Menuju konten utama

BI Keluhkan Lambatnya Penurunan Bunga Kredit dan Deposito Bank

Menurutnya, sejak Januari sampai saat ini, penurunan bunga kredit bank baru sebesar 20 basis poin (bps).

BI Keluhkan Lambatnya Penurunan Bunga Kredit dan Deposito Bank
Gubernur BI, Perry Warjiyo beserta jajarannya dalam konferensi pers di Kantor BI, Jakarta, Rabu (18/12/2024). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi

tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyoroti lambatnya penurunan bunga kredit oleh perbankan. Menurutnya, sejak Januari sampai saat ini, penurunan bunga kredit bank baru sebesar 20 basis poin (bps).

“Penurunan suku bunga kredit perbankan bahkan berjalan lebih lambat, yaitu sebesar 20 bps dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi sebesar 9,00 persen pada Oktober 2025,” ujarnya, dalam dalam Konferensi Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2025 secara daring, Rabu (19/11/2025).

Tidak hanya itu, transmisi penurunan suku bunga deposito bank juga berjalan cukup lambat. Dari catatan BI, suku bunga deposito 1 bulan hanya turun sebesar 56 bps, dari 4,81 persen pada awal 2025 menjadi 4,25 persen di Oktober 2025, terutama dipengaruhi oleh pemberian suku bunga spesial (special rate) kepada deposan besar yang mencapai 27 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) bank.

Padahal, dalam kurun waktu yang sama, BI sudah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 125 bps, yang disertai pula dengan sejumlah ekspansi likuiditas moneter.

“Jadi yang menjadi masalah, isu yang terus jadi koordinasi dengan KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) adalah kenapa suku bunga perbankan baik deposito maupun kredit turunnya kok lambat,” tambah Perry.

Menurutnya, lambatnya laju penurunan suku bunga perbankan terjadi karena adanya special rate yang diberikan kepada deposan-deposan besar, baik itu pemerintah atau kementerian lembaga BUMN, pemerintah non-BUMN, swasta Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), swasta non-IKNB, dan lain sebagainya.

“Danannya besar, sehingga kemudian meminta suku bunga spesial kepada perbankan. Nah, dalam koordinasi KSSK, itu tentu saja ini dibahas bersama dan juga ada pesepakatan bersama. Kemudian meminta para deposan besar itu juga bisa kemudian permintaan suku bunga spesial itu bisa diturunkan,” tuturnya.

Dari catatan Bank Sentral, pemberian special rate untuk deposan besar mencapai Rp2.549,8 triliun. Jika dirinci, suku bunga spesial yang diberikan perbankan untuk kelompok bukan penduduk mencapai 5,22 persen per akhir September 2025; pemerintah non-Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai 5,97 persen dan 5,19 persen untuk pemerintah non-BUMN. Sementara suku bunga spesial yang diberikan untuk kelompok perseorangan mencapai 5,72 persen; 5,86 persen untuk kelompok swasta Industri Keuangan Non-Bank (IKNB); dan untuk kelompok swasta non-IKNB sebesar 5,39 persen.

“Dan ini juga sudah terjadi (penurunan), sudah tapi belum penuh ya. Spesialnya sudah turun, tapi itu saja masih bisa diturunkan kembali,” ujar dia.

Padahal, jika suku bunga deposito bisa turun, suku bunga kredit juga bisa turun. “Tapi penurunan suku bunga kredit tidak hanya dipengaruhi oleh suku bunga deposito. Salah satunya deposito, tapi juga biaya overhead dan margin untuk risiko,” lanjut Perry.

Baca juga artikel terkait SUKU BUNGA KREDIT atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra