Menuju konten utama

Dari Sekutu Jadi Seteru: Dinamika Donald Trump dan Elon Musk

Dalam 6 bulan terakhir dinamika hubungan Trump & Musk diwarnai dengan kontroversi kebijakan efisiensi, boikot Tesla, hingga perbedaan pandangan soal OBBBA.

Dari Sekutu Jadi Seteru: Dinamika Donald Trump dan Elon Musk
Presiden AS Donald Trump menaiki Air Force One di Pangkalan Gabungan Andrews di Maryland pada 12 Mei 2025 dan Elon Musk keluar dari Air Force One saat tiba di Bandara Kota Morristown di Morristown, New Jersey, pada 22 Maret 2025AFP/.Brendan SMIALOWSKI
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - "Tidak ada kawan atau lawan abadi dalam politik," setidaknya jargon tersebut dapat menggambarkan bagaimana kondisi terkini hubungan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dengan CEO Tesla dan Space X, Elon Musk. Keduanya adalah kroni dalam dunia politik yang kian karib setahun belakangan.

Bromance” menjadi istilah yang paling pas menggambarkan hubungan keduanya. Sejak adanya percobaan pembunuhan terhadap Trump dalam sebuah kampanye di Butler, Pennsylvania, Musk, yang sebelumnya tidak memihak satupun kubu, merapat ke Partai Republik. Sumbangsih orang terkaya di dunia ini, mulai dari dana kampanye sampai dengan pengaruh, akhirnya membawa Trump ke kursi Presiden Amerika Serikat, untuk kedua kalinya.

Namun, tetiba hubungan keduanya mulai merenggang dan akhirnya Elon Musk keluar dari Departemen Efisiensi Pemerintah (Department of Government Efficiency, DOGE). Badan penasihat bentukan Trump, lewat perintah eksekutif ini, dibentuk untuk memangkas anggaran belanja negara AS yang dinilai tak efisien.

Berpisahnya Trump dengan Musk ditandai dengan sebuah video yang ditayangkan di kanal YouTube Gedung Putih, Sabtu (31/5/2025). Siaran pers yang lebih menyerupai Video tribute tersebut berjudulkan: “DOGE is WINNING! Thank you, Elon! 🇺🇸”. Cuplikan video tersebut menjadi apresiasi tersendiri dari Trump untuk Musk.

Meski mengumumkan perpisahan keduanya, namun Trump mengaku masih membutuhkan Musk untuk kinerja kabinetnya mendatang.

"Ini akan menjadi hari terakhirnya, tapi tidak benar-benar seperti itu, karena dia akan selalu bersama kita, membantu kita sepanjang waktu," kata Trump dikutip Reuters.

Kebijakan Kontroversial dan Boikot Masyarakat ke Tesla

Selama 6 bulan kebersamaan Trump dan Musk –dalam koordinasi di DOGE, keduanya menghasilkan sejumlah kebijakan kontroversial yang mendapat pertentangan dari warga AS. Salah satunya adalah pemecatan lebih dari 30 ribu dari total 2 juta pegawai federal di sejumlah wilayah AS. Menurut klaim Elon Musk, pemecatan 30 ribu pegawai membuat internal AS menghemat anggaran hingga 2 triliun dollar AS.

Rangkuman New York Magazine, setidaknya ada 17 departemen yang mengalami pemangkasan pegawai. Mulai dari Departemen Pertanian, Departemen Perlindungan Keuangan Konsumen, Departemen Pendidikan, hingga Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan.

Namun yang menjadi kontroversi adalah adalah efisiensi atau pemecatan di Departemen Kesehatan yang memangkas 2.800 pegawai tetap dan 1.500 karyawan yang dalam masa percobaan. Pemangkasan juga terjadi di sektor penting seperti Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

Donald Trump Elon Musk

Elon Musk terlihat di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, DC, pada tanggal 30 Mei 2025 dan Presiden AS Donald Trump di Arlington, Virginia, pada Hari Pahlawan, 26 Mei 2025. Allison ROBBERT/ SAUL LOEB / AFP

Selain bertugas untuk memangkas anggaran, DOGE juga mendapat tugas dari Trump untuk evaluasi 16 departemen pemerintah. Mereka tidak hanya berbaur dan menyatu dengan pegawai departemen, namun juga diberi akses untuk masuk ke sistem komputer pemerintah. Hal ini krusial sebab, ini berarti mereka mendapat jalur ke sejumlah informasi sensitif dan bersifat rahasia.

Salah satu kebijakan DOGE yang berdampak ke negara di dunia, termasuk Indonesia, adalah pembubaran USAID. Sebagai lembaga pemerintah yang bersifat independen untuk menyalurkan program bantuan ke sejumlah negara, Trump ingin menyatukan lembaga ini dengan Departemen Luar Negeri. Akibatnya sejumlah bantuan yang rutin diberikan kepada Indonesia dan negara lain, seperti obat HIV/AIDS hingga TBC dan sejumlah program untuk kegiatan demokrasi menjadi terhapuskan.

Meski perampingan tersebut dilakukan atas dalih perampingan dan efisiensi anggaran, namun rakyat AS terlanjur benci kepada Trump dan Musk dalam waktu singkat. Kemarahan masyarakat terlampiaskan ke perusahaan mobil listrik milik Elon Musk, Tesla. Perusahaan tersebut mengalami penurunan laba secara signifikan.

Publik ramai-ramai melakukan boikot terhadap produk Tesla. Bahkan harga saham Tesla yang sempat menyentuh harga 400 dolar AS pada Desember 2024, anjlok menjadi setengahnya, 200 dolar AS, pada April 2025.

Dari sinilah, Musk mulai berjarak dari Trump. Dia mengurangi alokasi waktunya untuk bekerja bersama DOGE dan memprioritaskan kerjanya untuk kembali ke Tesla. Dia berusaha kembali memperoleh simpati dari warga AS dengan meminimalisir kontribusi ke DOGE.

Tak hanya, Tesla yang mengalami kerugian layanan penyedia internet Starlink, yanga ada di bawah Space X, mengalami pembatalan sepihak oleh Perdana Menteri Ontario, Doug Ford. Padahal proyek Starlink memiliki nilai kontrak mencapai 100 juta dolar AS dan diharapkan dapat menjadi pemancar internet bagi masyarakat di salah satu Provinis terpadat di Kanada itu.

Pemerintah Ontario membatalkan pembelian Starlink buntut dari kebijakan Trump yang menetapkan tarif resiprokal ke Kanada

Pisah Jalan Karena Aturan Tak Memihak Pengusaha

Memburuknya Relasi antara Musk dan Trump kian memuncak saat dimulainya proses pembuatan One Big Beautiful Bill Act atau OBBBA. Beleid tersebut berisikan rancangan Undang-Undang rekonsiliasi anggaran pada Kongres Amerika Serikat ke-119.

Dokumen setebal 1.038 halaman tersebut akan membahas mengenai pemotongan pajak hingga perubahan program tunjangan sosial. Trump berharap OBBBA dapat mempercepat kebijakan seputar belanja, pendapatan, dan plafon utang.

Musk secara langsung, maupun melalui media sosialnya menentang OBBBA karena akan menimbulkan pembengkakan defisit APBN milik AS dan membebani para warga dengan utang yang tak berkesudahan. Dia memperkirakan apabila kebijakan Trump tersebut terus dilanjutkan akan berakibat pada penambahan utang antara 2,5 triliun dolar AS hingga 3,1 triliun dolar AS ke dalam anggaran negara.

Berdasarkan informasi dari Data Fiskal Departemen Keuangan AS, utang negara yang lebih dari 35 triliun dolar AS pada tahun fiskal 2024. Kenaikannya terjadi eksponensial sejak tahun 2000 (kala itu utang negara berkisar 10 triliun dolar AS). Rangkuman data keuangan federal tersebut juga menyoroti utang pemerintah AS sudah mencapai 121 persen dari produk domestik bruto Negeri Paman Sam.

Melalui cuitannya yang dikenal gampang membuat gerah pejabat AS –dan tentunya Donald Trump, Elon Musk meminta para senator dan pejabat DPR untuk menghentikan OBBBA. Dia menyebut hal itu berpotensi membuat AS bangkrut dan itu tak baik bagi masa depan negara mereka.

Kolumnis New York Times, Jonathan Swan, menyebut hubungan Elon Musk dan Donald Trump adalah hubungan kroni terpenting dalam jagat politik di AS saat ini. Swan menyebut hubungan kedua miliarder itu unik karena sebelum akrab dan menyatu dalam satu pemerintahan yang sama, Trump dan Musk adalah dua individu yang saling resisten.

Di 2016, Elon sempat menyebut Trump sebagai orang bodoh karena keputusannya untuk menarik AS dari perjanjian iklim Paris. Bahkan sebelum mendukung Trump, Musk sempat mendorong mantan Gubernur Florida, Ron DeSantis, untuk menjadi Presiden AS. Namun akhirnya dia melabuhkan dukungan kepada Trump demi mengalahkan Partai Demokrat.

Donald Trump Elon Musk

Presiden AS Donald Trump sedang menunggu untuk berbicara di telepon dengan Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar untuk memberi selamat kepadanya atas kemenangan pemilihannya baru-baru ini di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, DC, pada tanggal 27 Juni 2017. (Kiri)CEO Tesla Elon Musk sedang melihat teleponnya selama pelantikan Donald Trump sebagai presiden ke-47 Amerika Serikat di Rotunda Gedung DPR AS di Washington, DC, pada tanggal 20 Januari 2025.AFP/ NICHOLAS KAMM

Kolumnis The Guardian, David Smith, telah memprediksi potensi keretakan hubungan Trump dan Musk sejak Februari 2025. Menurut David, hubungan keduanya bertahan karena kesamaan kepentingan. Sumbangsih Musk dalam menyumbangkan dana kampanye hingga 288 juta dollar untuk Trump, berbalas Trump yang memberi jabatan Musk. Bukan sekadar jabatan, DOGE juga punya kewenangan dan akses yang tiada batas untuk mengintervensi lintas departemen di kabinetnya.

Dari serangkaian kejadian yang menguap belakangan, reaksi Trump masih terhitung ringan. Smith menduga bahwa Trump masih ingin memanfaatkan Musk, terutama dari segi kekayaannya demi kepentingan politiknya.

“Menjadi aman untuk berasumsi bahwa Donald Trump selalu mengagumi kekayaan dan hanya ada segelintir orang di planet ini yang dapat diandalkan dalam hal kekayaan dan Musk adalah salah satunya," tulis Smith dalam analisisnya.

Baca juga artikel terkait PEMERINTAHAN DONALD TRUMP atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - News Plus
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Alfons Yoshio Hartanto