tirto.id - Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selama menjabat sebagai Kepala BGN, Dadan dikenal kerap memicu kontroversi. Apa saja?
Kejaksaan Agung menetapkan Dadan Hindayana bersama dua mantan Wakil Kepala BGN, Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya, sebagai tersangka atas dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam pengelolaan program MBG periode 2025–2026.
Ketiganya diduga terlibat dalam penyelewengan dana insentif untuk Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG), penunjukan yayasan mitra yang terafiliasi secara melawan hukum, serta penyimpangan dalam proses pengadaan barang dan jasa.
Setelah ditetapkan sebagai tersangka, ketiganya langsung menjalani penahanan untuk kepentingan penyidikan.
Daftar Kontroversi Dadan Hindayana Selama Jabat Kepala BGN
Kasus hukum yang menjerat Dadan Hindayana tersebut kembali mengingatkan publik pada berbagai kontroversi yang mewarnai masa kepemimpinannya di BGN.
Selama menjabat, ia kerap menjadi sorotan bukan hanya karena kebijakan Program MBG, namun juga sejumlah pernyataannya yang memicu perdebatan.
Berikut daftar kontroversi Dadan Hindayana selama menjadi Kepala BGN:
1. Minum susu 2 liter per hari agar anak tumbuh tinggi
Dalam acara peluncuran pembangunan 1.000 SPPG Pesantren di Bangkalan, Jawa Timur, pada 26 Mei 2025, Dadan menjelaskan bahwa masa pertumbuhan paling menentukan bagi anak berada pada rentang usia 12 hingga 16 tahun.Untuk memperkuat argumennya, Dadan menjelaskan jika salah satu anaknya bahkan menghabiskan hingga dua liter susu per hari selama masa pertumbuhan.
"Kenapa? Karena minum susunya diwajibkan sama ibunya dari kecil sampai SMA kelas 2. Pada saat pertumbuhan anak saya yang kecil itu minum susunya 2 liter sehari, jadi tulangnya besar-besar. makanya tubuhnya tinggi, jadi tinggi badan tidak hanya masalah genetik tapi juga makanan," ucapnya.
2. Ulat sagu dan belalang sebagai menu MBG
Salah satu pernyataan Dadan Hindayana yang memicu perdebatan selama memimpin BGN adalah wacananya mengenai kemungkinan penggunaan serangga, seperti belalang dan ulat sagu, sebagai sumber protein dalam Program MBG.Gagasan tersebut disampaikan dalam konteks pemanfaatan pangan lokal untuk mendukung diversifikasi menu MBG. Menurut Dadan, BGN tidak menetapkan standar menu nasional yang seragam untuk seluruh daerah, melainkan hanya menetapkan standar kandungan gizi yang harus dipenuhi.
"Mungkin saja ada satu daerah suka makan serangga (seperti) belalang, ulat sagu, bisa jadi bagian protein,” kata Dadan saat pemaparan dalam Rapimnas Perempuan Indonesia Raya pada 25 Januari 2025.
3. Polemik susu ikan sebagai menu MBG
Pada September 2024, perdebatan bermula ketika muncul usulan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) agar produk yang populer disebut sebagai susu ikan dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari menu program MBG.Menanggapi usulan tersebut, Dadan menyatakan bahwa BGN terbuka terhadap berbagai inovasi pangan yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh produk yang akan masuk ke dalam program MBG harus melalui proses uji coba terlebih dahulu.
Dadan berusaha meluruskan persepsi publik yang berkembang mengenai istilah "susu ikan". Ia menegaskan bahwa yang dimaksud sebenarnya bukanlah susu yang berasal dari ikan sebagaimana susu sapi atau susu kambing, melainkan produk olahan berbasis protein ikan.
4. Wacana MBG sampai Arab Saudi
Menjelang akhir masa jabatannya, Dadan mengusulkan kemungkinan penerapan MBG untuk siswa Indonesia di Arab Saudi.Dadan saat itu mengatakan akan membawa usulan tersebut pada Presiden Prabowo dan jika disetujui maka Sekolah Indonesia di Jeddah akan menjadi yang yang pertama menerima MBG di luar negeri.
Ide ini menuai kritik karena banyak pihak menilai program di dalam negeri saja masih menghadapi berbagai masalah, mulai dari kualitas makanan hingga kasus keracunan.
5. Polemik susu formula jadi menu MBG
Kontroversi muncul setelah beredar narasi bahwa program MBG akan membagikan susu formula secara luas kepada bayi dan balita. Isu tersebut memicu kekhawatiran sejumlah tenaga kesehatan, pegiat ASI, dan kelompok pemerhati kesehatan ibu dan anak karena dinilai berpotensi bertentangan dengan kampanye pemberian ASI eksklusif yang selama ini didorong pemerintah.Menanggapi polemik tersebut, Dadan secara terbuka membantah anggapan bahwa MBG akan menggantikan ASI dengan susu formula atau membagikan susu formula secara massal kepada bayi.
Namun, Dadan juga membenarkan bahwa terdapat kemungkinan penggunaan produk susu tertentu untuk kelompok sasaran lain dalam kondisi khusus.
"Artinya bukan untuk pengganti ASI, bukan untuk dibagikan bebas atau massal, bukan untuk promosi industri susu, dan hanya diberikan pada kasus tertentu serta waktu tertentu sesuai regulasi yang berlaku," jelasnya dikutip Antara (22/5/2026).
6. Pernyataan soal tingkat keracunan MBG hanya 0,5 persen
Ketika muncul sejumlah kasus keracunan makanan dalam program MBG, Dadan menyatakan kepada Kompas (25/4/2025) bahwa secara kuantitatif tingkat kejadian hanya sekitar 0,5 persen.Pernyataan ini memicu kritik karena dianggap terlalu berfokus pada statistik dan kurang menyoroti dampak terhadap korban, terutama setelah beberapa kasus menjadi kejadian luar biasa (KLB).
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id




























