Menuju konten utama

BNPB: Pembangunan Huntara di Sumatra Capai 1.050 Unit

1.050 unit hunian sementara di Sumatra telah terbangun, 600 unit di antaranya dibangun oleh Danantara, 450 unit lainnya oleh BNPB.

BNPB: Pembangunan Huntara di Sumatra Capai 1.050 Unit
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (kedua kiri) membagikan makanan kecil kepada anak-anak terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di lokasi hunian sementara (huntara) III, Desa Konga, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, NTT, Rabu (27/8/2025). ANTARA FOTO/Gregorio J Gilbert/sgd/agr

tirto.id - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, sebanyak 1.050 unit hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana di Sumatra telah terbangun hingga Kamis (1/1/2026).

Dari total tersebut, sebanyak 600 unit di antaranya dibangun oleh Danantara, sementara 450 unit lainnya dibangun oleh BNPB. Laporan tersebut disampaikan Suharyanto di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat melakukan peninjauan pembangunan rumah hunian Danantara di Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026).

“Danantara membangun 600 unit, kemudian dari BNPB tersebar ada 450 unit. Jadi per hari ini total yang sudah terbangun adalah 1.050 unit,” ujar Suharyanto dikutip dari siaran youtube Sekretariat Presiden.

Dalam kesempatan yang sama, Suharyanto juga menyampaikan bahwa di Provinsi Aceh jumlah rumah yang mengalami kerusakan berat akibat bencana tercatat sebanyak 61.795 unit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23.432 kepala keluarga mengajukan permohonan untuk menempati hunian sementara.

Namun demikian, Suharyanto menjelaskan tidak seluruh warga yang rumahnya rusak berat memilih tinggal di huntara. Sebagian warga memilih untuk tinggal bersama keluarga atau kerabat, dengan jumlah mencapai 11.414 orang. Kepada kelompok ini, pemerintah telah menyalurkan bantuan stimulan sebesar Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan, terhitung sejak Desember hingga Februari.

“Banyak masyarakat juga yang menginginkan huntara mandiri dan tidak ingin tinggal di satu titik yang telah ditentukan. Hal ini tetap kami layani dengan pembangunan hunian yang tersebar dan terpisah,” jelasnya.

Suharyanto menambahkan, BNPB juga berkomitmen mendukung kebutuhan satuan operasi tanggap darurat di lapangan. Ia mengungkapkan Markas Besar TNI telah mengajukan permintaan dukungan anggaran lebih dari Rp80 miliar, namun hingga saat ini BNPB baru dapat merealisasikan bantuan sebesar Rp26 miliar.

Menurut Suharyanto, keterbatasan tersebut bukan disebabkan oleh ketiadaan anggaran, melainkan karena proses pertanggungjawaban keuangan yang harus diselesaikan hingga 31 Desember.

“Bukan karena uangnya tidak ada. Pertanggungjawaban keuangan harus selesai per 31 Desember, nanti akan dimulai kembali pada 1 Januari. Jadi tidak ada masalah dari segi keuangan,” ujar Suharyanto.

Ia juga menyampaikan bahwa prajurit TNI yang terlibat langsung dalam penanganan bencana di lapangan mendapatkan uang makan dan uang saku sebesar Rp165 ribu per orang per hari.

“Para prajurit di lapangan mendapatkan uang makan dan uang saku atau uang lelah. Per orang menerima Rp165 ribu,” katanya.

Mendengar penjelasan tersebut, Presiden Prabowo Subianto memberikan interupsi singkat. Kepala negara menilai istilah “uang lelah” kurang tepat disematkan kepada prajurit TNI, karena tentara dituntut untuk selalu siap dan tidak mengenal lelah.

“Kalau tentara jangan disebut uang lelah, karena tentara tidak boleh lelah. Uang semangat, tidak mengenal lelah berbakti kepada bangsa dan negara,” ujar Presiden Prabowo sambil tersenyum.

BNPB melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kembali bertambah. Hingga Kamis (1/1/2026), total korban tewas tercatat sebanyak 1.157 orang, bertambah tiga orang dibandingkan hari sebelumnya.

Terpisah, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan penambahan korban tersebut berasal dari temuan tiga jasad di wilayah Aceh Utara.

“Pada hari ini ditemukan tiga jasad di Aceh Utara sehingga jumlah korban jiwa meninggal dunia meningkat dari 1.154 orang menjadi 1.157 orang,” ujar Abdul dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, Kamis (1/1/2026).

Abdul menjelaskan, hingga saat ini jumlah korban meninggal dunia di Aceh mencapai 530 jiwa dengan 30 orang masih dilaporkan hilang.

Di Sumatra Utara, korban meninggal dunia tercatat sebanyak 365 orang dan 60 orang masih dalam pencarian. Sementara itu, di Sumatra Barat, jumlah korban meninggal dunia mencapai 262 orang dengan 74 orang dilaporkan hilang. Dengan demikian, total korban yang masih dinyatakan hilang di ketiga provinsi tersebut mencapai 165 jiwa.

BNPB menegaskan operasi pencarian dan pertolongan masih terus dilakukan untuk menekan jumlah korban yang masuk dalam daftar pencarian orang. “Operasi pencarian masih terus dilakukan sampai kita mengupayakan jumlah korban atau daftar nama-nama yang masih masuk dalam daftar pencarian orang itu berkurang seminimal mungkin,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait BNPB atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Hendra Friana