Sejarah Indonesia

Biografi KH Zainal & Perjuangan Santri Singaparna Melawan Jepang

Kontributor: Alhidayath Parinduri, tirto.id - 21 Okt 2022 10:53 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Sejarah mencatat, KH Zainal Mustafa menggelorakan semangat para santrinya dalam Peristiwa Singaparna melawan penjajah Jepang.
tirto.id - KH Zainal Mustafa adalah seorang ulama sekaligus pejuang asal Tasikmalaya, Jawa Barat, dan kini telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Sejarah mencatat, KH Zainal Mustafa menggelorakan semangat rakyat dan para santrinya dalam Peristiwa Singaparna untuk melawan penjajah Jepang.

Beralihnya masa pendudukan Belanda ke Jepang pada 1942 awalnya seperti memberikan angin surga kepada rakyat Indonesia. Semula, orang-orang Jepang terlihat sangat baik dan tampak sebagai penyelamat dari penjajahan Belanda. Salah satu contohnya adalah Dai Nippon memberikan kebebasan bagi penduduk untuk menggunakan bahasa Indonesia.

Pada 1943, pemerintah pendudukan Jepang menerapkan aturan baru kepada rakyat Indonesia yang dikenal dengan sebutan Seikerei. Seikerei adalah tradisi yang mewajibkan semua orang membungkukkan badan ke arah matahari terbit. Bagi orang Jepang, itu merupakan penghormatan kepada Tenno Heika (Kaisar Jepang) yang diyakini sebagai titisan dewa matahari.


Dikutip dari Perjuangan Meraih Kemerdekaan (2018) karya Soepriyanto dan Moh. Yatim, bahwa kebiasaan penghormatan tersebut ditentang oleh para ulama di Indonesia, termasuk KH Zainal Mustafa. Perlawanan inilah yang nantinya memantik terjadinya Peristiwa Singaparna.


Biografi KH Zainal Mustafa: Sang Ulama-Pejuang

KH Zainal Mustafa dilahirkan tanggal 1 Januari 1899 di Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, dengan nama Hudaemi. Namanya berganti menjadi Zainal Mustafa setelah menunaikan ibadah haji pada 1927.

Pulang ke tanah air, Zainal Mustafa mendirikan Pondok Pesantren Sukamanah di kampung halamannya. Tahun 1933, ia bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan diangkat sebagai Wakil Ro’is Syuriah NU cabang Tasikmalaya.

Penelitian Irpana berjudul "Peranan KH Zainal Mustafa dalam Mendirikan dan Mengembangkan Pesantren Sukamanah Tasikmalaya 1927–1944" (2015) menyebutkan bahwa KH Zainal Mustafa sangat disegani oleh warga Tasikmalaya.


KH. Zainal Musthafa mendapatkan rintangan yang cukup berat dalam hal mendirikan pesantren. Yaitu di saat ingin mengembangkan ajaran Islam lewat pendirian pesantren, kebijakan penjajahan Belanda dan Jepang terasa begitu
berat bagi beliau, santri dan masyarakat muslim di lingkungannya.

Meski begitu, pada tahun 1927, pendirian dan perkembangan pesantren Sukamanahpun berhasil direalisasikan.

Selama kepemimpinan KH. Zainal Musthafa (1927-1944), usaha-usaha untuk mengembangkan pesantren merupakan prioritas utama meskipun rintangan pada waktu itu sangat terasa karena pembangunan dan perkembangan selama KH. Zainal Musthafa memimpin adalah masa penjajahan Belanda dan Jepang.


KH Zainal Mustafa tergolong sebagai kiai muda yang berjiwa revolusioner dan berani menentang kolonialisme. Hal tersebut terlihat dari sikapnya yang terang-terangan membangkitkan semangat nasionalisme rakyat melalui ceramahnya.

Ceng Romli dalam penelitiannya berjudul "Sikap Politik Ajengan Sukamanah: Konfrontasi K.H. Zainal Mustafa dengan Penguasa Jepang 1942-1944" (2017) menyebutkan, KH Zainal Mustafa juga sering mengadakan rapat-rapat rahasia untuk menentang pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Sikap inilah yang kemudian mengakibatkan KH. Zaenal Mustafa dan beberapa ulama lainnya seperti Kiai Rukhiyat, Haji Syirod, dan Hambali Syafei, ditangkap aparat kolonial dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda pada 17 November 1941.


Sejarah Peristiwa Singaparna Melawan Jepang

Seiring menyerahnya Belanda kepada Jepang dalam Perang Dunia II, KH Zainal Mustafa pun dibebaskan pada Maret 1942. Pemerintah Dai Nippon berharap pembebasan tersebut akan membuat KH Zainal Mustafa membantu Jepang selama di Indonesia. Akan tetapi, KH Zainal Mustafa ternyata tidak merespons keingingan Jepang tersebut.

Aiko Kurasawa dalam Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan 1942-1945 (2015), menyebutkan, KH Zainal Mustafa menghadiri perkumpulan Geraf (Gerakan Anti Fasis). Dengan demikian, jelas sudah bahwa KH Zainal Mustafa menentang kehadiran Jepang di Indonesia. Seperti diketahui, Jepang bersama Jerman dan Italia merupakan negara-negara fasisme yang terlibat di Perang Dunia II kala itu.

Perlawanan KH Zainal Mustafa terhadap pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia mencapai puncaknya ketika kebijakan Seikerei diwajibkan. KH Zainal Mustafa dan para santrinya tidak sudi membungkukan diri ke arah matahari terbit.


Tanggal 25 Februari 1944, bertepatan dengan hari Jumat ketika KH Zainal Mustafa sedang menyampaikan khotbah, ia dipanggil oleh 4 orang opsir Jepang. Opsir-opsir tersebut mendesak kepada KH Zainal Mustafa untuk menghadap perwakilan pemerintah Jepang di Tasikmalaya.

Arogansi para opsir Jepang itu memantik emosi para santri dan terjadilah kericuhan. Tiga orang opsir tewas, sementara satu opsir lainnya melarikan diri untuk meminta bantuan.

Sore hari pukul 16.00 WIB, datang pasukan Jepang dengan menggunakan truk dan langsung menyerang garis pertahanan penduduk dan santri di Sukamanah. Alhasil, dalam waktu satu jam, Jepang menang. Sebanyak 86 orang warga gugur. Insiden inilah yang disebut sebagai Peristiwa Singaparna.


KH Zainal Mustafa ditangkap dan bersama 23 orang lainnya dinyatakan bersalah untuk diadili di Jakarta. Selain itu, sekitar 79 orang yang terlibat Peristiwa Singaparna dihukum penjara 5 sampai 7 tahun di Tasikmalaya.

Pada akhirnya diketahui bahwa KH Zainal Mustafa telah dieksekusi mati oleh tentara Jepang tanggal 25 Oktober 1944 dan dikuburkan di Ancol, Jakarta Utara. Keberadaan makam KH Zainal Mustafa baru diketahui jauh di kemudian hari.

Tanggal 25 Agustus 1973, makam KH Zainal Mustafa dan para pengikutnya yang juga dikebumikan di Ancol dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.

Pemerintah Republik Indonesia menetapkan KH Zainal Mustafa sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1972 dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.


Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Alhidayath Parinduri
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Alhidayath Parinduri
Penulis: Alhidayath Parinduri
Editor: Iswara N Raditya
Penyelaras: Yulaika Ramadhani
DarkLight