tirto.id - Bendesa Adat Kuta, Komang Alit Ardana, mengungkap bahwa pesta kembang api dilarang untuk diselenggarakan di Pantai Kuta saat malam pergantian tahun. Larangan tersebut tertuang dalam Perarem (Peraturan Desa) Adat Kuta dengan dua bahasa, Indonesia dan Inggris, serta berlaku baik bagi hotel, jalan, maupun pemukiman yang ada di sekitar wilayah Pantai Kuta.
"Saat ini tidak banyak yang mengajukan izin. Hanya Discovery Kartika Plaza yang mengajukan izin untuk itu [menyalakan kembang api]," ungkap Alit di Kuta, Selasa (23/12/2025).

Untuk pihak-pihak yang telah memperoleh izin dari Desa Adat Kuta, kembang api hanya boleh dinyalakan pada pukul 00.00 WITA atau tepat pada pergantian tahun. Kembang api tersebut hanya akan dinyalakan selama 5 menit, lalu harus dipadamkan.
"Petasan memang kami larang. Keseharian ini memang kami larang. Dari desa sudah menyebarkan surat edaran untuk melarang peledakan kembang api dan petasan di wilayah Kuta, termasuk pantai. Berjualan pun juga kami larang," jelasnya.
Alit mengatakan akan melakukan sidak bagi pihak yang berani menjual kembang api di wilayah Pantai Kuta. Pihak yang telah mengantongi izin untuk menyalakan kembang api dapat membelinya di wilayah lainnya, seperti di Denpasar.
Sementara itu, sosok yang menjabat sebagai Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung itu juga memprediksi wisatawan domestik akan banyak mengunjungi Pantai Kuta selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Dia juga melihat booking yang diterima oleh pengusaha hotel di wilayah tersebut sudah membludak.
"Untuk mancanegara, itu memang turun. Wisatawan itu banyak yang balik ke negaranya. Sekarang saja, di penyeberangan Ketapang, itu sudah macet. Banyak wisatawan domestik ingin segera memasuki pulau Bali," beber Alit.
Namun, Alit menilai wisatawan yang masuk ke Bali pada Nataru tahun ini tidak seramai tahun sebelumnya. Hal tersebut disebabkan oleh cuaca ekstrem yang melanda Indonesia beberapa waktu terakhir.
"Prediksi dari kami, apabila cuaca sudah baik tentunya wisatawan akan menyeberang, langsung masuk ke Bali. Kami berhubungan dengan teman-teman di penyeberangan, ternyata memang di sana mengular. Justru yang menyebabkan mengularnya ini karena cuaca juga, karena buka tutup sistemnya," ucapnya.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id






























