tirto.id - Akhir pekan lalu merupakan periode yang tegang di Serbia. Puluhan ribu orang menggelar demonstrasi di Ibu Kota Beograd pada Sabtu (23/4/2026) dan menuntut Presiden Serbia Aleksandar Vucic untuk mundur. Apa sebabnya?
Melansir Reuters, unjuk rasa besar di Serbia pada Sabtu berakhir ricuh. Massa aksi bentrok dengan polisi yang menembakkan gas air mata sembari berupaya membubarkan kerumunan yang marah.
Petugas dengan perlengkapan anti huru hara mengepung balai kota Beograd, sementara bentrokan terjadi secara sporadis antara para demonstran dengan polisi di dekat gedung kepresidenan.
Polisi dilaporkan turut menggunakan granat kejut untuk memukul mundur pengunjuk rasa. Sementara para demonstran membakar tempat sampah di dekat mereka.
Menteri Dalam Negeri Serbia Ivica Dacic menyebut 23 orang ditangkap dalam demonstrasi tersebut. Beberapa personel polisi ia sebut mengalami luka selama unjuk rasa.
Puluhan ribu pengunjuk rasa itu berkerumun di Lapangan Slavija untuk menuntut mundurnya sang presiden. Aleksandar Vucic, yang telah menjabat sebagai eksekutif Serbia selama 12 tahun, dituduh atas sejumlah isu seperti kemunduran indeks demokrasi dan kelalaian pemerintahannya selama bertahun-tahun.
Namun, bagaimana hal itu bermula? Apa yang jadi sebabnya?
Penyebab Presiden Serbia Dituntut Mundur
Meskipun unjuk rasa besar terjadi pada Sabtu lalu, namun aksi protes masyarakat sipil Serbia untuk menuntut Aleksandar Vucic mundur sudah terjadi sejak beberapa tahun. Penyebabnya dimulai dari tragedi runtuhnya stasiun kereta Novi Sad pada November 2024 lalu.
Dalam insiden itu, 16 orang tewas karena kanopi beton setinggi 48 meter di stasiun tersebut runtuh tiba-tiba. Publik Serbia lalu memprotes kejadian itu lantaran kanopi yang runtuh adalah bagian dari proyek renovasi stasiun yang didanai Cina belum lama sebelumnya.
Hasil penyelidikan atas kasus tersebut membuka tabir praktik pembangunan yang buruk dan pengawasan yang tidak memadai. Hal ini sontak memicu protes besar-besaran.
Perdana Menteri Serbia kala itu, Milos Vucic, terpaksa mengundurkan diri akibat tekanan publik. Namun, Presiden Serbia Aleksandar Vucic justru menanggapi protes dengan kekerasan.
Semakin ditekan, publik Serbia justru semakin bertahan. Aksi protes terus bergulir. Tuntutannya pun meluas, dari dugaan korupsi di balik insiden Novi Sad hingga inkompetensi pemerintahan Aleksandar Vucic.
Dalam lanskap politik Eropa kiwari, Aleksandar Vucic juga tengah disorot karena kebijakannya yang berupaya menjadi anggota Uni Eropa sembari menjalin hubungan dekat dengan Rusia dan Cina.
Indeks demokrasi Serbia selama kepemimpinan presiden populis sayap kanan itu juga dilaporkan mengalami degradasi. Komisioner Hak Asasi Manusia Dewan Eropa membuat pernyataan pada Jumat (22/5) bahwa mereka menyoroti peningkatan serangan terhadap jurnalis dan aktivis di Serbia.
Ruang sipil dilaporkan menyempit selama periode protes, sementara kekerasan polisi kepada masyarakat sipil terus melonjak.
Aleksandar Vucic, para pejabat pemerintah, dan media pro-pemerintah juga telah mencap para kritikus sebagai “teroris” dan agen asing yang ingin menghancurkan negara. Menukil Al Jazeera, hal tersebut telah meningkatkan polarisasi politik.
Pada Maret 2025 lalu, unjuk rasa besar-besaran juga terjadi di Beograd, dengan ratusan ribu pengunjuk rasa hadir dalam aksi protes itu. Namun, aksi massa itu mendadak berakhir karena gangguan misterius.
Para ahli menduga gangguan misterius itu terkait dengan penggunaan senjata sonik terhadap para demonstran. Pemerintah Serbia membantah hal ini.
Kini, unjuk rasa kembali intensif di Serbia dengan unjuk rasa-unjuk rasa yang dipimpin para mahasiswa. Mereka menuntut Aleksandar Vucic mundur dan pemilihan umum dini segera dilangsungkan.
Ribuan demonstran kini mengusung motto “Mahasiswa Menang” sebagai simbol gerakan anak-anak muda Serbia untuk menggulingkan presiden mereka.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































