tirto.id - Melayani dan berkolaborasi dalam pemberdayaan anak, keluarga, dan masyarakat yang paling rentan, melalui pendekatan pengembangan masyarakat, advokasi, dan tanggap bencana, untuk membawa perubahan yang berkesinambungan, tanpa membedakan agama, ras, suku, dan gender.
Begitu kurang lebih bunyi cita-cita Wahana Visi Indonesia yang terpampang di halaman web resminya.
Dalam menjalankan misinya, organisasi kemanusiaan nonpemerintah tersebut tidak pandang bulu. Semua kalangan mereka rangkul, terkhusus kelompok rentan, seperti perempuan dan anak-anak, tanpa membeda-bedakan latar belakang agama atau ras.
Sebagai organisasi Kristen, Wahana Visi Indonesia tentu jamak menemui tantangan dalam praktiknya di lapangan, terutama di area program Sipado-Parimo (Sigi, Palu, Donggala, dan Parigi Moutong) yang mayoritas masyarakatnya muslim.
Percikan-percikan resistansi tak bisa dimungkiri muncul, terutama di awal-awal Wahana Visi Indonesia mendaratkan misinya di wilayah Sipado-Parimo. Tak sedikit yang memandang sinis kedatangan mereka.
"Oh jangan-jangan dorang (mereka) ini mau ajak [kita] jadi [masuk] agama dorang itu," kata Melati, salah satu kader Wahana Visi Indonesia, menirukan perkataan sinisme orang-orang Desa Padende lengkap dengan akting mimik muka khas ibu-ibu kompleks yang tengah bergunjing, Rabu (10/9/2025).
Stigma terhadap non-Islam masih sangat kental di Palu ketika Wahana Visi hadir pada 2009. Apalagi, salah satu kegiatan Kelompok Belajar Anak (KBA) yang diampu oleh Melati adalah menyanyi, aktivitas yang dianggap erat kaitannya dengan ibadah Minggu orang Kristen di gereja.
"Tapi, saya niat [belajar dari mereka]. Mereka ini memberi ilmu, bukan tentang agama," tegasnya, seperti mengucapkan mantra dalam hati, meyakinkan diri sendiri bahwa niatnya tulus. Begitu pula ia memandang tujuan Wahana Visi yang tanpa pamrih.
Tahun demi tahun, sampai 2014, Wahana Visi Indonesia menjalankan agenda kemanusiaannya di Desa Padende (dan desa-desa lain) dengan kuping panas. Masyarakat sekitar masih banyak yang memandang sinis dan merawat stigmanya terhadap non-Islam.
Walakin, Melati bersama Wahana Visi Indonesia tetap teguh dengan niat awalnya: membimbing anak-anak dan masyarakat rentan agar terhindar dari pernikahan dini, kekerasan, dan ketidakberdayaan. Mereka tidak mencoba menjelaskan sampai berbusa-busa kepada satu per satu warga. Tidak pula memohon saban hari dari pintu ke pintu rumah. Mereka membuktikan diri melalui aksi nyata.
Keaktifan Wahana Visi Indonesia dalam membantu anak-anak dan masyarakat rentan membuat Melati terlecut untuk turut andil.
"Kalau mereka [organisasi Kristen] bisa, kenapa kita [yang mayoritas muslim] tidak bisa? Kenapa mereka [yang dari] jauh bisa melindungi anak kita, men-support anak kita, sedangkan kita tidak bisa? Nah, itu yang kami tanamkan sampai sekarang," tandasnya menggebu-gebu.
Raut wajahnya menegang ketika membicarakan soal anak-anak dan masyarakat rentan, mengingat ia juga punya dua buah hati yang mesti dibesarkan dengan kasih.
Merangkul Lintas Agama
Untuk bisa menjangkau wilayah yang mayoritas penduduknya muslim, Wahana Visi Indonesia menggandeng Majelis Ulama Indonesia Kota Palu. Dengan begitu, masalah sosial yang kiranya membutuhkan penjelasan berlandaskan liturgi Islam dapat mudah diterima oleh masyarakat.
Zainal Abidin selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Palu tak menampik adanya resistansi dari masyarakat terkait masuknya Wahana Visi. Ada beberapa kalangan yang memandang sebelah mata dan melabeli mereka dengan stigma negatif, persis seperti yang disampaikan Melati.
"Tapi, ketika kita (kami) turun bersama-sama, tentu lebih menguatkan bahwa memang ini demi kemanusiaan," terangnya, saat diwawancarai di kantor Majelis Ulama Indonesia Kota Palu yang terletak di Jalan Sis Aljufri No. 102, Boyaoge, Kecamatan Tatanga, Kota Palu.
Salah satu proyek bersama yang mereka kerjakan adalah penyusunan buku modul kerukunan. Itu menjadi penting, terutama setelah melihat banyaknya penolakan atau gunjingan dari masyarakat sekitar terkait masuknya Wahana Visi Indonesia. Bahwa kendati berbeda agama, termasuk suku dan ras berlainan, mereka tetap bisa memperjuangkan misinya: meningkatkan taraf hidup anak-anak dan membantu masyarakat rentan.
"Tuhan menurunkan banyak agama bukan untuk bertikai, bukan untuk bermusuhan. Tetapi tuhan menyuruh kita untuk memilih. Kalau itu sesuai keyakinan, mudah-mudahan akan menyelamatkan kita semua," tegasnya penuh optimisme, meski dengan suara yang serak, mengingat usianya yang sudah tak lagi muda.

Kasus kriminal yang diduga membawa-bawa isu agama memang tak terelakkan di Sipado-Parimo (Sigi, Palu, Donggala, dan Parigi Moutong), wilayah dampingan Wahana Visi Indonesia.
Pada 2020, terjadi kasus pembakaran rumah dan pembunuhan terhadap empat orang warga Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Menurut klaim kepolisian, tindakan keji itu dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Ali Kalora.
Tiga tahun sebelumnya, pada 2017, teror pernah membayangi jemaat Gereja Masehi Advent, Kota Palu. Sejumlah kriminal tak dikenal diduga mencoba membakar gereja tersebut dengan melempar botol air mineral berisi bensin. Pintu utama dan lantai keramik gereja sempat memercikkan api, tetapi untungnya kejadian nahas itu gagal tersulut.
"[Dalam kasus pembakaran rumah di Lemban Tongoa] kita memberikan motivasi kepada mereka bahwa ini bukan perbuatan ajaran agama, tetapi ada oknum-oknum yang salah memahami agama," jelasnya, dengan artikulasi yang jelas, pelan, dan mudah dipahami.
Itu juga yang melandasi keputusan Zaenal Abidin menerima uluran tangan kerja sama dari Wahana Visi. Ia ingin bersama-sama memperkuat rangkulan lintas organisasi, demi anak-anak, perempuan, dan masyarakat rentan lainnya, tanpa memandang ras apalagi agama.
Beberapa organisasi massa Islam tentu saja sempat menolak ketika Wahana Visi kali pertama menginjakkan kaki di Kota Palu dan mencoba menjalankan misi kemanusiaannya. Hal itu diamini pula oleh Zaenal.
"Kita melihat kerja sama dan dia [pihak yang menolak] bisa melihat hasilnya. Artinya, bukti yang berbicara, bahwa apa yang kita lakukan tidak seperti yang dikhawatirkan oleh mereka," tukasnya.
Untuk menegaskan niat baik mewujudkan desa kerukunan, mereka membangun tugu perdamaian. Harapannya, itu bisa menjadi penegasan dan pencegahan terjadinya konflik horizontal yang mengatasnamakan agama maupun ras.
Bukan pihak Wahana Visi yang menentukan segalanya, melainkan warga sendiri, baik urusan desain, simbol, maupun bentuk tugu. Setidaknya sudah ada tiga tugu kerukunan yang berdiri. Masing-masing terletak di Desa Sibedi dan Desa Loru, Kabupaten Sigi, serta Desa Nambaru yang terletak di Kabupaten Parigi Moutong.
Perlindungan Anak Lebih Penting
Melihat anak-anak bimbingannya bisa mandiri, aktif di sekolah, tidak lagi malu berbicara di depan umum, dan percaya diri unjuk gigi bakatnya, sudah cukup membuat Melati semringah. Baginya, masa depan anak-anak dan kesejahteraan masyarakat begitu penting, teramat penting, bagaikan tiada lagi yang lebih penting.
Gosip tetangga dan stigma terhadap organisasi Wahana Visi Indonesia yang berbasis Kristen tak menyurutkan tekadnya. Tidak hanya itu, ia bahkan secara sukarela belajar sekaligus mengajar puluhan anak-anak tanpa dibayar.
"Karena prinsip awal [saya] itu tidak memikirkan uang. [Yang terpenting] anak-anaknya berdampak," terangnya, sembari duduk di sofa bekas di ruangan beratap sederhana di samping rumahnya, ruangan terbuka yang biasa dimanfaatkan oleh kelompok belajar anak untuk mengasah bakat, entah menari, menyanyi, atau berkesenian musik sampah (perkusi).
Banyak perubahan yang akhirnya dilihat oleh Melati terkait perkembangan anak-anak bimbingannya, tentu setelah lama bergulat dengan cibiran warga yang sinis karena keikutsertaannya dengan pelatihan dari Wahana Visi Indonesia.
Sudah banyak "alumnus" KBA bimbingannya yang berhasil. Sedikit kemajuan sudah membuatnya senang bukan kepalang. Ada anak yang sebelumnya terlampau malu untuk sekadar menampakkan muka di hadapan orang asing, sekarang berani berbicara di depan umum, bahkan menginisiasi acara-acara di forum anak tingkat kabupaten.
Mayoritas anak-anak di daerah Sigi, Palu, Donggala, memang pemalu, bahkan meski sekadar untuk menemui orang baru.
"Dulu setiap kali kami datang ke salah satu desa di Sigi, mereka pasti lari jauh, lalu bersembunyi di balik pohon. Malu," kata Agustinus Polabi (Apo), Area Program Manager Wahana Visi Indonesia, ketika diwawancarai di mobil dalam perjalanan menuju salah satu desa di Kabupaten Donggala, melewati jalan raya provinsi yang penuh dengan Galian C tambang batu di sisi kiri jalan serta kapal tongkang di sebelah kanan jalan sepanjang pantai.
Salah satu hal yang paling membanggakan bagi Melati dan Apo adalah ketika anak-anak dampingannya diajak oleh salah satu stasiun teve nasional untuk membuat film pendek. Dalam karya sinema yang akhirnya diberi judul Kami Masih Indonesia itu Melati juga ambil bagian sebagai pemeran.
Film yang dirilis pada 2014 tersebut menceritakan seorang anak yang dibesarkan oleh seorang kakek pensiunan tentara. Masyarakat sekitar rumahnya tidak suka dengan si kakek karena dianggap membawa pengaruh buruk. Tapi, anak itu bilang bahwa kakeknya baik. Sebab, berkat kakek itu ia bisa memandang dunia sebagai harapan dan membuatnya ingin belajar lebih giat. Inti pesan yang ingin disampaikan lewat karya itu adalah menerima uluran tangan dan kebaikan orang lain, mewujudkan cita-cita, dan melihat niat baik bukan dari latar belakang atau stigma yang subur.
Tak hanya itu, Melati juga membersamai anak-anak KBA di desanya untuk ikut lomba menari di tingkat provinsi dan berhasil menyabet juara 3. Padahal, tempat latihannya terbatas, seadanya. Mereka hanya berlatih di depan ruangan KBA di samping rumahnya. Kalau butuh ruang lebih luas, mereka izin menggunakan halaman masjid yang terletak beberapa langkah saja dari kediaman Melati.
"Mereka (anak-anak) nyari sendiri informasi lomba. 'Ibu kita ikut lomba ini!' katanya. Biayanya juga biaya pribadi," begitu Melati mengisahkan. Energinya menggebu-gebu tiap kali menceritakan kisah-kisah sukses anak-anak dampingannya, meskipun tak jarang diterpa keterbatasan.

Namun, sebagaimana organisasi kemanusiaan eksternal lainnya, Wahana Visi tidak selamanya membersamai Melati. Mereka juga bakal segera hengkang dari desanya sebab dirasa cawe-cawenya sudah cukup. Tanggung jawab sebenarnya ada di tangan pemerintah.
Tentu saja Wahana Visi tidak pergi dengan tangan kosong. Mereka telah lama menyiapkan "oleh-oleh" yang diharapkan dapat mengikat pemerintah setempat agar tujuan kemanusiaan tetap berjalan baik, seperti ketika mereka hadir dan membersamai para kader dan anak-anak.
Upaya itu tidak lahir dari angan-angan kosong. Ia muncul lantaran maraknya fenomena mutasi di instansi-instansi pemerintahan, fenomena politik praktis yang jamak ditemukan, tak hanya di kota tetapi juga di sudut-sudut desa wilayah Sipado-Parimo. Pejabat-pejabat strategis yang telah dikaderisasi selama berbulan-bulan tiba-tiba dipindahtugaskan ke lain daerah atau dimutasi ke posisi berbeda. Hal itu jelas membuat rencana dan tujuan awal Wahana Visi dan kader menjadi acakadul.
Makanya, sejak dua tahun belakangan, Wahana Visi Indonesia lebih fokus dengan strategi baru. Kali ini mereka ogah memegang sosok di jabatan tertentu, yang suatu waktu bakal dimutasi dari posisinya atau diganti lewat mekanisme pemilihan umum. Apo dan kolega lebih fokus mendorong pemerintah agar membuat regulasi yang mengikat.

Wahana Visi dan para kader setempat mengintervensi pemerintah agar bisa memegang janjinya dan melanjutkan misi kemanusiaan yang memang sudah seharusnya jadi tanggung jawabnya, bukan dengan ucapan, melainkan tertulis lewat peraturan desa tentang perlindungan anak.
"Peraturan Desa itu bisa menjadi pegangan kita untuk memastikan ketika serah terima nanti (ketika Wahana Visi tak lagi mendampingi) ada, nih, legacy-nya, sekalipun berganti kepala desanya," begitu kata Agustinus Polabi alias Apo, menegaskan strateginya yang mulai terlihat hasilnya, satu per satu.
Beberapa desa dampingan Wahana Visi sudah meresmikan peraturan desa tentang perlindungan anak, termasuk Desa Padende di Kabupaten Sigi, Desa Watatu di Kabupaten Donggala, dan desa-desa lainnya di wilayah Sipado-Parimo.
"Bangun gedung boleh, tapi perhatiin juga anak-anak, supaya Indonesia emas tercapai, jangan Indonesia cemas," ujar Arlinda, kader Wahana Visi wilayah Desa Watatu, ketika mengutarakan harapannya sekaligus kritiknya secara sarkastik kepada pemerintah.
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































