tirto.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dipimpin sejumlah tokoh sejak berdiri pada 1948. Para direktur jenderal (Dirjen) WHO punya latar dan pengalaman berbeda-beda, terutama di bidang kedokteran, kesehatan masyarakat, pemerintahan, dan kebijakan kesehatan global.
Daftar Dirjen WHO jadi perhatian jelang pemilihan pemimpin baru pada 2027. Menteri Kesehatan (Menkes) Indonesia Budi Gunadi Sadikin resmi masuk sebagai salah satu kandidat.
Merujuk keterangan di situs resmi WHO, terdapat empat kandidat calon Dirjen WHO, masing-masing yakni Dr Hanan Mohammed Al-Kuwari (Qatar), Dr Hanan Balkhy (Arab Saudi), Dr Hans Henri P. Kluge (Belgia), dan Budi Gunadi Sadikin (Indonesia).
Menariknya, latar belakang Budi Gunadi berbeda dari sebagian besar Dirjen WHO sebelumnya. Ia bukan dokter, melainkan lulusan fisika nuklir dengan sederet pengalaman di sektor perbankan dan perusahaan milik negara di Indonesia. Selain itu, sosok tersebut juga menjabat sebagai Menkes di Indonesia sejak Desember 2020.
Lantas, siapa saja tokoh yang pernah menjabat sebagai Dirjen WHO? Berikut daftar Dirjen WHO dari masa ke masa beserta profil singkatnya, merujuk situs resmi WHO.
Daftar Dirjen WHO 1948-2026
| Nama (tahun menjabat) | Negara asal dan keterangan |
|---|---|
| George Brock Chisholm (1948 - 1953) | Kanada - Dirjen WHO pertama yang turut membentuk visi awal WHO mengenai kesehatan. |
| Marcolino Gomes Candau (1953 - 1973) | Brasil - Dirjen WHO kedua yang memimpin organisasi selama 20 tahun dan berperan dalam pemberantasan cacar, malaria, serta onchocerciasis. |
| Halfdan Mahler (1973 - 1988) | Denmark - Dirjen WHO ketiga yang mendorong penguatan layanan kesehatan dasar dan gagasan Health for All by 2000. |
| Hiroshi Nakajima (1988 - 1998) | Jepang - Dirjen WHO keempat dan warga Jepang pertama yang memimpin badan PBB. Pada eranya, WHO meluncurkan Global Polio Eradication Initiative. |
| Gro Harlem Brundtland (1998 - 2003) | Norwegia - Dokter dan mantan Perdana Menteri Norwegia yang sebelumnya memimpin World Commission on Environment and Development. |
| Lee Jong-wook (2003 - 2006) | Korea Selatan - Dokter yang berpengalaman dalam pemberantasan tuberkulosis, vaksinasi, dan berbagai program kesehatan global WHO. |
| Anders Nordstrom (2006 - 2007) Pelaksana Tugas | Swedia - Menjabat sebagai Acting Director-General setelah Lee Jong-wook meninggal hingga Margaret Chan mulai menjabat. |
| Margaret Chan (2007 - 2017) | China - Dokter yang sebelumnya memimpin kesehatan masyarakat di Hong Kong dan berpengalaman menangani wabah avian influenza serta SARS. |
| Tedros Adhanom Ghebreyesus (2017 - 2027) | Ethiopia - Dirjen WHO kedelapan. Bukan dokter, tetapi memiliki gelar MSc dalam infectious diseases dan pengalaman sebagai Menteri Kesehatan serta Menteri Luar Negeri Ethiopia. |
1. George Brock Chisholm (1948-1953)
George Brock Chisholm menjadi Dirjen WHO pertama sejak organisasi ini resmi berdiri pada April 1948. Pria kelahiran Oakville, Ontario, Kanada, pada 18 Mei 1896 ini menempuh pendidikan kedokteran di University of Toronto sebelum akhirnya lanjut mendalami psikiatri dan kesehatan mental anak di Yale University.Semasa Perang Dunia II, Chisholm bertugas di militer, mencapai pangkat mayor jenderal sebagai Director of Medical Services. Kariernya kemudian berlanjut ke ranah kebijakan publik ketika ia diangkat menjadi Deputy Minister of Health Kanada pada 1944, lalu menjabat Executive Secretary WHO Interim Commission pada 1946.
Chisholm turut mengusulkan nama World Health Organization dan berperan merumuskan definisi kesehatan sebagai kesejahteraan fisik, mental, dan sosial. Selama masa jabatannya, WHO menghadapi wabah kolera dan malaria. Ia tidak mencalonkan diri kembali pada 1953.
2. Marcolino Gomes Candau (1953-1973)
Marcolino Gomes Candau memimpin WHO selama dua dekade sebagai Dirjen WHO kedua, periode terpanjang dalam sejarah organisasi ini. Candau lahir di Rio de Janeiro, Brasil, pada 30 Mei 1911. Ia menempuh pendidikan kedokteran di negara asalnya, lalu melanjutkan studi kesehatan masyarakat di Johns Hopkins University, Amerika Serikat.Sebelum bergabung dengan WHO, Candau lebih dulu berkiprah dalam program kesehatan masyarakat Pemerintah Brasil. Candau resmi masuk WHO pada 1950, sempat menjajaki sejumlah posisi sebelum akhirnya terpilih sebagai Dirjen pada 1953.
Di bawah kepemimpinannya, jumlah negara anggota WHO melonjak dari 81 menjadi 138, seiring bertambahnya staf dan anggaran organisasi secara signifikan. Ia dikenal luas melalui upaya pemberantasan cacar, malaria, dan onchocerciasis. Candau pensiun pada 1973 setelah menjabat lebih dari tiga periode. Atas kontribusinya, dia menerima gelar Director-General Emeritus.
3. Halfdan Mahler (1973-1988)
Halfdan Theodor Mahler dari Denmark menjadi Dirjen WHO ketiga. Sosok kelahiran 21 April 1923 tersebut punya gelar kedokteran dari University of Copenhagen pada 1948, lalu memulai kiprah internasionalnya via program pemberantasan tuberkulosis, termasuk memimpin kampanye antituberkulosis di Ekuador.Mahler bergabung dengan WHO pada 1951, menghabiskan hampir satu dekade untuk bekerja di India dalam program tuberkulosis nasional. Setelah menduduki berbagai posisi di organisasi tersebut, ia terpilih sebagai Dirjen pada 1973.
Sepanjang kepemimpinannya, Mahler berfokus memperkuat layanan kesehatan dasar, terutama bagi masyarakat miskin dan kelompok kurang terlayani. Pada 1976, ia memperkenalkan tujuan ambisius Health for All by 2000, yang kemudian diwujudkan melalui strategi global WHO pada 1979.
Selama masa jabatannya, program imunisasi anak juga berkembang pesat.
4. Hiroshi Nakajima (1988-1998)
Hiroshi Nakajima merupakan Dirjen WHO keempat sekaligus warga Jepang pertama yang memimpin badan Perserikatan Bangsa-Bangsa ini. Nakajima lahir di Chiba, Jepang, pada 16 Mei 1928. Ia meraih gelar kedokteran serta PhD dalam ilmu kedokteran. Sebelum bergabung dengan WHO, Nakajima berkecimpung dalam penelitian psikofarmakologi di Perancis, kemudian di pusat penelitian Roche, Tokyo.Ia masuk WHO pada 1973 sebagai ilmuwan bidang evaluasi dan pengawasan obat, lalu terpilih sebagai Regional Director untuk kawasan Western Pacific pada 1979. Sembilan tahun kemudian, Nakajima terpilih sebagai Dirjen menggantikan Halfdan Mahler.
Selama kepemimpinannya, WHO meluncurkan Global Polio Eradication Initiative pada 1988, juga memperkuat kampanye melawan malaria serta penyakit menular lainnya. Program DOTS untuk penanganan penyakit tuberkulosis juga dimulai pada periode keduanya.
5. Gro Harlem Brundtland (1998-2003)
Gro Harlem Brundtland menjadi Dirjen WHO kelima, lahir di Oslo, Norwegia, pada 20 April 1939 dengan latar belakang gelar kedokteran serta Master of Public Health. Sebelum memimpin WHO, ia berkarier sebagai dokter dan ilmuwan, lalu terjun ke dunia politik sampai menjabat Menteri Lingkungan Hidup Norwegia pada 1974.Brundtland kemudian menjadi Perdana Menteri Norwegia selama tiga periode dengan total lebih dari 10 tahun masa jabatan. Ia juga memperoleh pengakuan internasional sebagai ketua World Commission on Environment and Development, yang menghasilkan laporan Our Common Future pada 1987, serta mempopulerkan konsep pembangunan berkelanjutan.
WHO Executive Board mencalonkannya sebagai Dirjen pada 1998, lalu World Health Assembly resmi memilihnya pada Mei tahun yang sama. Brundtland mulai menjabat pada 21 Juli 1998 hingga 2003.
6. Lee Jong-wook (2003-2006)
Lee Jong-wook, Dirjen WHO keenam, merupakan tokoh Korea Selatan. Ia meraih gelar dokter dari Seoul National University Medical School serta Master of Public Health dari University of Hawaii. Lee bergabung dengan WHO pada 1983 sebagai konsultan program pemberantasan kusta di kawasan Pasifik Selatan, lalu berkarier di WHO Western Pacific Regional Office sebelum akhirnya memimpin Global Programme for Vaccines and Immunization.Pada 2000, ia menjadi Director of the Stop TB Department dan membangun Global Partnership to Stop TB serta Global Drug Facility untuk memperluas akses terhadap obat tuberkulosis.
Lee terpilih sebagai Dirjen WHO pada 2003. Selama kepemimpinannya, WHO meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control, memperbarui International Health Regulations, dan memimpin respons terhadap sejumlah krisis kesehatan global. Ia meninggal mendadak pada 22 Mei 2006 saat masih menjabat.
7. Anders Nordstrom (2006-2007) - Pelaksana Tugas
Anders Nordstrom bukan Dirjen WHO definitif, melainkan menjalankan tugas tersebut sebagai Acting Director-General setelah ditunjuk WHO Executive Board pada 23 Mei 2006, sehari usai Lee Jong-wook meninggal dunia. Ia bertugas sampai 3 Januari 2007.Nordstrom merupakan dokter asal Swedia dengan pengalaman luas di bidang pembangunan dan kebijakan kesehatan nasional maupun internasional. Sebelum menjadi pelaksana tugas Dirjen, ia menjabat sebagai WHO Assistant Director-General for General Management sejak 2003.
Karier internasionalnya mencakup pekerjaan bersama Swedish Red Cross di Kamboja dan International Committee of the Red Cross di Iran, serta 12 tahun pengabdian di Swedish International Development Cooperation Agency.
ada 2002, Nordstrom sempat jadi Interim Executive Director Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria. Setelah masa transisi berakhir, kepemimpinan WHO diserahkan kepada Margaret Chan.
8. Margaret Chan (2007-2017)
Margaret Chan selaku Dirjen WHO ketujuh berasal dari China. Ia meraih gelar kedokteran dari University of Western Ontario, Kanada, lalu memulai karier kesehatan masyarakat di Hong Kong Department of Health pada 1978.Chan kemudian menjabat Director of Health Hong Kong pada 1994, memimpin lembaga tersebut selama sembilan tahun, mengembangkan layanan pencegahan penyakit, pengawasan penyakit menular, serta kerja sama kesehatan. Ia juga berpengalaman menangani wabah avian influenza dan SARS.
Chan bergabung dengan WHO pada 2003 sebagai Director of the Department for Protection of the Human Environment, lalu pada 2005 menangani Communicable Diseases Surveillance and Response serta urusan pandemi influenza.
Ia terpilih sebagai Dirjen pada November 2006, mulai bertugas pada 4 Januari 2007. Chan kembali mendapat mandat kedua pada 2012 hingga akhirnya mengakhiri masa jabatan pada 30 Juni 2017.
9. Tedros Adhanom Ghebreyesus (2017-2027)
Tedros Adhanom Ghebreyesus merupakan Dirjen WHO kedelapan sekaligus tokoh asal Ethiopia, yang mulai menjabat pada 1 Juli 2017 menggantikan Margaret Chan. Latar belakangnya berbeda dari sebagian besar pendahulunya karena ia bukan dokter, melainkan memiliki gelar MSc di bidang infectious diseases.Sebelum memimpin WHO, Tedros pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan dan Menteri Luar Negeri Ethiopia, pengalaman yang membekalinya dengan wawasan kebijakan kesehatan, pemerintahan, dan diplomasi internasional.
Pada 2022, World Health Assembly kembali memilihnya untuk masa jabatan kedua, yang dimulai pada 16 Agustus 2022 dan segera berakhir 16 Agustus 2027. Salah satu tantangan terbesar dalam kepemimpinannya yakni pandemi Covid-19, yang menguji kapasitas WHO dalam merespons krisis kesehatan global.
Tedros akan digantikan oleh Dirjen baru yang dipilih dalam World Health Assembly pada 2027.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id





































