Ciri-Ciri Anak Berkepribadian Introvert: Penyebab & Cara Menghadapi

Kontributor: Nurul Azizah, tirto.id - 18 Agu 2022 07:45 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Anak berkepribadian introvert biasanya memiliki ciri-ciri khusus yang dikenali lewat perilakunya, berikut penyebab dan cara menghadapinya.
tirto.id - Intovert merupakan salah satu jenis kepribadian yang dipandang dari segi psikologi. Kepribadian ini bisa dikembangkan oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Anak berkepribadian introvert biasanya memiliki ciri-ciri khusus yang dapat dikenali lewat perilakunya.

Kepribadian introvert berbanding terbalik dengan ekstrovert. Oleh karena itu, orang dewasa sebaiknya memahami bagaimana cara yang tepat untuk menghadapi anak-anak dengan kepribadian tersebut.

Menurut WebMD, anak introvert merasa lebih nyaman berfokus pada pemikiran dan gagasan batin mereka, daripada apa yang terjadi secara eksternal. Mereka menikmati menghabiskan waktu hanya dengan satu atau dua orang, daripada kelompok besar atau orang banyak.

Energi anak introvert mudah terkuras dengan bersosialisasi dan membutuhkan banyak waktu istirahat. Perlu diketahui bahwa intovert bukan penyakit atau kelainan. Menjadi seorang introvert bukanlah hal yang salah. Psychology Today mencatat 30 hingga 50 persen populasi adalah introvert.

Seorang introvert dapat tumbuh berkembang, keluar dari zona nyaman, mengembangkan keterampilan baru atau mendapatkan perspektif baru tentang kehidupan. Namun, temperamen kepribadian introvert dan ekstrovert sebagian besar berupa bawaan.

Para ahli setuju bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang dimiliki sejak lahir dan sebagian besar tetap stabil sepanjang hidup.

Menurut Dr. Marti Olsen Laney dalam The Hidden Gifts of the Introverted Child, anak-anak mulai menunjukkan tanda-tanda introvert atau ekstrovert sekitar usia empat bulan. Mulai usia tersebut anak-anak umumnya tetap setia pada kodrat mereka hingga menjadi orang dewasa.

Penyebab Anak Memiliki Kepribadian Introvert


Melansir WebMD, para ilmuwan tidak bisa memastikan apakah ada penyebab introvert atau ekstrovert. Apa yang mereka ketahui adalah otak kedua tipe kepribadian bekerja sedikit berbeda satu sama lain.

Para peneliti telah menemukan bahwa introvert memiliki aliran darah yang lebih tinggi ke lobus frontal mereka daripada ekstrovert. Bagian otak ini membantu Anda mengingat sesuatu, memecahkan masalah, dan merencanakan ke depan.

Otak introvert juga bereaksi berbeda terhadap dopamin daripada otak ekstrovert. Itu adalah bahan kimia yang mengaktifkan bagian otak manusia yang mencari hadiah dan kesenangan.

Introvert dan ekstrovert memiliki jumlah bahan kimia yang sama, tetapi otak ekstrovert mendapatkan gebrakan yang bersemangat dari pusat penghargaan mereka. Introvert, di sisi lain, cenderung hanya merasa lelah karenanya.



Ciri-ciri Anak Introvert


Menurut Psychology Today, anak-anak introvert cenderung memiliki tujuh karakteristik yang bisa dikenali. Namun, tidak semua anak-anak introvert pasti memiliki setiap karakteristik tersebut. Tidak ada dua introvert yang sama persis karena pastinya orang-orang introvert tetap memiliki perbedaan.

Kendati demikian, karakteristik tersebut dapat membantu orang tua untuk mengenali ciri-ciri kepribadian anak mereka dan cara yang tepat untuk menghadapinya. Berikut ciri-ciri anak dengan kepribadian introvert:

1. Dunia Batin yang Hidup


Anak intovert cenderung mengandalkan batin mereka daripada terus-menerus beralih ke orang lain untuk mendapatkan dukungan dan bimbingan. Anak-anak introvert menyukai permainan imajinatif, dan bermain sendiri atau hanya dengan satu atau dua anak lain.

Mereka sering menghabiskan waktu di kamar dengan pintu tertutup, melakukan hal-hal yang menyendiri seperti membaca, menggambar, atau bermain game komputer. Memiliki dunia batin yang kaya bisa menjadi pedang bermata dua.

Dimungkinkan mereka merasa terisolasi dan terasing dari orang lain. Oleh karena itu, penting bagi orang tua anak-anak introvert untuk membantu mereka melihat bagaimana temperamen mereka dapat menjadi sumber kekuatan.

2. Terlibat dengan Aspek Kehidupan secara Mendalam


Anak introvert tidak takut dengan pertanyaan besar. Mereka ingin tahu mengapa sesuatu seperti itu atau apa artinya pada tingkat yang lebih dalam.

Bahkan di usia mereka yang masih muda, banyak anak-anak introvert yang dapat melangkah keluar dari diri mereka sendiri serta merenungkan perilaku mereka sendiri. Anak-anak introvert SERING ingin memahami diri mereka sendiri, semua orang, dan segala sesuatu di sekitar mereka.

3. Mengamati Dulu, Bertindak Kemudian


Anak introvert umumnya lebih suka menonton permainan atau aktivitas sebelum bergabung. Mereka terkadang tampak ragu-ragu dan berhati-hati. Biasanya anak introvert tidak langsung mengambil tindakan, tetapi mengamatinya dulu.

Ketika akan bertindak pun mereka akan memasuki situasi baru secara perlahan. Mereka mungkin lebih energik dan banyak bicara di rumah, tempat mereka merasa lebih nyaman.

4. Membuat Keputusan Berdasarkan Nilai-Nilai Mereka Sendiri


Pikiran dan perasaan anak introvert cenderung mengikat. Hal ini menyebabkan mereka cenderung memutuskan sesuatu berdasarkan standar mereka sendiri daripada mengikuti orang banyak.

Ini bisa menjadi aspek yang sangat positif dari sifat mereka, karena itu berarti mereka kurang rentan terhadap tekanan teman sebaya. Mereka tidak melakukan hal-hal hanya untuk menyesuaikan diri.

5. Butuh Waktu untuk Mengetahui Kepribadian Mereka


Sama seperti orang dewasa yang introvert, anak-anak introvert menerima orang baru secara perlahan. Mereka mungkin pendiam pertama kali bertemu dengan, tetapi jika sudah nyaman mereka bisa jadi menunjukkan sikap akrab.

Tujuan mereka dalam percakapan seringkali untuk lebih memahami dunia batin mereka sendiri atau orang lain. Mereka menghargai hubungan dan benar-benar mengenal seseorang pada tingkat yang lebih dalam.

Sebagaimana orang dewasa introvert, anak-anak introvert juga mampu bertindak sebagai pendengar yang baik. Mereka mungkin berbicara dengan lembut, sesekali berhenti untuk mencari kata-kata, dan berhenti berbicara jika terganggu.

Anak introvert mungkin memalingkan muka ketika berbicara untuk mengumpulkan pikiran, tetapi melakukan kontak mata ketika mendengarkan.

6. Berjuang Menghadapi Pandangan Masyarakat


Pandangan yang beredar di masyarakat mengenai introvert dan ekstrovert adalah mereka lebih mengidealkan ekstrovert. Mereka memuji ketegasan, penerimaan kelompok, dan pencapaian eksternal daripada refleksi yang tenang, kesendirian, dan pengambilan keputusan yang cermat.

Pada usia yang lebih muda, anak-anak menghabiskan waktu di penitipan anak kelompok dan prasekolah. Ketika mereka mulai sekolah formal, mereka dapat menghabiskan 6-7 jam sehari dengan lebih banyak anak lain, mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam kerja kelompok.

Keadaan tersebut merupakan hal menantang karena bagi para introvert, Ini menjadi tahun-tahun awal mereka beradaptasi dengan pandangan masyarakat seiring bertambahnya usia.

7. Cara Bersosialisasi yang Berbeda


Anak introvert mungkin hanya memiliki satu atau dua teman dekat dan menganggap orang lain sebagai kenalan. Introvert cenderung memilih mencari kedalaman dalam hubungan daripada keluasan.

Mereka mungkin tidak akan menghabiskan banyak waktu bersosialisasi seperti anak-anak ekstrovert dan harus pergi sendiri setelah beberapa saat untuk mengisi ulang energi mereka.

Seperti orang dewasa introvert, anak-anak introvert memiliki energi sosial yang terbatas. Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk bersosialisasi dapat menyebabkan air mata dan suasana hati yang buruk.

Cara Menghadapi Anak Introvert


Orang tua harus melakukan yang terbaik untuk membantu anak-anak bersiap berhadapan dengan kehidupan dan menjadi sukses.

Cara yang dilakukan orang tua sebaiknya turut mempertimbangkan keadaan kepribadian anak, apakah introvert ataukan ekstrovert. Pendekatan yang dilakukan untuk menghadapi keduanya tentulah berbeda.

Mengutip dari laman Very Well Family, orang tua dengan anak yang introvert dapat menghadapi anak-anaknya dengan langkah-langkah berikut:

  1. Mengenali apa itu kepribadian introvert, mulai dari ciri-ciri atau karakteristiknya hingga perbedaannya dengan masalah mental lain seperti depresi.
  2. Menghargai preferensi anak-anak. Sebagai contoh jika anak-anak lebih senang berteman dengan sedikit anak, maka orang tua tidak perlu khawatir dan memaksa anak untuk melakukan sosialisasi dengan orang lain yang tidak mereka inginkan.
  3. Menerima dan mencintai anak-anak apapun kepribadian mereka. Tunjukkan bahwa orang tua adalah tempat yang aman bagi anak-anak untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangannya secara jujur.
  4. Dukung anak-anak agar nyaman menjalani aktivitas bermain, baik secara individu maupun berkelompok.



Baca juga artikel terkait CIRI ANAK INTROVERT atau tulisan menarik lainnya Nurul Azizah
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Nurul Azizah
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Yonada Nancy

DarkLight