tirto.id - Tak! Tak! Tak!
Suara sisir tenun dihentakkan ritmis, memastikan anyaman benang merapat kuat. Sesekali kaki ringkih itu menginjak pedal kayu, membuka celah di antara bentangan benang hijau. Gerakan itu berulang dalam irama yang teratur, melahirkan harmoni sunyi di sudut ruangan.
Di satu titik, gerakan itu mendadak beralih tempo. Tangan yang mulai berkerut itu dengan telaten memasukkan benang emas melintang.

“Ini proses pembuatan motif,” kata Darliana sambil terus meniti jarum sulam bambunya agar tidak ada satu pun benang yang terlewat. Dalam tahap ini, ketelitian adalah hukum mutlak. Salah hitung sedikit saja, bentuk motif asli taruhannya.
Ada banyak ragam hias yang bisa ditumpahkan di atas sehelai kain tenun tradisional khas Aceh. Mulai dari Bungong Kupula, Bungong Meulu, Bungong Geulima, Pucok Meria, hingga yang paling jamak diburu: Pinto Aceh.
Secara filosofis, ragam hias tenun Aceh ini sarat akan pengaruh nilai Islam. Pembatasan melukis makhluk hidup membuat para perajin zaman dahulu berfokus pada stilisasi alam. Motif Bungong Geulima (bunga delima), misalnya, merujuk pada buah surga yang tercatat dalam kitab suci. Sementara Pinto Aceh diadaptasi dari struktur Pinto Khop, pintu belakang istana bersejarah Kesultanan Aceh, yang bermakna keanggunan sekaligus keterbukaan.
Generasi Ketiga yang Menolak Punah
Kerumitan motif-motif religius itulah yang menentukan durasi pengerjaan. Sehelai kain songket paling cepat menghabiskan waktu 1 hingga 1,5 bulan lamanya.
Di hadapan Teupeun (alat tenun tradisional Aceh), Darliana duduk membungkuk sejak pagi hingga petang. Rutinitas ini adalah karibnya sejak remaja, hingga kini usianya telah memasuki senja.

Perempuan kelahiran tahun 1960 itu mulai menenun sejak umur 17 tahun. Ia merupakan generasi ketiga yang memikul tongkat estafet tradisi keluarganya secara turun-temurun. Alasannya sederhana, merawat cinta pada profesi yang kian langka di tanah kelahirannya sendiri, Aceh Besar.
“Karena senang di hati dan suka,” ucap Darliana pelan, Minggu (10/5/2026).
Meski begitu, ada riak keprihatinan di wajah Darliana saat menatap masa depan industri tenun daerahnya. Berkurangnya minat anak muda menjadi ancaman nyata bagi regenerasi kriya ini.
“Kalau anak muda sekarang enggak banyak yang bisa menenun, satu-satu yang suka,” ungkapnya.
Enggan warisan leluhurnya karam ditelan zaman, Darliana menurunkan seluruh ilmu tenunnya kepada tiga anak perempuannya. “Biar enggak hilang,” harapnya lirih.

Ikhtiar mandiri itu perlahan membuahkan hasil. Jika dulu Darliana bekerja di rumah produksi milik orang lain, kini ia berhasil mendirikan usaha sendiri bernama Mutiara Songket di Desa Krueng Kalee, Aceh Besar. Nama itu diambil dari nama putrinya, Mutiara (33), yang kini memegang kendali bisnis sebagai pemilik (owner).
Terjepit Gejolak Geopolitik Global
Namun, tantangan terbesar Mutiara Songket hari ini bukan lagi soal kerumitan motif atau pemilahan benang. Sejak awal tahun 2026, konflik geopolitik di Timur Tengah ikut memukul usaha rumahan di tingkat lokal.
Merujuk data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2026, industri tekstil dalam negeri sedang mengalami kontraksi berat. Pasokan bahan baku berbasis petrokimia tersendat imbas dari memanasnya dinamika keamanan di Selat Hormuz.
Mutiara mengakui problematika global tersebut berdampak langsung pada dapur produksinya. Pasokan pasar lokal yang tidak mencukupi memaksanya berburu bahan baku impor dari luar daerah dengan harga yang melonjak tajam.

Kondisi ini memaksanya memutar otak agar roda produksi tetap berputar tanpa mencekik dompet konsumen.
Namun, realitas ekonomi tak bisa dibohongi. Menaikkan harga jual menjadi satu-satunya jalan keluar rasional.
“Kita harus menaikkan harga, karena harga benang naik,” kata Mutiara.
Keputusan itu awalnya diambil dengan rawan. Mutiara didera kecemasan andai omzet penjualannya anjlok drastis. Pertanyaan demi pertanyaan dari konsumen sempat datang bertubi-tubi.
Beruntung, lewat edukasi perlahan mengenai krisis bahan baku tekstil global, para pelanggan mulai memaklumi.
Jika sebelumnya sehelai kain songket dibanderol Rp1.500.000 hingga Rp2.000.000, kini harganya merangkak naik sekitar Rp2.000.000 hingga Rp3.000.000 per helai.
Menembus Paris, Menagih Hadirnya Pemerintah
Sesuatu yang dikerjakan manual lewat ketekunan manusia selalu punya tempat istimewa. Kekhawatiran Mutiara tidak terbukti; loyalitas pelanggan mengalahkan dampak kenaikan harga. Mutiara pun kembali optimis memproduksi kain berukuran 180 x 100 sentimeter tersebut untuk memenuhi pasar.
Pasar Mutiara Songket terbilang luas, melintasi batas domestik hingga menjangkau Singapura, Malaysia, bahkan Prancis. Nilai prestisenya pun teruji sejak 2022 silam, saat produk kain mereka dikenakan oleh aktris Ariel Tatum dalam ajang mode bergengsi global, Paris Fashion Week.

Kain songket ini juga bersifat inklusif—bisa dikenakan oleh laki-laki maupun perempuan untuk acara adat, pernikahan, hingga seragam kedinasan.
Di tengah daya tahan pengusaha lokal yang terseok-seok dihantam isu eksternal, kehadiran negara dinilai krusial agar warisan budaya takbenda ini tidak mati suri.
Pengamat ekonomi dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Rustam Effendi, menegaskan bahwa pemerintah daerah wajib mengintervensi lewat kebijakan politik anggaran yang berpihak pada UMKM.
“Memberi bantuan modal usaha melalui APBA ataupun pembiayaan skema khusus. Dengan demikian, hambatan kekurangan modal usaha yang selama ini dihadapi bisa teratasi,” ujar Rustam saat dihubungi via telepon seluler, Sabtu (16/5/2026).
Rustam menambahkan, Pemerintah Daerah idealnya menggandeng institusi seperti perguruan tinggi sebagai pendamping usaha terarah, khususnya dalam memetakan substitusi bahan baku dan memperluas jejaring pasar global.
Pemerintah Aceh sebenarnya bukan tanpa aksi. Komitmen dukungan sempat ditunjukkan lewat Pameran Kriya Unggulan Dekranasda se-Aceh pada 2025 lalu di Banda Aceh. Ajang itu sukses mengenalkan produk songket dan bordir tradisional ke pasar nasional sekaligus membuka peluang investasi baru.
Namun, di tengah bayang-bayang krisis energi dan bahan baku tahun 2026, pameran saja tentu tidak lagi cukup. Perajin seperti Darliana dan Mutiara butuh solusi yang lebih struktural agar bunyi ketukan Teupeun di Krueng Kalee tidak berhenti untuk selamanya.
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id


































