tirto.id - Perum Bulog menargetkan dapat mengekspor beras sebanyak 1 juta ton pada 2026. Sejumlah negara di kawasan ASEAN disebut menyampaikan ketertarikan untuk membeli komoditas tersebut.
Kepala Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyebut komunikasi awal via video conference dengan perwakilan dagang negara-negara tujuan telah dilakukan.
Dari komunikasi tersebut, telah muncul sinyal positif dari calon pembeli. Hanya saja menurutnya belum ada kesepakatan terkait dengan harga.
“Kemarin, kami sudah vicon dengan konjen perdagangan di negara-negara ASEAN. Mereka juga sudah mulai menyampaikan keinginannya dari masing-masing negara itu, tinggal nanti kami diskusikan harganya yang belum fix,” ujar Rizal di Kemenko Pangan, Senin (9/2/2026).
Meski demikian, Rizal belum merinci negara ASEAN mana saja yang telah menyatakan minatnya. Dia menegaskan bahwa fokus saat ini adalah memastikan alokasi dan kualitas beras yang akan diekspor memenuhi standar.
“Belum, belum. Yang penting 1 juta ton. Kami dialokasikan 1 juta ton (ekspor),” kata Rizal.
Untuk menembus pasar internasional, Bulog akan menjual beras dengan kualitas premium. Standar yang diterapkan pun mengikuti ketentuan pasar global, termasuk batasan tingkat beras patah.
“Kualitas premium. Pasti kalau yang namanya internasional pecahannya 5 persen,” ucapnya.
Dalam prosesnya, Bulog akan memanfaatkan fasilitas penggilingan milik Wilmar Group yang dipinjam ke Bareskrim Polri. Mesin ini disita dalam kasus beras oplosan yang menjerat perusahaan tersebut beberapa waktu lalu.
“Wilmar sudah diizinkan untuk pinjam pakai, izinnya dari Kabareskrim kemarin. Kami sudah dapat surat izinnya untuk pinjam pakai. Oleh karena itu kami sudah bisa mengolah gabah menjadi beras premium dengan pecahan 5 persen dan kadar air di bawah 14 persen,” ucapnya.
Kuota ekspor beras tahun ini diambil dari stok beras pemerintah. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tercatat sekitar 3,25 juta ton.
Di sisi lain, realisasi penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga terus berjalan, dengan capaian sekitar 902,7 ribu ton per 31 Januari 2026.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id





































