tirto.id - Pemerintah menargetkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek-proyek hilirisasi maupun proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (Waste to Energy/WtE) alias Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) pada April 2026.
Hal ini disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi setelah melakukan pertemuan dengan Danantara dan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2026).
"Beberapa proyek hilirisasi yang kita harapkan bulan ini bisa segera groundbreaking. Kemarin kan ada 6 yang sudah groundbreaking, sebelumnya ada Waste to Energy," ujar dia, dikutip Kamis (2/4/2026).
Sementara itu, soal proyek WtE, kata Prasetyo, kendati sebelumnya pemerintah menargetkan pembangunan PLTSa akan dilakukan di 33 lokasi, namun setelah adanya pembahasan lebih lanjut proyek yang diinisiasi untuk mengatasi masalah sampah di Indonesia ini akan dikurangi menjadi 29 lokasi.
Ada penggabungan di beberapa lokasi, sehingga membuat rencana pembangunan PLTSa ini disunat menjadi lebih sedikit.
"Tadinya 33 tempat, tapi ternyata dalam proses di lapangan ada penggabungan-penggabungan beberapa tempat sehingga menjadi kurang lebih 29," tutur dia.
"Jadi, kita berharap dua-duanya, baik yang waste to energy maupun yang hilirisasi, di bulan April ini semua bisa segera groundbreaking," lanjut Prasetyo.
Sementara itu, groundbreaking 6 proyek hilirisasi pertama dilakukan Danantara pada Februari lalu. Total investasi dari keenam proyek tersebut ditaksir mencapai 7 miliar dolar AS atau setara dengan Rp118,2 triliun (kurs Rp16.887 per dolar AS).
"Kami memastikan bahwa program ini tidak hanya memberikan return yang baik, tapi juga dari segi penciptaan lapangan pekerjaan, penciptaan nilai tambah, yang akan memberi dampak positif ke pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, di Wisma Danantara Jumat (6/2/2026).
Pelaksanaan proyek melibatkan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). MIND ID menangani fasilitas aluminium dan SGAR 2. Sedangkan, proyek bioetanol dikerjakan oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) bersama Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), sementara Pertamina juga menangani pabrik biorefinery di Cilacap.
ID FOOD menggarap peternakan unggas terintegrasi, dan PT Garam bertanggung jawab atas pabrik garam. Rosan menyebut keenam proyek ini sebagai bagian dari instruksi Presiden untuk mempercepat hilirisasi.
“Bapak Presiden menekankan percepatan proyek-proyek hilirisasi yang berdampak langsung bagi ekonomi dan masyarakat. Oleh sebab itu kalau kita lihat memang kontribusi dari hilirisasi ini meningkat,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa ini baru tahap pertama dari rencana yang lebih besar. Setelah melalui studi kelayakan yang komprehensif, Danantara menargetkan total 18 proyek hilirisasi dapat diselesaikan secepat mungkin.
“Ini adalah fase pertama karena kita melihat akan ada total 18 proyek hilirisasi yang kami canangkan akan kami selesaikan dalam waktu sesegera mungkin. Oleh sebab itu memang ini adalah salah satu program prioritas kami,” ucapnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id







































