"Bimbel Akpol Paling Banyak Peminatnya"

Oleh: Reja Hidayat - 24 Oktober 2016
Dibaca Normal 6 menit
Lembaga bimbingan belajar (bimbel) untuk menjadi taruna Akademi Kepolisian (Akpol) atau Akademi Militer (Akmil) bermunculan di Bandar Lampung. Saat ini, terdapat tiga bimbel yang menawarkan bantuan bagi siswa SMU yang bercita-cita masuk Akpol atau Akmil agar menjadi perwira polisi atau TNI.
tirto.id - D'Premier9 merupakan bimbel tertua di Bandar Lampung yang berdiri secara resmi sejak tahun 2009. Selain membuka bimbel untuk masuk Akpol dan Akmil, D'Premier9 juga membuka kelas bagi siswa yang ingin masuk sekolah kedinasan seperti Akademi Imigrasi (AIM), Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

“Awalnya kita berpikir, bimbel sekolah kedinasan tidak ada. Semua orang fokusnya ke reguler untuk persiapan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan bergulir mengikuti kalender pendidikan,” kata Suhaimi, Direktur Utama dan pemilik D'Premier9, saat diwawacari Reja Hidayat dari tirto.id, di kantornya, di Bandar Lampung, pada Rabu (19/10/2016).

Menurut Mr Emix, panggilan akrabnya, bimbel menjadi taruna ternyata banyak diminati siswa dan orang tuanya. D'Premier9 telah mmiliki cabang di Kota Metro, Kabupaten Pringsewu dan Kota Padang. Bahkan, Emix sudah berancang-ancang membuka cabang di Semarang atau bahkan Jakarta. Berapa keuntungan bisnis bimbel taruna? Bagaimana materi yang diberikan kepada siswa? Adakah jaminan siswa lolos masuk Akpol atau Akmil? Berikut wawancaranya;

Bagaimana awal mula berdirinya bimbel D'Premier9 untuk membantu siswa lolos menjadi taruna Akpol atau Akmil?

Pada awalnya saya mengajar privat untuk anak-anak rekan kantor di lingkungan bekerja. Kebetulan mereka ada yang mengikuti seleksi Akpol, brigadir dan tamtama polri. Kegiatan itu dimulai sejak saya menjadi PNS tahun 2003-2008 dan dilakukan di rumah dengan memanfaatkan sebuah ruangan kecil sebagai kelas. Pada awalnya hanya 5-8 orang. Selain itu, tidak jarang kegiatan mengajar dilakukan secara door to door atas permintaan siswa maupun walinya.

Pada tahun 2008, saya yakin kegiatan ini terus berkembang dan mulai menggarapnya secara serius. Seiring berjalannya waktu, bimbel yang saya selenggarakan mulai dikenal berbagai kalangan karena berhasil mengantarkan siswa didik memasuki sekolah kedinasan yang diinginkan. Sehingga pada tahun 2009, saya mendirikan sebuah lembaga kursus dengan nama D'Premier9 dengan core bussines yaitu bimbel untuk persiapan seleksi ujian masuk Sekolah Kedinasan.

Mengapa fokus pada sekolah kedinasan?

Awalnya kita berpikir, bimbel sekolah kedinasan tidak ada. Semua orang fokusnya ke reguler untuk persiapan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan bergulir mengikuti kalender pendidikan. Sedangkan D'Premier9 tidak mengikuti kalender pendidikan. Kita mengikuti kalender rekrutmen sekolah kedinasan seperti Akademi Kepolisian (Akpol), Akademi Militer (Akmil), Akademi Imigrasi (AIM), Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Setelah mengetahui kalender itu, kita siapkan apa yang diujikan sama mereka. Seperti tes akademik, psikotes dan tes fisik. Kalau tes fisik relatif, ada yang mau les, ada juga yang nggak. Yang sudah pasti psikotes dan akademik. Persiapannya tiga atau empat bulan sebelum mengikuti seleksi. Kita siapkan berbagi brosur dan iklan di media sosial. Karena sudah jalan beberapa tahun, mereka sudah tahu tentang D'Premier9. Bahkan ada yang minta dibuka di daerah lain seperti Makassar dan Bekasi. Jadi permintaan banyak.

Masuk Akpol dan Akmil memiliki kriteria tertentu seperti tinggi badan, apakah syarat ini juha menjadi pertimbangan di bimbel Anda?

Kalau kita nggak ada. Pada saat mereka berniat mendaftar di Akpol, Akmil, atau IPDN, mereka biasanya sudah mendapat sosialisasi dari sekolahnya yang mendatangkan seniornya dari Akpol atau IPDN. Pada saat liburan, biasanya lulusan Akpol memberi semangat kepada junior-junior di SMUnya.

Untuk tinggi badan, biasanya siswa mencari sendiri di website resmi untuk mengetahui apakah dirinya memenuhi syarat atau tidak. Ketika tidak memenuhi, siswa akan mengambil sekolah kedinasan lain seperti IPDN karena tidak terlalu ketat soal tinggi badan.

Terkadang kita lakukan obrolan ringan kepada siswa yang mendaftar. “Tinggimu berapa Dik?” Sekian. “Enggak cukup Dik, coba berenang atau ortopedi agar tingginya tambah”. Kalau ternyata kemudian tidak bertambah, maka kita sarankan daftar di IPDN. Kita bukan institusi yang menerima mereka, kita lembaga nonformal yang mempersiapakan mereka melalui bimbel untuk menghadapi seleksi masuk sekolah kedinasan.

Program apa yang membedakan D'Premier9 dengan bimbel lainnya?

Kita tidak membedakan kelas premium atau VIP. Kalau di ujian SNMPTN ada bimbel yang menggunakan paket premium atau paket ini-itu dengan jaminan lulus. Kita tidak demikian. Kita belajarnya satu kelas sembilan orang. Jadi semacam kelas khusus.

Artinya kelas IPDN tidak bisa satu ruang dengan kelas Akpol dan Akmil. Jadi kelas Akpol, khusus kelas Akpol saja. Makanya kalau hanya ada 4-5 orang, kita tetap jalan dengan biaya yang sama. Ramainya pendaftaran pada bulan Januari dan Februari.

Seperti apa prospeknya untuk Lampung?

Untuk wilayah Lampung prospeknya masih bagus. Dari sekian besar rekrutmen sekolah kedinasan, yang paling besar koutanya adalah IPDN dan Akpol. Untuk IPDN saja, ada 50 orang untuk mewakili wilayah Lampung dan peluangnya lumayan. Untuk brigadir polisi, setiap provinsi atau Polda bisa mencapai 200 orang. Jadi peluang saya untuk mendapatkan siswa juga besar. Begitu juga Akpol dan Akmil. Sementara sekolah kedinasan yang minim peminatnya adalah AIM, sebab kuotanya kecil sehingga pesertanya juga sedikit.

Bagaimana animo bimbel Akpol dan Akmil?

Bimbel Akpol paling banyak peminatnya karena kuotanya juga banyak. Tiap Polda bisa mengirim 15-20 calon taruna ke pusat. Kalau 20 orang dikirim, mereka yang mendaftar bisa mencapai 200 orang. Nah, bimbel kita bisa memperoleh limpahan 50 orang dari pendaftar tadi dan itu sudah lumayan. Tahun kemarin, kami mendapatkan 30 siswa untuk bimbel Akpol.

Apakah ada peningkatan jumlah pendaftar bimbel Akpol dari tahun 2009 hingga sekarang?

Pasti ada peningkatan. Pada 2009 masih 6-8 orang. Itu pun sebatas kenalan atau teman kantor. Sekarang sudah 30 siswa yang ikut bimbel seperti tahun kemarin.

Berapa orang yang lolos Akpol setelah mengikuti bimbel D'Premier9?

Kalau jumlah tiap tahun naik-turun. Dengan kuota 15-20 orang di Lampung, dari bimbel kita bisa 8 orang, 6 orang, 4 orang dan tiga orang. Jadi nggak semua yang lolos dari bimbel kita.

Setelah siswa lulus Akpol, apakah ada komunikasi dengan pihak bimbel?

Kita biasa berteman di instagram, BBM atau mereka datang. Setelah pendidikan 3 bulan, biasanya mereka pulang ke tempat asalnya. Pada waktu luang, mereka biasanya mampir ke tempat bimbel. Berfoto dan memberi semangat ke junior-juniornya di kelas.

Kalau untuk bimbel Akmil, seperti apa antusiasnya?

Untuk bimbel Akmil masih minim peminatnya karena yang dikirim dari wilayah Lampung hanya 2 orang. Kalau pun ada yang ikut bimbel, hanya 1-3 orang. Meskipun sedikit, kami tetap menerima mereka karena sudah memproklamirkan sekolah kedinasan. Satu orang juga saya terima, walaupun hanya cukup untuk membayar yang mengajar. Meski tak ada pemasukan untuk lembaga juga tidak apa-apa, karena kami lakukan subsidi silang.

Sejak berdiri 2009, sudah berapa alumni D'Premier9?

Kalau ditotal dari sekolah kedinasan, mulai Polri (brigadir dan Akpol), TNI (tantama dan Akmi), atau lainnya, mencapai 500 orang per tahun. Jadi kalau dihitung selama 7 tahun, mungkin alumninya sudah mencapai 3.000 orang. Kalau siswa gagal, biasanya tahun depan mereka bimbel di tempat lain. Begitu pula sebaliknya. Kompetitor kami mulai ada sejak tahun 2013.

Untuk lolos Akpol dan Akmil bukan hanya akademis tapi juga fisik. Apakah ada kegiatan fisik?

Kalau kegiatan fisik sudah sejak tahun kedua. Kita menawarkan kepada bapak, ibu, atau siswa untuk mengikuti kelas fisik. Kita siapakan pelatih les fisiknya. Pelatihnya fisik ini banyak di Bandar Lampung.

Jadi khusus latihan fisik, itu menjadi pilihan bagi siswa. Tahun ini kami menyiapkan pelatih fisik baru, karena tahun lalu dinilai tak profesional dan banyak komplain dari siswa. Tahun ini ada lagi tim fisik, tapi tidak satu paket dan itu pilihan siswa. Kalau nggak bisa berenang, kita sarankan kepada orang lain. Kalau fisik seperti lari, sit-up, atau push-up kita sediakan.

Apakah pelatih fisiknya personel polisi atau TNI?

Kalau ke sana tidak ada kerja sama. Kalau tenaga pelatih, kita sediakan dari atlit-atlit Lampung.

Berapa biaya bimbel untuk Akpol dan Akmil?

Satu paket tidak jauh berbeda dengan biaya bimbel SNMPTN. Tiga bulan saya kenakan paket Rp6 juta.

Berapa kali pertemuan dalam seminggu?

Empat hingga lima kali pertemuan. Kalau waktu seleksinya masih jauh, pertemuan dibuat jarang, tetapi tetap ada standar pertemuan. Kita beri 60 kali pertemuan. Sekali pertemuan 90 menit. Di luar jam itu, kita bisa memberi bantuan kepada siswa yang belum mengerti materi.

Kalau untuk kesehatan siswa, apakah bimbel ada kerja sama dengan dokter atau lembaga kesehatan tertentu?

Kita nggak pernah kerja sama dengan dokter dan tim manapun. Anak-anak yang mau masuk, mereka sudah mengkritisi diri sendiri sehingga tahu kekurangannya. Kita juga nggak mau kerjasama seperti itu karena kita lebih fokus akademik. Kalau semua kerjasama dan dipaketkan, maka bisa timbul percaloan. Sekarang saya fokus di bimbel. Kalau dicampur malah rusak. Masalah kesehatan saya tidak mau tahu. Kalau bimbel saya terima.

Bagaimana D'Premier9 memperoleh informasi soal materi ujian untuk masuk Akpol dan Akmil?

Semua itu tidak terprediksi. Contohnya di Polri. Untuk ujian Akpol dan brigadir, pihak kepolisian bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan standar soalnya adalah ujian nasional. Jadi soal ujian nasional yang kita review. Kita bukan bicara tentang soal dan bank soal, tetapi mendalami teori dari soal yang mungkin yang akan diujikan saat seleksi. Jadi kita meng-update teori-teori.

Jadi bukan memberi siswa bocoran soal-soal yang diujikan tahun lalu, misalnya?

Kalau mencari kisi-kisi dan bocoran, saya tidak berani ambil risiko walaupun ada teman di Polri, TNI dan Kemendagri. Apapun soal yang dikeluarkan, kita sudah punya rumus untuk menyelesaikannya. Saya tidak mau merusak nama bimbel. Apalagi sekarang sistem seleksi masuk Akpol atau Akmil sudah makin transparan. Jadi saya memilih jalan aman.

Adakah orang tua yang minta tolong agar anak pasti lolos?

Kalau orang tua yang sekadar tanya sih ada. Tapi kami bilang, kami nggak ada jaringan seperti itu. Kami cari aman saja. Pernah ada seorang ibu yang datang,”Tolong Pak, anak saya sudah dua kali tidak lulus IPDN”. Saya jawab, “Waduh Bu, saya bukan di pemerintahan, jadi nggak ngerti”. Jadi saya menutup diri untuk hal-hal seperti itu.

D'Premier9 sudah ada di mana saja?

Kantor pusat di Bandar Lampung. Cabangnya di Kota Metro, Kabupaten Pringsewu dan Kota Padang.

Rencana mau buka di mana lagi?

Rencananya di Bukittinggi, Pekanbaru, Semarang dan Jakarta. Kalau kita membuka cabang, yang susah menyiapkan tim pertama untuk mengajar di sana. Baik pengajarnya dan manajer areanya. Jadi untuk tahap awal, orang pusat dikirim ke cabang. Tapi setelah tahun kedua dan ketiga, mungkin akan kita gunakan orang daerah untuk membantu mengajar. Kualifikasi pengajar benar-benar dijaga. Kita tidak mau ada perbedaan kualitas mengajar antara di pusat dan di cabang.

Untuk membuka cabang, berapa modal yang dikeluarkan?

Kalau di Padang modalnya Rp150 juta. Itu sudah termasuk fasilitas sewa tempat, bikin meja, tempat duduk, TV LED, atau AC. Satu kelas modalnya sampai Rp20 juta. Jadi kalau ada empat kelas, sudah Rp80 juta. Kalau modal Rp100 juta sudah bisa berjalan tapi dengan konsep rumah. Kalau di Semarang, biayanya bisa mencapai Rp250 juta.

Berarti beda daerah bisa beda modal?

Iya beda, sebab di sana (Semarang) harga sewa ruko mahal. Mungkin bisa mencapai Rp300 juta.

Berapa lama modal kembali?

Satu tahun sudah balik. Tetapi tergantung animo siswa mengikuti bimbel. Di Padang satu tahun balik. Bahkan ada kelebihan. Katakanlah 200 siswa. Kalau pendaftaran per orang Rp6 juta dikali 200 siswa, maka bisa mendapat Rp1,2 miliar. Sebagian pendapatan untuk operasional dan subsidi wilayah lain. Sebagian lagi disimpan.

Itu sudah termasuk biaya pengajar?

Sudah. Kami sudah bersih dan royal untuk pengajar. Tapi apakah semua sama dengan Padang? Tidak bisa menjadi tolak ukur. Padang bisa beda dengan daerah lain. Di Padang animonya besar. Kita masuk dengan iklan, baik cetak, radio dan datang ke sekolah-sekolah. Pada awalnya tim kita tidak ada kegiatan belajar mengajar selama dua bulan karena tidak ada murid. Pada bulan Oktober dan November menganggur. Jadi sehari-hari mereka berkeliling membagi brosur dan pasang poster.

Setelah bulan Desember atau Januari, baru banyak yang datang. Kenapa mereka datang? Rupanya terpengaruh D'Premier9 yang di Lampung. Mereka baca website, FB dan instagram milik kami. Itu sangat berpengaruh. Mereka melihat banyak yang berhasil dari bimbingan ini. Jadi sudah mulai tumbuh kepercayaan dari masyarakat.

Berapa jumlah pengajar saat ini?

Kalau dihitung dari staf, pengajar dan OB, bisa mencapai 50 orang.

Apa suka duka menjalan bisnis bimbel?

Dukanya banyak juga. Dari kalangan bawah dan atas, ada saja siswa yang nggak serius. Kehadirannya kurang, malas, atau menganggap orang tuanya punya beking. Begitu nggak lulus baru sadar. Jadi ternyata nggak ada pengaruhnya punya beking. Jadi ada juga yang menyepelekan bimbel.


Baca juga artikel terkait BIMBEL atau tulisan menarik lainnya Reja Hidayat
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Reja Hidayat
Penulis: Reja Hidayat
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan