tirto.id - Stevia menjadi salah satu pengganti gula yang paling populer. Terbuat dari ekstrak daun Stevia Rebaudiana, pengganti gula ini memiliki kandungan kalori yang lebih rendah dan tidak meningkatkan gula darah.
Penelitian ekstensif menunjukkan bahwa pemanis stevia tidak meningkatkan kadar glukosa darah atau memengaruhi pengelolaan glukosa darah pada manusia. Studi juga menemukan stevia dapat menjadi antioksidan, antikanker, antiinflamasi, hingga antihipertensi.
The Food and Drug Administration telah menyetuji stevia sebagai bahan tambahan pangan yang aman dalam bentuk ekstrak dengan tingkat kemurnian 95%. Kendati begitu, sejumlah penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui keamanan penggunaan stevia jangka panjang.
Apa Itu Stevia?
Stevia termasuk salah satu pemanis alami yang digunakan masyarakat sebagai alternatif pengganti gula. Bahan dasar stevia ini terbuat dari ekstrak tumbuhan bernama stevia rebaudiana yang banyak tumbuh di Amerika Utara dan Amerika Selatan. Penduduk setempat telah memanfaatkan daun stevia sebagai pemanis alami dan pengobatan sejak beberapa abad lalu.
Daun stevia rebaudiana mengandung senyawa glikosida steviol atau bercita rasa manis yang berasal dari stevioside dan rebaudioside. Senyawa tersebut memiliki memiliki rasa manis dengan konsentrasi tinggi. Tingkat kemanisan stevia diperkirakan sekitar 150 hingga 400 kali lebih tinggi dibandingkan gula pasir.
Dengan kandungan yang tinggi, masyarakat hanya butuh sedikit stevia untuk mendapatkan rasa manis di dalam makanan atau minuman dibandingkan gula biasa. Melansir laman Health Cleveland Clinic, proses pembuatan ekstrak stevia hampir sama dengan menyeduh teh.
Cara ini dilakukan untuk glikosida steviol dari daun dalam bentuk yang paling bersih dan murni melalui proses ekstraksi. Produsen stevia biasanya akan merendam daun stevia di dalam air, lalu memisahkan bagian padat dari cairannya.

Setelah itu, mereka menyaring kembali ekstrak tersebut untuk menghilangkan sisa-sisa padatan hingga diperoleh glikosida murni. Glikosida steviol dimurnikan untuk menghilangkan sebagian rasa pahit yang terdapat dalam ekstrak kasar tersebut.
Melalui proses pengeringan khusus, zat ini kemudian diubah menjadi bentuk cair, bubuk, dan butiran (granul). Pemanis alami ini telah beredar luas di rak toko swalayan atau di meja restoran dengan berbagai bentuk dan kemasan.
Pemanis stevia dapat digunakan oleh produsen makanan dan minuman sebagai bahan dalam berbagai produk, seperti minuman, buah kalengan, bumbu pelengkap, produk susu serta berbagai makanan lain maupun sirop. Karena stabil pada suhu tinggi, pemanis stevia dapat digunakan dalam produk yang dipanggang.
Pada tahun 2008, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (The Food and Drug Administration/FDA) menyetujui stevia sebagai bahan tambahan pangan yang aman dalam bentuk ekstrak dengan tingkat kemurnian 95%.
Menukil laman resmi FDA, stevia telah ditetapkan sebagai asupan harian yang dapat diterima atau atau acceptable daily intake (ADI) dengan kadar tertentu. Secara matematis, jumlah stevia yang aman untuk dikonsumsi setiap hari sepanjang hidup seseorang yaitu sekitar 27 bungkus stevia setiap hari. Mengingat tingkat kemanisan hingga 400 kali lipat dibandingkan gula, maka batasan jumlah tersebut tergolong sangat banyak.
Lebih sederhana, European Food Safety Authority (EFSA) dan Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) telah menetapkan nilai ADI kelompok untuk pemanis stevia sebesar empat miligram (mg) per kilogram (kg) berat badan per hari dalam bentuk ekuivalen steviol. Jumlah ini setara dengan 12 mg/kg berat badan per hari untuk rebaudiosida A dan 10 mg/kg berat badan per hari untuk steviosida.
Sementara itu, penggunaan daun stevia maupun ekstrak stevia kasar tidak dikategorikan sebagai Generally Recognized As Safe (GRAS), predikat aman yang ditetapkan FDA. Tak hanya itu, impor produk tersebut ke Amerika Serikat untuk digunakan sebagai pemanis tidak diizinkan.
Stevia vs. Gula: Mana yang Lebih Aman?
Stevia menjadi produk yang populer sebagai pemanis alami pengganti gula yang bebas kalori. Banyak orang lebih memilih stevia dibandingkan pemanis buatan seperti sukralosa dan aspartam, karena stevia diekstrak dari tanaman, bukan dibuat di laboratorium.
Laporan Healthline menyebut stevia tidak mengandung karbohidrat dan tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis. Karena tingkat kemanisannya jauh lebih tinggi daripada gula, jumlah kecil yang digunakan tidak akan menambah asupan kalori atau karbohidrat secara berarti ke dalam pola makan.
Dengan demikian, pemanis alami ini aman dikonsumsi penderita diabetes atau mereka yang memiliki masalah dalam mengendalikan kadar gula darah. Stevia juga dapat membantu seseorang merasa kenyang dengan asupan kalori yang lebih sedikit.
Mengganti gula dengan stevia juga menurunkan Indeks Glikemik (IG) pada makanan, yang berarti makanan tersebut memberikan dampak yang lebih kecil terhadap kadar gula darah.Sementara gula pasir memiliki nilai IG 65 dari skala 100, sementara stevia tidak mengandung zat apa pun yang dapat meningkatkan gula darah, sehingga memiliki nilai IG 0.

Gula dalam berbagai bentuknya, termasuk sukrosa (gula pasir) dan sirup jagung tinggi fruktosa (HFCS), telah dikaitkan dengan peradangan, obesitas, serta perkembangan penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.
Meski terlihat aman, stevia juga memiliki beberapa kekurangan. Senyawa rebaudiosida A yang ada dalam pemanis stevia dapat menghambat pertumbuhan jenis bakteri usus yang bermanfaat sebesar 83%.
Sebagai pemanis dengan intensitas tinggi, stevia dapat meningkatkan keinginan untuk mengonsumsi makanan manis. Sebab, pemanis rendah kalori juga dapat menstimulasi jalur imbalan dengan mengaktifkan reseptor rasa manis, meskipun pemanis tersebut bukan merupakan sumber kalori.
Demi menjaga kesehatan jangka panjang, yang terpenting yaitu tetap menjaga pengendalian gula darah. Mengingat gula telah dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan yang negatif, mengganti gula dengan stevia mungkin bisa menjadi pilihan yang disarankan. Meski demikian, dampak jangka panjang dari konsumsi stevia secara rutin belum diketahui secara pasti.
Langkah terbaik yang dapat diterapkan untuk pola hidup sehat yaitu dengan membatasi asupan gula.
Bagaimana Stevia Bekerja di dalam Tubuh?
Meski dilabeli sebagai pemanis yang aman, penting untuk mengetahui mekanisme tubuh saat menerima stevia. Secara umum, glikosida steviol tidak diserap di saluran pencernaan bagian atas. Akibatnya, stevia tidak menyumbangkan kalori maupun memengaruhi kadar glukosa darah.
Saat mencapai usus besar, mikroba usus akan memisahkan molekul glukosa dan menggunakannya sebagai sumber energi. Kerangka steviol yang tersisa kemudian diserap melalui vena porta, dimetabolisme oleh hati, dan dikeluarkan melalui urine.
Melihat mekanisme tersebut, pemanis stevia dengan tingkat kemurnian tinggi aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak dan ibu hamil selama berada dalam batas asupan harian yang dapat diterima (ADI). Pemanis stevia bersifat non-kariogenik, sehingga tidak meningkatkan risiko karies gigi, sebagaimana dikutip dari International Food Information Council.
Studi Natural sweetener Stevia rebaudiana: Functionalities, Health Benefits and Potential Risks (2021) karya Victoria Peteliuk dan tim yang dimuat di laman Experimental and Clinical Sciences Journal menemukan sejumlah manfaat aktivitas biologis ekstrak stevia. Adapun sampel penelitian ini menggunakan hewan tikus.
Pertama, ekstrak stevia utuh atau whole stevia extract dapat dimanfaatkan sebagai anti diabetes. Stevia dapat meningkatkan kadar insulin dan penyimpanan glikogen, serta penurunan kadar hemoglobin terglikasi. Pemanis alami ini terbukti menurunkan glukosa darah pada hewan pengerat diabetes serta menghambat aktivitas enzim alfa-amilase dan alfa-glukosidase secara in vitro.

Kedua, stevia juga bermanfaat untuk antihipertensi. Terbukti steviosida menurunkan tekanan darah pada tikus hipertensi spontan. Steviosida mentah menurunkan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi esensial ringan.
Ketiga, stevia juga memberikan efek pada obesitas dan sindrom metabolik. Steviosida menghambat pembentukan plak aterosklerotik melalui perbaikan sinyal insulin dan pertahanan antioksidan pada mencit obesitas yang resisten insulin.
Keempat, stevia memengaruhi peningkatan aliran plasma ginjal, vasodilatasi sistemik dan ginjal, hipotensi, diuresis, serta natriuresis. Steviol dapat memengaruhi transpor garam dan air di tubulus ginjal. Kelima, stevia murni dapat digunakan sebagai antioksidan dengan mencegah pembentukan kerusakan DNA akibat paparan oksidan. Terakhir, stevia juga bermanfaat sebagai anti kanker.
Penelitian ini menemukan bahwa steviol menghambat proliferasi sel kanker saluran pencernaan manusia, memblokir induksi awal virus Epstein Barr, dan menunjukkan sitotoksisitas tinggi pada sel kanker dan lebih rendah pada sel normal. Steviosida juga mengurangi viabilitas sel kanker usus besar, menghambat sintesis DNA, dan menginduksi kematian sel kanker apoptotik melalui apoptosis mitokondria.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id


































