Menuju konten utama

Data Terkini Korban Bencana Sumatra: 1.200 Meninggal, 142 Hilang

Mengutip data BNPB, Lasarus menyatakan kerusakan infrastruktur di ketiga provinsi yakni 53.412 unit rumah rusak barat dan 45.085 unit rumah rusak ringan.

Data Terkini Korban Bencana Sumatra: 1.200 Meninggal, 142 Hilang
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (7/7/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.

tirto.id - Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus memaparkan data terbaru korban jiwa dari bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh. Lasarus memaparkan berdasarkan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.200 orang sementara ratusan lainnya masih dalam pencarian.

“Menurut data dari BNPB tanggal 27 Januari 2026, pukul 01.00 WIB dini hari, bencana alam di Provinsi Aceh Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah menelan korban meninggal dunia sedikitnya 1.200 jiwa, 142 orang hilang, belum ditemukan dan 113.903 orang masih mengungsi,” ucap Lasarus dalam rapat kerja (Raker) bersama pemerintah di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Selain korban jiwa, Lasarus juga mengungkapkan besarnya dampak kerusakan permukiman akibat bencana yang terjadi di penghujung 2025 tersebut. Puluhan ribu rumah dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.

“Selain itu bencana alam terbesar di penghujung tahun 2025 tersebut juga memberi dampak pada kerusakan infrastruktur dan transportasi di tiga wilayah tersebut, antara lain 53.412 unit rumah rusak barat, 45.085 unit rumah rusak ringan,” jelas Lasarus.

Tak hanya rumah warga, katanya, infrastruktur transportasi juga terdampak signifikan. Lasarus menyebut ribuan ruas jalan dan ratusan jembatan ikut mengalami kerusakan.

“Dan sejumlah 2.165 jalan serta 866 jembatan ikut terdampak. Maksudnya 2.165 kilometer mungkin jalan ini yang terdampak,” tambahnya.

Dalam rapat tersebut, dia juga menyoroti rencana pembangunan hunian tetap bagi korban yang rumahnya rusak berat. Lasarus menilai terdapat kesenjangan antara data kerusakan rumah dengan target pembangunan hunian tetap yang disiapkan pemerintah.

“Jadi antara data yang dikeluarkan oleh BNPB dengan persiapan atau penanganan oleh pemerintah yang jauh berbeda, yang rusak berat 53.000 sekian sementara di satu sisi target pembangunan hunian tetap oleh pemerintah baru 20.057 unit,” ucap Lasarus.

Ia menegaskan selisih jumlah tersebut berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat terdampak. “Jadi, terdapat selisih 33.355 unit tentu yang 33.355 unit ini mengalami keresahan apakah mereka juga akan mendapat bantuan,” terang dia.

Baca juga artikel terkait BENCANA ALAM atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher