Menuju konten utama

Tragedi Cisarua: Pemerintah Kaji Penyebab Longsor & Tata Ruang

Tragedi Cisarua diduga terjadi karena ketidaksesuaian antara pemanfaatan ruang dengan daya dukung lingkungan yang ada. Pemerintah akan lakukan evaluasi.

Tragedi Cisarua: Pemerintah Kaji Penyebab Longsor & Tata Ruang
Warga membersihkan puing bangunan saat mencari korban bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026). Berdasarkan hasil asesmen tim SAR gabungan bersama pihak desa setempat hingga pukul 12.30 WIB, sebanyak 34 Kepala Keluarga (KK) atau 113 jiwa terdampak bencana tanah longsor dengan rincian 23 orang selamat, delapan orang ditemukan meninggal dunia dan 82 lainnya masih dalam proses pencarian. ANTARA FOTO/Abdan Syakura/nz

tirto.id - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan bahwa pemerintah akan melakukan evaluasi total atas tragedi Cisarua terutama lingkungan sekitar pascabencana tanah longsor yang berada di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Menurut Hanif, perumusan tata ruang sangat penting agar kejadian yang sama tak terulang di kemudian hari.

Penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Kami akan melibatkan para ahli untuk mengkaji penyebab utama longsor ini, sekaligus merumuskan langkah tindak lanjut, terutama yang berkaitan dengan tata ruang agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Menteri Hanif di hadapan awak media di lokasi bencana, Senin (26/1/2026).

Dia juga menyinggung soal data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Katanya, wilayah Cisarua tercatat mengalami curah hujan selama empat hari berturut-turut dengan intensitas rata-rata 68 milimeter per hari yang terbilang tidak cukup besar.

Kendati demikian, ada indikasi kerapuhan pada struktur tutupan lahan di wilayah Bandung Barat yang perlu segera diperbaiki.

“Curah hujan ini memang menjadi pemicu, namun dengan intensitas sekitar 68 milimeter per hari, sebenarnya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan beberapa kejadian bencana di wilayah lain. Ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang perlu kita evaluasi secara mendalam,” jelas Hanif.

Menurut Hanif, faktor bencana Cisarua lainnya juga diduga berkaitan dengan karakteristik geologi, kemiringan lereng, serta pembukaan lahan untuk area pertanian masyarakat yang tidak mengindahkan kaidah pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Dia mensinyalir adanya ketidaksesuaian antara pemanfaatan ruang dengan daya dukung lingkungan yang ada.

“Perubahan fungsi lahan dan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan menjadi faktor kunci meningkatnya risiko bencana, meski curah hujan tidak berada pada kategori ekstrem. Penataan ruang berkelanjutan dan pemulihan vegetasi pada lereng-lereng kritis menjadi solusi jangka panjang yang tidak bisa ditawar lagi,” tegas Hanif.

Baca juga artikel terkait BENCANA ALAM atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Ilham Choirul Anwar