tirto.id - Chief Economist Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Reza Yamora Siregar, menilai tidak sulit untuk mendatangkan investor-investor potensial untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Bahkan, menurutnya banyak investor potensial dari Cina, Jepang, hingga Uni Eropa ingin datang untuk berinvestasi ke sektor-sektor industri yang ada di dalam negeri.
"Ini sebetulnya, maaf Ibu, Bapak, tidak sulit-sulit banget. Indonesia ini banyak kedatangan potential investor. Banyak sekali (investor) yang pengen involve dari Cina, dari Jepang, dari European Union. Yang pengen masuk ke industri-industri kita," katanya, dalam diskusi bertajuk Arah Danantara ke Depan untuk Kemandirian Ekonomi: Sovereign Fund atau Agent of Development’, Senin (11/8/2024).
Dari tingginya minat investor tersebut, menurut Reza, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengerek realisasi investasi sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor-sektor Investasi yang dapat digeber pun beragam, mulai dari hilirisasi sumber daya alam seperti nikel, hingga pengolahan sampai menjadi bahan bakar terbarukan.
Tak hanya itu, Indonesia melalui Danantara juga didukung oleh permodalan yang cukup kuat untuk memacu realisasi investasi. Reza menyebutkan, sampai saat ini Danantara telah memegang komitmen investasi dari Qatar Investment Authority senilai 2 juta dolar Amerika Serikat (AS), selain juga ada dari Cina dan berbagai Dana Kekayaan Negara (Sovereign Wealth Fund/SWF) dari berbagai negara lainnya.
"Qatar akan kasih kita 2 bilion, atau berapa pun juga, sampai 2 bilion kalau kita ada proyeknya dan kita juga taruh uang kita yang sama jumlahnya. Jadi, itu bukan cash yang dikasih ke kita, kemudian kita investasi, kita co-investment. So again, kita berhasil mendapatkan angka uang kita sendiri dari hasil kinerja kita, dari BUMN kita, kemudian kita investasikan," jelasnya.
Namun, untuk meningkatkan kontribusi investasi dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, koordinasi antara holding BUMN yang sudah ditunjuk dengan Danantara Investment Management sebagai pengelola investasi negara menjadi penting.
"Investasi mesti tahu, kira-kira berapa yang bisa didapatkan dari holding. Holding juga mesti siap, nanti saya sedikit spending bit of time dengan bentuk yang bagian holding. Harus siap juga untuk memberikan kepastian berapa cashflow yang kita bisa terima. Dan ini dikoordinasi di BPI Danantara," lanjut Reza.
Tidak kalah penting, agar tidak membebani keuangan negara, investasi dari dalam negeri juga harus digenjot, agar bisa tumbuh lebih tinggi dari Penanaman Modal Asing (PMA). Menurut Reza, investasi yang dominan dengan PMA justru akan berdampak buruk pada neraca pembayaran Indonesia, yang pada akhirnya dapat memicu lonjakan utang luar negeri.
Melalui berbagai upaya inilah, Reza yakin Indonesia dapat tumbuh menjadi seperti Cina, Taiwan, Korea Selatan, hingga Jepang, yang pertumbuhan ekonominya ditopang oleh realisasi investasi.
"Di sini Bapak Presiden ada Asta Cipta, ada 8 target, downstream, self-reliance, food security, energy security, renewable energy, low carbon energy merupakan target juga. Produktivitas, supply value chain, teknologi merupakan target, ekonomi biru juga menjadi target kita. Infrastructure, upstream. Jadi, tidak hanya downstream tapi juga upstream, jadi dari hulu ke hilir, dan juga human capital," tukas Reza.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































