Menuju konten utama

Danantara Buka Tender Proyek PSEL Tahap 2 di 25 Kota Bulan Ini

Jumlah kota pada gelombang kedua ini jauh lebih banyak dibandingkan tahap pertama karena tingginya minat pemerintah daerah.

Danantara Buka Tender Proyek PSEL Tahap 2 di 25 Kota Bulan Ini
Rohan Hafas dalam Media Coffee Morning with Danantara Indonesia, di Pappa Jack, Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Jumat (31/10/2025). tirto.id/Qonita
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Danantara Indonesia akan membuka tender proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) tahap kedua untuk 25 kota pada bulan ini, April 2026.

Managing Director Stakeholder Management and Communications Danantara, Rohan Hafas, mengungkapkan jumlah kota pada gelombang kedua ini jauh lebih banyak dibandingkan tahap pertama karena tingginya minat pemerintah daerah.

“Ada 25 kota di batch kedua. Jadi hampir semua ibu kota provinsi akan mendapatkan fasilitas pengolahan sampah,” ujarnya dalam konferensi pers soal PSEL di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Rohan menyebut kemungkinan pemenang tender tahap kedua masih bisa berasal dari negara yang sama dengan pemenang pertama, yaitu China.

Sebelumnya, proyek PSEL di Bogor dan Denpasar dimenangkan oleh Zhejiang Weiming, sementara proyek Bekasi diraih oleh Wangneng Environment Co., Ltd.

Lead of Waste-to-Energy sekaligus Director of Investment Danantara Investment Management (DIM), Fadli Rahman, menjelaskan tidak semua daerah bisa menjadi lokasi proyek PSEL. Hanya wilayah dengan volume sampah minimal 1.000 ton per hari yang memenuhi syarat.

“Jadi, pemda-nya harus mungkin, pemda-nya harus siap, lokasinya pun tersebut harus sesuai dengan threshold yang ada di peraturan,” ujar Fadli.

Selain ambang batas volume sampah, proyek juga wajib lolos kajian teknis, komersial, finansial, hingga manajemen risiko. “Harus lulus semua. Teknisnya harus lulus, komersialnya lulus, finansinya lulus, kajian management risk juga lulus,” tuturnya.

Nilai investasi masing-masing proyek diperkirakan mencapai Rp2,5 triliun hingga Rp2,8 triliun.

Sementara itu, Rohan Hafas mengungkap akar persoalan sampah nasional ternyata sederhana, yakni ketidakmampuan masyarakat membayar iuran pengangkutan sampah sebesar Rp10.000 hingga Rp15.000 per rumah tangga per bulan.

Berdasarkan kajian Bank Dunia, sekitar 50 persen sampah di Indonesia tidak terkelola dengan baik dan berakhir di jalanan atau sungai.

“Kenapa? Hanya karena Rp10.000 sampai dengan Rp15.000 per rumah tangga tidak mampu membayar iuran bulanan ke tukang angkut sampah yang dikelola RT, RW atau kelurahan. Jadi mereka buang saja diam-diam di pinggir jalan atau di kali,” ujarnya.

Kondisi ini, kata Rohan, menjadi akar darurat sampah di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Bali. Karena itu, Danantara mendorong percepatan proyek waste to energy sebagai solusi jangka panjang.

Baca juga artikel terkait DANANTARA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana