Debat Pilgub Jabar 2018

Debat Perdana Pilgub Jabar: Sedikit Tegang, Banyak Candanya

Oleh: Mufti Sholih - 13 Maret 2018
Dibaca Normal 5 menit
Sepanjang saya duduk di dalam, hanya satu umpatan yang sempat saya dengar. Itu terjadi tatkala Ketua KPUD Jabar Yayat Hidayat hendak menyelesaikan sambutannya.
tirto.id - “Rindu… Ridwan-Uu”

“Hasanah… Hasanah… Hasanah… dua...”

“Asyik..Asyik...”

“Pat, pat dilipat… Ompat.”

Yel-yel itu didengungkan masing-masing pendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat di pelataran Sasana Budaya Ganesha, yang berada di Jalan Taman Sari Nomor 73, Kota Bandung, Senin (12/3/2018) sore. Hujan deras disertai angin kencang yang menerjang Kota Bandung, tak membuat suara-suara itu surut.

Tepat pukul 16.00 WIB, saya tiba di pelataran gedung seluas 2.200 meter persegi yang didirikan sejak 1997. Di sepanjang jalan menuju Sabuga, begitu tempat itu biasa disebut, ratusan orang sudah berjubel. Mulai dari pendukung pasangan calon, polisi, hingga pegawai Komisi Pemilihan Umum Daerah Jawa Barat.

Saat saya tiba, teriakan itu masih sebatas sorak sorai. Sekitar setengah jam kemudian, massa yang berjumlah 1.600-an orang lebih mulai riuh lantaran Ahmad Syaikhu datang. Syaikhu merupakan calon wakil gubernur yang berpasangan dengan Sudrajat. Dia diusung PKS, Gerindra, serta PAN dan memiliki nomor urut tiga.

Syaikhu tampak optimistis. “Saya berdoa saja,” ucapnya singkat sembari masuk ke lobi gedung.

Setengah jam berlalu, pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi datang. Kemudian Ridwan Kamil, Sudrajat, dan Uu Ruhzanul Ulum. Beberapa menit menjelang pukul 19.00 WIB, pasangan militer-polisi yang diusung PDIP TB Hasanuddin dan Anton Charliyan tiba.

Masing-masing calon sempat wawancara sejenak bersama wartawan. Hanya pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan yang tak sempat lantaran mereka datang setengah jam menjelang debat disiarkan langsung KompasTV.


Sempat Dilarang Masuk

Saat pasangan digiring ke belakang panggung buat didandani tim KompasTV, sempat terjadi insiden pelarangan wartawan ke dalam venue. Alex, salah seorang kru KompasTV berdalih venue sudah penuh lantaran jumlah pendukung yang datang sekitar 1.600-an alias masing-masing 400 pendukung untuk setiap pasangan calon.

“Di dalam itu, tempatnya untuk mass media sangat terbatas. Di dalam itu ada di sisi kanan 10 [kursi] dan di sisi kiri 10 [kursi] untuk teman-teman mengambil gambar secara proper,,” ucap Alex.

Wartawan hanya diizinkan masuk secara bergantian ke dalam venue saat jeda iklan alias break. Insiden ini membuat sejumlah wartawan marah kepada Alex lantaran KompasTV dianggap menghalangi kerja jurnalistik. Selang beberapa menit, Alex yang sempat minta waktu untuk berkomunikasi dengan pihak KPUD akhirnya membolehkan wartawan masuk.

Rencana menempatkan wartawan di sisi kiri dan kanan tak jadi dilakukan. KPUD Jabar dan KompasTV akhirnya membolehkan wartawan lain masuk ke dalam venue dan menonton dari sebelah kanan dan kiri master control room.

Ternyata, jumlah kursi yang tersedia di dalam ruangan juga tampak masih banyak yang lengang, berbeda dari keterangan sebelumnya. Ada dua deretan kursi di sebelah kanan panggung yang masih tampak melompong. Satu deretan itu terdiri dari 12 baris ke bawah dan 15 baris ke samping.

Saat masuk ke venue, yel-yel itu kembali semarak. Sama seperti saya pertama kali datang.

“Rindu… Ridwan-Uu”

“Hasanah… Hasanah… Hasanah… dua...”

“Asyik..Asyik...Asyik”

“Pat, pat dilipat… Ompat.”

Kening Tak Boleh Berkerut

Keriuhan dan kebisingan di dalam venue tampak biasa saja. Sepanjang saya duduk di dalam, hanya satu umpatan yang sempat saya dengar. Itu terjadi tatkala Ketua KPUD Jabar Yayat Hidayat hendak menyelesaikan sambutannya. Seorang pendukung TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) tiba-tiba berteriak meminta presenter Muhammad Farhan yang merupakan pendukung Ridwan Kamil untuk menjauh dari panggung.

“Farhan keluar,” ucap seorang pendukung tersebut.

Tak berapa lama, suara itu lenyap apalagi setelah Yayat meminta pasangan calon dan pendukungnya untuk tetap santai dan tak perlu emosi. “Selamat berdebat, dan selamat menikmati silakan simak visi-misi tidak dengan kening berkerut tapi dengan suka cita,” kata Yayat sebelum debat.

Ucapan Yayat seperti didengarkan setiap kandidat. Usai pemaparan visi-misi pada segmen pertama dan memasuki masa jeda, para paslon tampak santai. Mereka memanfaatkannya untuk istirahat dan mendapatkan masukan dari timses. Farhan yang sempat diteriaki pendukung Hasanah bahkan sempat naik ke atas panggung untuk memberi masukan buat Ridwan Kamil dan Uu Ruhzanul Ulum.

TB Hasanuddin turun dari panggung untuk meminta minum, adapun Anton Charliyan tampak di-makeup ulang, Sudrajat-Syaikhu berdiskusi dengan tim sukses, dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi tampak mendengarkan alunan musik yang dibawakan kelompok kesenian Saung Udjo.

Di sela jeda itu, TB Hasanuddin yang merupakan calon nomor urut dua tampak mendatangi meja Deddy Mizwar. Ia tampak berbincang dan terlihat tertawa di antara dua DM.

Kondisi serupa terjadi pada break sesi 3, 4, dan 5. Pada break sesi 3, Dedi Mulyadi menyambangi Anton Charliyan. Demikian pula dengan Hasanuddin yang tiba-tiba mengajak Uu Ruhzanul Ulum untuk salam tos.

Atau saat masing-masing kandidat menampilkan kebolehannya dalam hal kesenian, Deddy Mizwar tampak asyik menikmati irama musik dan nyanyian dari Ahmad Syaikhu. Hanya Ridwan Kamil dan Sudrajat yang tampak tak banyak berinteraksi dengan pasangan lain lantaran hanya calik di kursinya.

Dari pemantauan saya yang berjarak sekitar 150 meter dari panggung ke tempat duduk, Ridwan hanya berkomunikasi dengan Uu, Farhan, dan TB Hasanuddin, itu juga lantaran anggota Komisi I DPR mendatangi mejanya. Sedangkan Sudrajat hanya beberapa kali mengobrol dengan Deddy Mizwar.

Sikap ini berbeda dengan Dedi Mulyadi dan TB Hasanuddin yang lebih banyak berkomunikasi dengan calon lain. Dedi bahkan sempat menyalami sejumlah komisioner dan mantan Komisioner KPU Ferry Kurnia Rizkynsyah yang datang ke Sabuga.

Uu yang Banyak Diam dan Anton yang Jenaka

Sepanjang debat, Uu Ruhzanul Ulum hanya tiga kali tampil dan mengeluarkan suaranya namun satu pernyataannya direvisi oleh Rosianna Silalahi selaku moderator karena dinilai bukan pernyataan melainkan pertanyaan ulang.

Pertama saat Uu diberi kesempatan bertanya kepada pasangan Hasanah pada pukul 20.57 WIB. Saat hendak bertanya, Uu malah salah menyebut nama pasangan yang akan dia tanya.

“Terima kasih untuk pertanyaan ke nomor 2 kepada Asyik,” kata Bupati Tasikmalaya itu yang langsung disambut suara ketawa hadirin.

Uu tampak cuek meski sempat sedikit tersenyum. Ia kembali melanjutkan pertanyaannya soal konsep yang akan diusung terkait dengan ekonomi kreatif dan digital. Kata Kreatif yang disebutkan Uu terdengar kental khas urang sunda yang mengganti f dengan p. Pertanyaan Uu ini sebenarnya ditujukan kepada pasangan Hasanah dan langsung dijawab Anton Charliyan.

“Tadi udah saya terangkan ada satu terobosan baru, Kami punya terobosan Jabar Edun, edun itu Ekonomi Dunia Network. Nah di samping itu molotot.com ini juga mengunakan IT untuk mengurangi korupsi,” kata Anton.

Jawaban Anton soal molotot.com (membelalakkan mata) disambut suara tertawa hadirin. Tawa ini bukan yang pertama lantaran Anton beberapa kali bersikap konyol di sepanjang debat. Misalnya, saat ia tiba-tiba berdiri di samping TB Hasanuddin sebelum TB Hasanuddin mengajaknya berjalan ke tengah panggung. Saat akan mengakhiri pernyataan TB Hasanuddin langsung menyerahkan ke Anton untuk memungkasi pernyataan. Ulang konyol itu diulanginya saat dirinya tiba-tiba menghentikan jawaban meski belum tuntas karena waktunya habis.

Meikarta Polemik Hangat di Pilgub Jabar

Di luar "ademnya" debat, tensi panas sempat hinggap saat Syaikhu menanyakan kepada Dedi Mulyadi soal pohon di Purwakarta. “Saya melihat di kota Purwakarta banyak pohon ditutup dengan kain, kenapa seperti itu?”

Pertanyaan ini cukup menyita perhatian hadirin lantaran Syaikhu merupakan calon dari PKS yang dikenal memiliki basis Islam modern, sedangkan Dedi yang kini menjabat Bupati Purwakarta dikenal dengan basis massa budayawan Sunda yang kerap dianggap berseberangan dengan basis Islam modern di Jawa Barat.

“Pohon dikasih kain maka tidak akan ada yang dipakuin tidak ada pohon yang dipasangin iklan sedot tinja. Ilmu lingkungan mengajarkan proses perlindungan, proses memuliakan. Itu adalah ajaran dari sistem kebudayaan kita,” ucap Dedi.

Jawaban Dedi ditanggapi Syaikhu dengan ketidakpuasan. “Menurut saya agak ironis pada di satu sisi pohon diberi kain tapi anak-anak kekurangan kain. Maka dalam pandangan kami pandangan Asyik bahwa memuliakan manusia jauh lebi terhormat ketimbang memuliakan pohon, oleh karena itu alangkah barangkali kebijakan ini kurang tepat,” kata Syaikhu.

Selain isu soal pohon, bahasan yang sempat membuat suhu sedikit naik adalah saat kandidat membicarakan soal isu Meikarta. Calon wakil gubernur Jawa Barat nomor urut dua Anton Charliyan mempertanyakan keluarnya izin proyek Kota Baru Meikarta di Kabupaten Bekasi kepada pasangan calon gubernur nomor urut empat Deddy Mizwar.

Anton sempat mengkritisi Deddy Mizwar sebagai petahana soal perizinan proyek triliunan rupiah ini. Menurut Anton sebelumnya Pemprov Jawa Barat sempat menolak proyek Meikarta.

“Dulu pemerintah Jabar menolak tapi akhir-akhirnya [memberi izin] padahal itu baru izin bupati lalu mengizinkan. Ini prosesnya bagaimana sehingga bisa transparan?” tanya Anton.

Deddy menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan perizinan Meikarta yang ditolak adalah pembangunan Kota Metropolitan seluas 500 hektare sampai 2.200 hektare. Sementara izin peruntukan lahan yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Bekasi hanya seluas 84,6 hektare karena memenuhi sebagai zona pemukiman, selebihnya masih status kawasan industri. Izin itu pun menurutnya sudah ditentukan oleh gubernur Jawa Barat sejak 1994.

“Perizinan yang menjadi hak mereka (Meikarta) 84,6 hektare harus segera dikeluarkan karena itu hak mereka dan kita adalah pelayan publik, jangan ganggu hak orang lain. Dzalim itu namanya. Tapi perizinan 500 hektare sama sekali tidak bisa keluar, 2.200 hektare sama sekali tidak bisa keluar,” kata Deddy.

Dedi Mulyadi yang menjadi calon wakil gubernur Deddy Mizwar, menambahkan kewenangan teknis dari izin lokasi dari Meikarta ada di pemerintahan kabupaten Bekasi. Pemprov Jabar hanya memberikan rekomendasi, terutama untuk bidang yang dianggap strategis dan skalanya lintas daerah, izinnya harus mendapat rekomendasi provinsi atau gubernur.

Di luar dua isu ini, debat kembali tenang dan tensi kembali menurun.

Karena Pilgub Jabar itu Berbeda

Soal tensi yang hanya naek sakedap ini, saya bertanya kepada pengamat politik dari Universitas Langlang Buana Ferry Kurnia Rizkyansyah yang kebetulan datang ke lokasi. Ferry mengatakan pilkada di Jawa Barat berbeda dengan pilkada di daerah lain terutama di DKI Jakarta.

Ferry yang pernah menjadi Komisioner KPU periode 2012-2017 ini mengatakan perbedaan ini dilatari culture yang ada di tatar Sunda. “Masyarakat Jabar kalau dibawa serius ya serius, tapi tadi disuasanakan lebih ringan. Ini dibawa pembawa acara dan pasangan calonnya masing-masing,” kata Ferry.

Soal dua tema terkini yang dibahas dalam debat kali ini, Ferry menilai kemunculan tema itu merupakan hal yang wajar lantaran debat merupakan ruang klarifikasi. Menurut mantan Ketua KPUD Jawa Barat 2007-2012 ini, perlu ada elaborasi lebih lanjut soal substansi masalah yang selama ini ada di Jawa Barat. Ferry tak merinci apa saja masalah tersebut, namun dia bilang isunya masih terlalu mainstream.

Di luar isu mainstream itu Ferry berharap debat kali ini bisa menjadi prototipe untuk debat lain di luar Jabar. Ia berharap debat bisa menciptakan pilkada yang adem dan jauh dari hal-hal kontraproduktif seperti yang pernah terjadi di Jakarta tahun lalu.

“Kalau di jakarta politik identitas diciptakan dan ada kasus, mudah-mudahan di Jabar tidak ada,” ucapnya mengakhiri pembicaraan.

Baca juga artikel terkait DEBAT PILGUB JABAR 2018 atau tulisan menarik lainnya Mufti Sholih
(tirto.id - Politik)

Reporter: Mufti Sholih
Penulis: Mufti Sholih
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Dari Sejawat
Infografik Instagram