tirto.id - Tim SAR gabungan akhirnya berhasil merampungkan misi evakuasi terhadap 20 pendaki yang terjebak akibat erupsi Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Humas Kantor SAR Ternate, Ichsan, mengonfirmasi bahwa seluruh korban, tercatat sebanyak 17 orang ditemukan dalam kondisi selamat dan 3 orang meninggal dunia, telah berhasil dievakuasi turun dari gunung pada Minggu (10/5/2026).
"Alhamdulillah pada hari Minggu kemarin, kami tim SAR gabungan sudah berhasil mengevakuasi seluruh korban pendaki yang tersesat di Gunung Dukono. Seluruh korban selamat kemarin dibawa ke Rumah Sakit Umum Tobelo," ungkap Ichsan saat dihubungi Tirto, Senin (11/5/2026).
Di balik keberhasilan operasi penyelamatan tersebut, terselip kisah menegangkan dari para personel yang harus bertaruh nyawa menghadapi cuaca ekstrem dan ancaman letusan gunung berapi yang tidak menentu.
Operasi penyelamatan ini jauh dari kata mudah. Tim SAR Ternate beserta unsur gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan masyarakat setempat dihadapkan pada aktivitas vulkanik Gunung Dukono yang sangat fluktuatif.
Menurut Ichsan, saat tim SAR mulai mendekati lereng, interval letusan gunung terjadi sangat rapat, berkisar antara 15 hingga 30 menit, dan melandai hingga satu jam sekali. Kondisi ini diperparah dengan cuaca buruk di puncak gunung.
"Dukono sedang tidak baik-baik saja. Kalau istilahnya orang yang tidak kuat nyalinya, pasti akan gemetar, baru dengar gemuruhnya pasti sudah turun. Di atas itu medannya sangat licin dan hujan deras. Banyak yang mengalami jatuh karena licin, baik terjatuh dengan motor maupun saat jalan kaki," cerita Ichsan.
Meski dihantui bahaya erupsi susulan, rasa tanggung jawab kemanusiaan membuat tim pantang mundur.
"Tanpa kenal lelah, selama tiga hari berturut-turut itu kita naik-turun gunung dari pagi sampai malam," tambahnya.

Dedikasi tim SAR sudah diuji sejak pertama kali informasi darurat ini diterima. Ichsan menuturkan, laporan marabahaya tersebut masuk melalui pancaran sinyal SOS tepat ketika dirinya sedang melatih para siswa baru pendidikan tim SAR di kantornya.
"Dari situ saya langsung tinggalkan semuanya. Dengan pakaian cuman yang ada di badan, langsung bergerak menuju dari Ternate ke Sofifi, dari Sofifi langsung ke Tobelo. Tibanya sudah malam, tanpa istirahat langsung ke posko persiapan, subuhnya langsung naik," kenangnya.
Dalam operasi ini, Kantor SAR Ternate mengerahkan sekitar 25 personel yang terdiri dari 10 orang dari Ternate dan 15 orang dari Pos SAR Tobelo. Operasi berisiko tinggi ini dipimpin langsung oleh Kepala Kantor SAR Ternate selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Iwan Ramdani.

Keterlibatan wisatawan mancanegara asal Singapura dalam insiden ini memberikan dorongan moral yang lebih besar bagi tim SAR gabungan. Bagi Ichsan dan rekan-rekannya, misi ini bukan sekadar tugas penyelamatan biasa, melainkan membawa tanggung jawab nama baik bangsa di mata internasional.
"Karena itu tanggung jawab kami untuk menolong, apalagi ini kan statusnya WNA. Dengan menjaga nama baik marwah, tentunya pertama bangsa dan negara, dan juga Basarnas, kami kerahkan semua kemampuan kami," tegas Ichsan.
Dedikasi tim SAR Indonesia mendapat respons positif dari otoritas negara asal korban.
"Alhamdulillah dengan kerja kerasnya, kita disambut baik atau dinilai baiklah dari negara-negara tetangga. Memang kita tidak menginginkan ini, tapi hal yang sudah terjadi kita harus berusaha untuk memulihkan sama-sama," paparnya.
Usai ditemukannya seluruh korban, pasukan SAR telah ditarik mundur dari kawasan Gunung Dukono. Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara juga mengambil langkah tegas dengan menutup permanen akses pendakian ke Gunung Dukono.

Berkaca dari insiden ini, Ichsan menyayangkan masih adanya pemandu liar yang nekat membawa pendaki melanggar larangan yang sudah ditetapkan, apalagi hingga melibatkan wisatawan mancanegara.
Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan dan perbaikan tata kelola wisata alam agar kejadian serupa tidak terulang.
"Kami berharap para pendaki ke depan harus mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan. Harapannya dari pihak-pihak terkait bisa berkoordinasi supaya wisata ini bisa terkoordinir, ada pengawasan dari kami, supaya hal-hal yang kita tidak inginkan tidak terjadi lagi," tutupnya.
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id




























