Antara Kebutuhan Semen dan Ancaman Merusak Alam

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 5 Januari 2017
Dibaca Normal 3 menit
PT Semen Indonesia akan tetap maju agar pembangunan pabrik semen di Rembang jalan terus. Para petani juga tak berhenti berjuang agar tidak ada pabrik semen di kampung mereka.
tirto.id - Semen Indonesia menilai Rembang adalah wilayah paling strategis untuk membangun pabrik baru. Dan pabrik dibutuhkan agar pasokan semen tetap terjaga. Sebaliknya, para petani menolak penambangan semen di wilayah mereka karena akan merusak sumber air.

Ada dua kepentingan. Masing-masing pihak merasa langkah mereka yang paling benar. Semen Indonesia berjuang demi pembangunan, infrastruktur, dan bisnis. Petani Kendeng berjuang demi keberlangsungan hidup dan kelestarian alam tempat mereka mencari penghidupan.

“Kami akan memenuhi kebutuhan air, mengentaskan kemiskinan, membuka lapangan kerja,” ujar Agung Wiharto, sekretaris perusahaan Semen Indonesia kepada Tirto, Desember lalu. Wiharto ingin membantah tuduhan yang menyebutkan pabrik semen akan merusak alam dan kehidupan petani.

“Kesejahteraan seperti apa yang bisa diberikan pabrik semen kepada kami, sedangkan kami sekarang sudah sejahtera dari hasil pertanian?” kata Joko Prianto dalam film Samin VS Semen.

Fakta bahwa Indonesia membutuhkan pabrik-pabrik semen baru boleh jadi tak terelakkan. Badan Pusat Statistik dan Asosiasi Semen Indonesia mencatat bahwa tahun 2015 terjadi surplus semen. Artinya, produksi lebih banyak dibandingkan konsumsi. Tahun itu, konsumsi semen hanya 60,4 juta ton. Tumbuh tipis 0,67 persen dari tahun sebelumnya. Sementara produksi semen di Indonesia mencapai 75,29 juta ton. Artinya, ada kelebihan sekitar 15 juta ton. Jika melihat hanya pada data 2015, Indonesia tentu tak butuh pabrik semen baru.

Data konsumsi dan produksi semen tahun 2016 belum resmi dirilis. Tetapi menurut Agung Wiharto, angka konsumsinya mencapai 65 juta ton. Tetap saja masih surplus.

Namun, bagaimana dengan tahun-tahun selanjutnya? Bagaimana jika pertumbuhan konsumsi semen meningkat tahun ini dan tahun depan, dan tahun depannya lagi?

Sejak tahun 2003 hingga 2015, rata-rata pertumbuhan konsumsi semen tercatat 6,4 persen. Pertumbuhan pada 2015 itu terendah, setidaknya selama 13 tahun terakhir. Semen Indonesia memprediksi pertumbuhan konsumsi semen tahun ini akan meningkat. Proyek-proyek infrastruktur pemerintah yang dikejar selesai 2019 dinilai akan menjadi salah satu pemicu pertumbuhan.

“Pertanyaannya, kalau tahun 2017 proyek pembangunan Jokowi bagus dan tumbuh 10 persen gimana?” ujar Wiharto.

Dari data konsumsi selama 13 tahun itu, tim riset Tirto menghitung perkiraan konsumsi di tahun-tahun mendatang dengan menggunakan metode forecasting. Dalam ekonomi dan bisnis, ia biasa digunakan untuk memperkirakan penjualan, produksi, ataupun konsumsi pada suatu waktu mendatang berdasarkan data-data sebelumnya. Dari data-data yang tersedia, didapatkan prediksi konsumsi semen pada 2020 sebesar 78,72 juta ton.

Kapasitas produksi PT Semen Indonesia sendiri mencapai 30 juta ton. Ia memiliki empat pabrik di Jawa, satu pabrik di Sumatera Barat, satu pabrik di Sulawesi Selatan, dan satu lagi di Vietnam. Dari total produksi semen di Indonesia, sebesar 33 persennya dari Semen Indonesia. Emiten pelat merah ini juga menguasai 42 persen pangsa pasar.

“Semen Indonesia itu kapasitas produksinya mentok, jadi kami itu butuh pabrik semen. Yang kelebihan itu kompetitor kita dan produksi nasional, tapi per company berbeda-beda. Kalo enggak ada kapasitas tambahan, besok market share kami diambil asing,” jelas Wiharto.

Rembang dipilih lantaran ia berada di pulau Jawa, dekat pelabuhan dan dekat Kalimantan. Secara lokasi, Semen Indonesia menilai Rembang lebih strategis dibandingkan Pati. Wiharto menyatakan keputusan Semen Indonesia pindah dari Pati bukan karena gugatan di pengadilan, tetapi karena kesadaran mereka sendiri.

Infografik Pabrik Semen Mengepung Jawa revisi


Semen Indonesia memprioritaskan pembangunan pabrik di Jawa karena permintaan pasar di Jawa lebih besar dari pulau-pulau lain. Menurut data Asosiasi Semen Indonesia, lebih dari setengah konsumsi semen ada di Jawa. Konsumsi di Sumatera hanya 21 persen. Sedangkan pulau-pulau besar lainnya tak sampai sepuluh persen.

Jawa Tengah dipilih karena Semen Indonesia hanya memiliki satu pabrik di provinsi itu, yakni di Cilacap. Jika pabrik di Rembang berhasil dibangun, akan ada penambahan produksi tiga juta ton dari Semen Indonesia.

Namun, pembangunan pabrik di Rembang tidak berjalan mulus. Ia ditentang oleh petani-petani Pegunungan Kendeng karena dikhawatirkan akan merusak alam, terutama sumber air, meskipun pihak Semen Indonesia bersikukuh akan menjamin ketersediaan air bagi para petani.

Jika proyek pembangunan semen di Rembang batal, Semen Indonesia akan kehilangan triliunan rupiah. Uang yang digelontorkan untuk konstruksi sipil, pemasangan mesin dan peralatan, serta elektrikal dan instrumentasi dari pabrik mencapai Rp3,7 triliun. Selain itu, ada potensi pendapatan senilai Rp2,1 triliun yang juga hilang. Walaupun kehilangan potensi pendapatan ini tak lantas membuat PT Semen Indonesia secara perusahaan merugi.

Pihak Semen Indonesia menegaskan tak akan tinggal diam. “Ada dua kemungkinan, kami bisa terus jalan dengan merevisi macam-macam. Atau, jika memang tidak bisa, kami akan tutup. Tetapi yang lain harus ditutup dong. Kami enggak bisa, kenapa yang lain bisa? Wong kami punya solusi yang lebih hebat, yang lebih mahal,” kata Wiharto.

Akan tetapi, jika pabrik tetap jalan, petani Rembang terancam kehilangan sumber air dan lahan pertanian.

Kajian potensi kawasan karst Kendeng Utara yang dilakukan oleh Acintyacunyata Speleological Club, Semarang Caver Association, Indonesia Caves Society dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, menyebutkan dari 109 mata air, mereka melakukan penghitungan volume air dengan menghitung debit terkecil dan debit terbesar. Hasilnya, dalam satu hari, mata air Belik Watu menghasilkan air 1.728 liter/ hari. Sedangkan dari mata air Sumber Seribu, mata air terbesar di wilayah itu, saban hari menghasilkan 51.840.000 liter/ hari. Kajian itu menjabarkan potensi air di CAT Watuputih memberi banyak manfaat bagi kehidupan warga.

Kajian itu juga menyebutkan bahwa perubahan morfologi kawasan karst Pegunungan Watuputih akibat penambangan dapat mempengaruhi pola distribusi air. Selama ini, bukit karst berfungsi sebagai tandon air utama yang mengontrol suplai air ke dalam tanah.

Jika ditambang, akan terjadi degradasi jumlah air yang tersimpan dalam cekungan air tanah (CAT) Watuputih. “Berdasarkan teori epikarst, penambangan bukit gamping akan mengurangi jumlah simpanan air diffuse, dan sebaliknya akan meningkatkan aliran conduit saat hujan,” demikian tertulis dalam riset itu.

Dampak yang sangat tidak diharapkan adalah terjadinya banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Data tahun 2014, mata air sekitar kawasan karst CAT Watuputih mampu memenuhi kebutuhan air 607.198 jiwa di 14 kecamatan di Rembang.

Selama ini, masyarakat Rembang bisa menikmati air dengan gratis. Jika dirupiahkan sesuai tarif air PDAM, untuk memenuhi kebutuhan air 607.198 jiwa per hari, biayanya sekitar Rp20 juta. Biaya itu berasal dari tarif air PDAM per meter kubik sebesar Rp1.650, dan asumsi setiap orang membutuhkan 20 liter air per hari.

Dalam setahun, biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan air mencapai Rp7,3 miliar. Selama sepuluh tahun, biayanya menyentuh angka Rp73 miliar. Dari segi angka, ia tampak lebih kecil dari kerugian yang diderita Semen Indonesia. Tetapi penghitungan ini belum memasukkan inflasi yang menyebabkan tarif air bisa naik.

Penghitungan ini juga belum memasukkan konsumsi air untuk lahan pertanian dan dampak kerusakan lahan pertanian akibat kekeringan atau lahan yang hilang karena pembangunan pabrik dan penambangan. Ia juga belum menghitung kerugian akibat banjir saat musim hujan dan bencana-bencana yang bukan tak mungkin merenggut korban jiwa. Dan jika sudah ditambang, alam di Rembang akan rusak selama-lamanya.

Baca juga artikel terkait PT SEMEN INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight