pertandingan semifinal turnamen sepak bola Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol di Stadion Dallas, Arlington, pada 14 Juli 2026. (Foto oleh FRANCK FIFE / AFP)

Menahan Diri dan Hindari Alkohol

Bagi kebanyakan orang yang sehat, lonjakan-lonjakan fisiologis semacam ini tidak berbahaya dan mereda dengan sendirinya, seperti kata Zoghbi. Namun bagi mereka yang punya riwayat penyakit jantung, situasinya bisa berbeda. Zoghbi memperingatkan adanya risiko langka namun nyata bernama kardiomiopati stres, yakni kondisi ketika jantung mengalami gangguan serius akibat kegembiraan atau stres berlebih, terutama pada orang yang tidak menyadari mereka memiliki kondisi ini.

Risiko semacam ini bukan cuma teori. Sebuah studi yang terbit di New England Journal of Medicine meneliti kejadian darurat kardiovaskular di Muenchen dan sekitarnya selama Piala Dunia 2006 di Jerman. Studi tersebut berkesimpulan bahwa menonton pertandingan sepak bola yang penuh tekanan bisa meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular akut, termasuk serangan jantung dan aritmia bergejala berat hingga lebih dari dua kali lipat. Dan peningkatan ini berlaku baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Studi itu juga mencatat bahwa orang dengan riwayat penyakit jantung koroner mengalami peningkatan risiko yang jauh lebih besar dibanding orang tanpa riwayat tersebut. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa yang memicu kejadian jantung bukanlah kemenangan atau kekalahan sebuah pertandingan, melainkan intensitas dan ketegangan saat menyaksikannya. Sebab, peningkatan kejadian darurat kardiovaskular justru meningkat setelah Jerman menang adu penalti melawan Argentina di perempat final, bukan ketika kalah dari Italia di semifinal.

Efek pertandingan sepak bola bahkan menjalar hingga ke luar tubuh individu, yakni ke ranah sosial. Akintomide mengingatkan bahwa lonjakan kortisol yang memengaruhi suasana hati bisa berujung pada kebiasaan yang tidak sehat, mulai dari minum alkohol berlebihan hingga berjudi, sebagai cara mengatasi kekecewaan pascapertandingan.

Dampak sosial paling mengkhawatirkan datang dari sisi kekerasan dalam rumah tangga. Sebuah penelitian yang terbit di Journal of Research in Crime and Delinquency pada 2014 menemukan bahwa insiden kekerasan dalam rumah tangga di Inggris melonjak 38 persen ketika Timnas Inggris kalah, dan tetap naik 26 persen bahkan ketika Timnas Inggris menang.

Untungnya, ada beberapa cara sederhana untuk mengelola gejolak fisiologis ini tanpa harus berhenti menikmati sepak bola. Akintomide menyarankan pengenalan terhadap pemicu pribadi, apakah kita termasuk orang yang larut dalam kesedihan berkepanjangan usai kekalahan atau yang mudah tersulut amarah, sebagai langkah awal mengelola reaksi emosional. Dia juga menganjurkan membatasi perdebatan di media sosial usai pertandingan karena hal itu justru bisa memperburuk suasana hati, serta menyarankan aktivitas alternatif seperti berjalan kaki, berolahraga, mendengarkan musik, atau bermeditasi sebagai penyeimbang.

Sementara itu, baik Zoghbi maupun Bailey sama-sama menyarankan pengurangan konsumsi alkohol saat menonton pertandingan yang menegangkan, karena alkohol bisa memperparah respons stres tubuh yang sudah cukup tinggi dengan sendirinya. Menjaga pola tidur juga penting, mengingat laga-laga krusial kerap digelar larut malam dan kecemasan bisa mengganggu waktu istirahat kita.

Jadi, ketika nanti Argentina bertemu dengan Spanyol di final Piala Dunia 2026, sadarilah bahwa tubuh kita sebenarnya sedang menjalani semacam eksperimen fisiologis sendiri di depan layar. Detak jantung akan naik, telapak tangan akan berkeringat, dan kortisol akan mengalir deras. Selama kita cukup sehat dan cukup bijak menahan diri dari alkohol serta amarah berlebihan, reaksi ini sebenarnya cuma bukti bahwa kita masih benar-benar hidup dan peduli pada permainan yang kita cintai.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi