tirto.id - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung, mengungkapkan realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga kuartal I-2026 telah mencapai 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp240,1 triliun.
Strategi memperlebar defisit di awal tahun ini merupakan langkah sengaja pemerintah untuk mendorong belanja negara lebih awal agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata sepanjang tahun.
Menurut Juda, angka defisit APBN tersebut tergolong tinggi lantaran konsumsi pemerintah yang diklaim tinggi hingga akhir Maret 2026, yakni 21,81 persen.
"Kita tahu di triwulan I, konsumsi pemerintah tumbuh cukup tinggi, 21,81 persen. Kalau kita lihat belanja pemerintah di triwulan satu ini memang cukup tinggi sehingga defisitnya 0,93 persen. Nah, ini yang banyak sekali disoroti, defisit satu kuartal sudah 0,93 persen," ucapnya di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2026).
Juda mengeklaim tingginya angka defisit APBN hingga 0,93 persen merupakan sebuah kesengajaan. Sebab, pemerintah pusat disebut tidak ingin pertumbuhan ekonomi hanya terjadi saat akhir tahun.
Dengan demikian, Pemerintah Pusat banyak menggelontorkan uang sejak awal tahun, yang tercermin dari angka konsumsi pemerintah/belanja pemerintah. Angka pertumbuhan ekonomi kemudian diklaim bakal merata pada kuartal II-kuartal IV.
"Karena ini memang by design pemerintah ingin pertumbuhan ekonomi itu bukan di akhir tahun. Belanja itu bukan di kuartal empat, belanja itu ya mulai di kuartal satu, sehingga dampaknya akan merata di keseluruhan tahun, di satu, Q2, Q3, dan Q4," tuturnya.
"Kalau pola-pola biasanya itu, belanja [pemerintah] baru meningkat di triwulan empat. Nah, sekarang ini mulai triwulan satu juga sudah mulai kita dorong," lanjut dia.
Juda menambahkan, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen. Kenaikan pertumbuhan ekonomi itu disebut tidak terjadi secara tiba-tiba.
Sederet stimulus yang digelontorkan pemerintah disebut menjadi salah satu penyumbang kenaikan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026.
"Kita masih bisa tumbuh cukup tinggi, yaitu 5,61 persen. Tentu ini bukan autopilot. Bukan autopilot. Karena apa? Kalau kita lihat sumber-sumber pertumbuhannya, ya, baik dari sisi demand maupun dari sisi supply, kelihatan memang ada dorongan-dorongan dari kebijakan-kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan fiskal," urai Juda.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id






































