Berebut Berkah di Ladang Panjang

Oleh: Arbi Sumandoyo - 4 Januari 2017
Dibaca Normal 4 menit
PT Semen Indonesia memberikan sejumlah bantuan kepada warga sekitar tambang dan masyarakat Rembang. Upaya macam ini dipakai demi merebut hati warga, tetapi sekaligus membelah masyarakat Pegunungan Kendeng Utara.
tirto.id - Jumat, 22 Desember 2016, jam sembilan pagi. Saya menyambangi tenda perjuangan warga penolak pabrik semen di Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu. Di dalam tenda, sembilan perempuan asyik bercengkerama. Semeter dari tenda, mobil truk mengangkut batu kapur, hilir-mudik menuju pabrik. Sesekali para sopir menengok ke arah tenda. Saban truk itu melintas, empasan debu putih mengepul. Tak jarang kepulan debu memasuki tenda.

“Silakan masuk, Mas,” ujar Tini, 32 tahun, warga Desa Tegaldowo seraya mengulurkan tangan buat salaman.

“Mas, dari mana?”

“Bisa sampai ke sini tadi naik apa?” Tini bertanya dengan logat Indonesia-Jawa.

Selain Tini, ada Jumilah, Ngatini, Raspinah, Sagini, Salmi, Siswati, Supiati, dan Tuminah. Mereka tiba sejam sebelum saya datang, untuk bergantian menjaga tenda. Ibu-ibu ini dari dua desa, Timbrangan dan Tegaldowo, sekitar tujuh kilometer dari lokasi tenda. Jalan menuju desa itu berkelok dan melintasi hutan jati dan hamparan sawah.

“Semalam yang menginap di sini wanitanya dua dan lelakinya tiga,” kata Tini.

Kaum ibu dari dua kampung itu bergantian menjaga tenda, setiap hari, dari jam 8 pagi dan selepas magrib, selama 2,5 tahun terakhir. Tujuan mereka tak kurang dan tak lebih: pabrik tidak beroperasi, tidak ada pertambangan. Sebab, kata mereka, bertani sudah cukup memenuhi kebutuhan hidup.

“Kalau buat makan, beras ndak usah beli. Kalau buat selamaten dari hasil tani,” ujar Tini.

Namun, sejak pembangunan pabrik Semen Gresik (kini ganti nama Semen Indonesia) pada 2014, suara warga ikut terbelah. Sebagian warga, terutama dari desa Kadiwono, Kajar, dan Pasucen, mendukung kehadiran pabrik semen. Kelima desa ini masuk dalam area utama yang terpapar penambangan dan pendirian pabrik semen—atau disebut ring satu. Kecuali Desa Kadiwono, empat desa lain masuk dalam Kecamatan Gunem.

Bagi warga penolak tambang dan pabrik semen seperti Tini, pergi dan pulang dari rumah dan tenda menjadi rutinitas sehari-hari. Saat saya tiba, misalnya, ia sudah dua hari terakhir datang pagi dan pulang sore. Ia mesti membagi waktu antara berjualan sayur di pasar kampung, mengurus rumah dan anak. Dan bahkan, bila ada sisa sayur jualannya, ia biasa membawa atau menitipkannya ke tenda. Para warga juga mengatur jadwal menginap seminggu sekali.

Warga juga mesti bersiasat dalam aksi-aksi di luar tenda, untuk memperluas jangkauan suara mereka. Misalnya, ketika saya di sana, sebagian warga penolak pabrik semen melakukan aksi jalan kaki menuju Semarang, guna menuntut Gubernur Ganjar Pranowo mematuhi putusan Mahkamah Agung.

Sagini, warga Desa Timbrangan, mengisahkan ia baru pulang dari gubernuran pada 21 Desember setelah menginap selama tiga hari dua malam di Semarang. Di depan kantor gubernur itu, ratusan warga petani Pegunungan Kendeng memasang tenda sejak 19 Desember. Tenda dari terpal dengan penyangga batang bambu itu didirikan oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng. Mereka menuntut Ganjar Pranowo mencabut izin tambang plus izin pendirian pabrik Semen Indonesia sesuai putusan MA yang mengabulkan gugatan mereka.

“Saya ikhlas menolak pembangunan pabrik, dan karena saya tidak ingin ada semen di sini. Kami takut air akan hilang,” ujar Sagini.

“Kalau ikhlas, biar panas-panasan pun kami rela. Kami tidak dibayar,” ujarnya.

“Saya pernah hanya bawa uang Rp20 ribu. Pokoknya saya harus ikut aksi ke Semarang.”

Alasan kaum ibu ini juga menyiratkan sesuatu yang keliru secara prosedural sejak rencana penambangan dan pendirian pabrik semen disusun. “Tidak pernah ada sosialisasi, makanya ketika peletakan batu pertama, warga memblokir jalan di tempat lokasi pabrik,” kata Tini mewakili teman-temannya di tenda.

Tini menjelaskan arti nama desa tempatnya lahir dan besar. “Tegaldowo itu artinya ladang panjang. Tegal itu ladang. Dowo dalam bahasa Jawa itu panjang.” Ia juga meyakini, dan semacam mitos yang berkembang di masyarakat, bahwa bila ada orang lain bukan warga Tegaldowo datang hendak berbuat sesuatu, orang itu bakal sukses tetapi hanya sesaat.

“Ya mungkin ini contohnya,” kata Tini. “Dan semoga saja pendirian pabrik semen dibatalkan.”

Seingatnya, saat berusia lima tahun, ada juga rencana pendirian pabrik penggilingan batu di Desa Tegaldowo. Namun pabrik itu gagal beroperasi. “Bekas bangunannya masih ada sampai sekarang, dan pemiliknya meninggal,” ia berkata.

Raspinah, warga Tegaldowo, membenarkan cerita Tini. “Pernah, tapi memang tidak sampai sebulan kemudian tutup.”

Ada peribahasa Jawa untuk menggambarkan hal macam itu, ujar Tini, “Becik ketitik olo ketoro.” Maksudnya, yang buruk bakal terlihat pada waktunya.

Warga sekitar Tambang Terbelah

Dalam ingatan Samiono, warga Tegaldowo, soal penolakan rencana penambangan dan pendirian pabrik Semen Indonesia terjadi “jauh sebelum aksi pemblokiran jalan menuju tapak semen”. Aksi blokir pada 27 November 2014 itu berujung pada pemukulan oleh aparat kepolisian terhadap kaum ibu. Ia mendorong warga membangun tenda perjuangan di jalan menuju lokasi berdirinya pabrik.

Samiono menuturkan, kabar bakal berdiri pabrik semen mulai jadi desas-desus warga Tegaldowo sejak Desember 2012. Lima warga lantas mencari tahu kabar itu melalui kepala desa saat itu, Suyanto. Namun kepala desa berkata tak tahu sama sekali rencana tersebut. Begitupun saat delapan warga menanyakan hal sama kepada Camat Gunem.

Di antara delapan warga itu adalah Joko Prianto, warga Tegaldowo yang jadi koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng. “Kita tanyakan kepada kepala desa sampai tingkat bupati. Mereka menjawabnya tidak tahu,” kata Prianto.

“Kalau mereka tidak tahu, kok, saya lihat izinnya keluar 2012. Waktu itu masih Pak Bibit,” ujar Prianto merujuk Bibit Waluyo, pensiunan jenderal yang menjabat gubernur Jawa Tengah periode 2008-2013.

Dwi Joko Priyanto, warga Tegaldowo yang mendukung pabrik semen, punya cerita berbeda. Ia berkata bahwa ia hadir dalam pertemuan antara perangkat desa dan warga terkait sosialisasi pendirian pabrik semen. Bahkan ia berkata ikut hadir saat ada sosialisasi di kantor bupati Rembang.

“Memang yang diundang tidak semua warga, tapi selaku tokoh masyarakat dan agama itu diundang semua, mereka mendukung” ujar Dwi Joko, yang di depan rumahnya terpasang spanduk pro-semen, bersisian dengan spanduk kontra-semen.

Alasan warga yang mendukung pabrik semen karena “warga ingin terbebas dari jerat kemiskinan.” Dwi Joko mengatakan bahwa saat sosialisasi, disebar kuesioner yang menanyakan persetujuan warga atas pendirian pabrik semen di desa mereka. “Nah, waktu itu banyak yang setuju,” ujarnya.

“Warga di sini bukan petani sejahtera,” klaimnya.

Lurah Desa Tegaldowo, Suntono, mengatakan bahwa sosialisasi penambangan telah dilakukan kepada warga, yang seingatnya dilakukan di balai desa Tegaldowo. Namun Suntono enggan menjelaskan secara rinci soal sosialisasi tersebut.

“Maaf, Pak, saya enggak bisa jawab semuanya. No comment, Pak,” kata Suntono melalui sambungan telepon.

Alasan Suntono kalau warga mendukung pabrik karena bisa “membawa berkah bagi perekonomian warga.” Terlebih, klaim Suntono, sebagian warga desa saat ini bergantung hidup dengan bekerja sebagai penambang.

“Mati enggak mangan, Pak. Karena satu-satunya untuk bekal hidup ya itu, Pak, mengandalkan tambang,” ujarnya, menambahkan hanya ada 50 kepala keluarga yang menolak kehadiran tambang dan pabrik semen di desanya.

Saya mengelilingi Desa Tegaldowo untuk mencari pandangan warga yang mendukung dan menolak pabrik semen. Ibu Nur, seorang warga yang rumahnya di depan pasar kampung, enggan mengomentari soal sebagian warga yang mendukung dan sebagian lagi yang menolak pabrik semen. Tetapi, dia bilang, warung makannya kini “selalu ramai” dikunjungi pembeli, yang kebanyakan para sopir truk pengangkut bahan material pembuat semen.

“Ya secara ekonomi membantu, apalagi saya jualan begini, Mas,” katanya.

INFOGRAFIK HL Semen Rembang Berebut Berkah Tanah Kendeng


Kucuran Duit Semen buat Memikat Hati Warga

Sejak memasuki desa Pasucen, lalu Timbrangan dan Tegaldowo, spanduk-spanduk yang menolak maupun mendukung semen berselang-seling di sepanjang jalan. Ketika warga penolak pabrik Semen Indonesia menggelar pawai dan mendirikan tenda di gubernuran Semarang, warga pro-semen melakukan aksi di depan alun-alun Kota Rembang dan kantor bupati. Aksi tandingan itu diikuti ratusan warga dengan menumpang 40 truk.

Di desa-desa yang menjadi area utama penambangan semen, PT Semen Indonesia memberi sejumlah bantuan. Ini terlihat lewat pembangunan gapura di perbatasan desa, pembangunan kantor Kelurahan Desa Tegaldowo, pembangunan lapangan desa, dan pembagian sembako. Semen Indonesia juga mengumbar janji bahwa warga desa bisa bekerja sebagai karyawan di pabrik.

“Masyarakat sudah dilatih keterampilan untuk merias, membuat usaha kuliner, dilatih keterampilan tataboga, guru-guru dilatih dan anak-anak juga dapat beasiswa,” kata Dwi Joko.

“Jadi apakah kita enggak boleh merasakan itu?” Ia bertanya secara diplomatis.

Sugeng, warga Kadiwono, mengatakan bahwa warga di desanya menerima sembako dari Semen Indonesia.

PT Semen Indonesia bukan hanya mengucurkan sumbangan kepada warga desa, tapi memberi bantuan kepada para pedagang alun-alun Rembang. Dalam Festival Kuliner, misalnya, pada 16 – 18 Desember, Semen Indonesia memberikan tenda terpal oranye berbentuk limas bertuliskan Semen Gresik kepada para pedagang.

“Ini baru lima hari diberikan, gratis kok, tidak beli,” kata Lintang, seorang pedagang warung tenda, 22 Desember lalu. Selain bantuan tenda, ujarnya, Semen Indonesia bakal memberi modal usaha hingga Rp100 juta bila pabrik sudah beroperasi.

Sekretaris perusahaan Semen Indonesia Agung Wiharto membenarkan soal pemberian bantuan kepada warga di sekitar area tambang dan pabrik. “Kami juga beri anak-anak beasiswa, karena di sana pendidikannya rendah. Kami juga kasih pinjaman,” katanya kepada Tirto, 23 Desember 2016.

Baca juga artikel terkait PT SEMEN INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Arbi Sumandoyo
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan