tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai perekonomian nasional masih berada dalam kondisi yang solid. Keyakinan tersebut antara lain tercermin dari laju inflasi yang tetap terkendali di level 3,48 persen secara tahunan (year on year/YoY) hingga Maret 2026.
Selain itu, pemerintah disebut terus menjaga disiplin fiskal dengan menahan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) agar tidak melampaui batas aman, yakni 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).
"Inflasi masih relatif terkendali. Defisit APBN dijaga di bawah 3 persen dari PDB. Artinya, fundamental ekonomi kita masih kuat," ucapnya dalam kegiatan Simposium PT SMI di Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Ia menjelaskan, dengan defisit APBN yang dijaga di kisaran 3 persen, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi berada di sekitar 5 persen. Namun, jika ruang defisit diperlebar, peluang pertumbuhan dinilai dapat meningkat lebih tinggi.
Purbaya menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai hingga 6 persen, jika memiliki pemimpin yang pintar.
"Kita ngirit saja dengan 3 persen, tumbuhnya bisa 5 persen. Dengan defisit di atas 3 persen, mungkin bisa tumbuh di atas 5 persen, menuju 5,5 persen ke 6 persen," ujarnya.
"Ke depan harusnya kita bisa tumbuh lebih cepat dari 5 persen. Jadi, saya tidak suka kisaran 5 persen. Karena kata orang-orang, sudahlah, ekonomi Indonesia itu [buruk]. Indonesia itu kalau pemimpinnya pintar bisa 6 persen [pertumbuhan ekonominya]," lanjut dia.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga menegaskan optimismenya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Ia mengungkapkan sempat melakukan pertemuan dengan investor global, termasuk BlackRock, saat kunjungannya ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu.
Pertemuan tersebut dilakukan untuk merespons berbagai persepsi negatif yang beredar mengenai kinerja dan komunikasi pemerintah di mata investor internasional. Ia menilai penting untuk memberikan penjelasan langsung terkait kondisi ekonomi Indonesia.
"Di luar kan sudah framing, saya enggak bisa ngomong, saya inward-looking, saya enggak terbuka, karena enggak pernah ke luar negeri. Kan kemarin ke luar negeri saya pertama kali kan. Karena saya dulu sempat janji, kalau enggak 6 persen, saya enggak ke luar negeri," tuturnya.
"Tapi karena ada framing seperti itu, ya saya ke luar negeri. Untuk meyakinkan mereka bahwa ekonomi di sini ditangani oleh orang yang cukup, yang punya kemampuan," imbuh Purbaya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































