tirto.id - Minuman dengan klaim bebas gula kerap dijadikan pilihan untuk dikonsumsi karena dianggap jauh lebih sehat. Namun, apakah minuman zero sugar itu benar-benar bebas gula? Apa bedanya minuman zerosugar dengan low sugar?
Mengonsumsi gula dalam jumlah berlebihan memang bisa mengkhawatirkan karena akan menyebabkan masalah bagi kesehatan. Asupan gula yang tinggi dapat meningkatkan asupan kalori sekaligus turut menyebabkan kenaikan berat badan.
Dalam jangka panjang, pola konsumsi tinggi gula juga berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, hingga masalah kesehatan gigi. Inilah alasan kenapa mengurangi gula, khususnya gula tambahan, menjadi sangat penting dalam pola makan sehat.
Seiring dengan kesadaran untuk membatasi asupan gula, kini semakin banyak produk minuman yang menawarkan varian zero sugar atau tanpa gula, mulai dari minuman bersoda, teh siap minum, hingga kopi botolan. Produk-produk ini pun mencantumkan label zero sugar pada kemasan sehingga gampang terlihat.
Pertanyaannya, apakah minuman dengan klaim zero sugar tersebut benar-benar tanpa kandungan gula di dalamnya? Lalu, benarkah minuman seperti ini memang lebih sehat?
Benarkah Minuman Zero Sugar Bebas Gula?

Istilah zero sugar atau bebas gula pada label minuman tidak selalu berarti produk tersebut benar-benar memiliki kandungan gula 0 gram secara absolut. Dalam regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), klaim “bebas gula” memiliki batas tertentu yang masih diperbolehkan.
Peraturan BPOM Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pengawasan Klaim pada Label dan Iklan Pangan Olahan mengatur klaim kandungan zat gizi, termasuk klaim “bebas”. Dalam konteks ini, klaim “bebas” tersebut berkaitan dengan bebas dari kandungan gula.
Aturan BPOM menyebutkan bahwa untuk bahan pangan dengan klaim bebas gula masih dapat memiliki kandungan zat gula, tapi tidak lebih dari 0,5 gram per 100 gram untuk bahan pangan padat atau 0,5 gram per 100 ml untuk bahan pangan berbentuk cair.
Dengan demikian, secara regulasi, minuman zerosugar atau minuman yang mencantumkan klaim bebas gula tidak harus memiliki kadar gula persis 0 gram.
Dalam regulasi yang sama, BPOM juga mengatur tentang klaim “tanpa penambahan gula”. Klaim ini berarti bahwa produk tersebut tidak ditambahkan gula yang masih memiliki nilai kalori, seperti sukrosa, glukosa, madu, atau high fructose corn syrup.
Produk juga tidak boleh menggunakan bahan tertentu yang mengandung gula sebagai pemanis atau pengganti gula yang ditambahkan. Namun, BPOM pun mengakui bahwa suatu pangan bisa saja secara alami mengandung gula.
Oleh karena itu, produk yang secara alami mengandung gula dan memenuhi ketentuan “tanpa penambahan gula” wajib mencantumkan keterangan “secara alami mengandung gula” pada labelnya.
Minuman ZeroSugar Tetap Manis, Ini Alasannya

Minuman zero sugar tetap bisa memiliki rasa manis karena menggunakan Bahan Tambahan Pangan (BTP) pemanis buatan sebagai pengganti gula. Pemanis ini dapat memberikan sensasi manis dengan jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan gula pasir.
Menurut Food and Drug Administration (FDA), sejumlah pemanis intensitas tinggi (high-intensity sweeteners) seperti aspartam, sukralosa, dan asesulfam-K, memiliki tingkat kemanisan ratusan kali lipat dibandingkan sukrosa atau gula biasa.
Sebagai contoh, aspartam memiliki tingkat kemanisan sekitar 200 kali lipat, sedangkan sukralosa sekitar 600 kali lipat dibandingkan gula pasir. Artinya, produsen dapat menggunakan BTP pemanis tersebut dalam jumlah kecil untuk menghasilkan rasa manis yang serupa dengan minuman bergula.
Selain itu, kemunculan rasa manis ini juga berkaitan dengan kemampuan pemanis dalam mengaktifkan reseptor rasa manis di rongga mulut.
Sensasi manis muncul ketika senyawa pemanis non-gula berinteraksi dengan reseptor di mulut, lalu memicu sinyal yang diteruskan ke otak sehingga seseorang dapat merasakan rasa manis.
Menurut studi tahun 2021 berjudul Correlation Between In Vitro Binding Activity of Sweeteners to Cloned Human Sweet Taste Receptor and Sensory Evaluation, pemanis intensitas tinggi memang memiliki potensi kemanisan lebih tinggi dan dapat memberikan respons pada konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan sukrosa.
Dalam studi tersebut, peneliti membandingkan beberapa pemanis, termasuk sukrosa, fruktosa, allulose, sakarin, dan beberapa pemanis lainnya, lalu mengamati aktivitasnya terhadap reseptor rasa manis manusia (T1R2/T1R3).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanis intensitas tinggi memiliki rentang konsentrasi yang lebih rendah, tapi potensi rasa manis yang dihasilkan bisa lebih tinggi dibandingkan sukrosa.
Inilah alasan kenapa pemanis ditambahkan dalam bahan pangan karena bisa memberikan sensasi manis tanpa jumlah yang signifikan.
Perbedaan Klaim Zero Sugar dan Low Sugar

Istilah zero sugar dan low sugar memiliki makna yang berbeda. Minuman zerosugar diartikan sebagai bebas gula, sementara low sugar didefinisikan sebagai rendah gula. Dengan kata lain, keduanya merupakan klaim kandungan zat gizi yang memiliki batas jumlah yang berbeda.
Hal ini juga diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 1 Tahun 2022. Dalam aturan tersebut, klaim “rendah” dan “bebas” harus memenuhi persyaratan kandungan zat gizi yang sudah ditetapkan. Berikut aturan terkait batasan kandungan zat gizi dalam suatu produk:
Klaim Rendah:
- 5 gram per 100 gram (dalam bentuk padat)
- 2,5 gram per 100 ml (dalam bentuk cair)
- 0,5 gram per 100 gram (dalam bentuk padat)
- 0,5 gram per 100 ml (dalam bentuk cair)
Jadi, zerosugar/bebas gula menunjukkan kandungan gula yang sangat rendah hingga batas tertentu, sedangkan low sugar/rendah gula berarti kandungan gulanya dikurangi, tapi masih dapat berada pada jumlah yang lebih tinggi dibandingkan zerosugar.
Apakah Minuman Zero Sugar Lebih Sehat?

Minuman zero sugar tidak otomatis lebih sehat hanya karena tidak mengandung atau sangat sedikit mengandung gula. Label tersebut hanya menunjukkan seberapa banyak kandungan gula dalam produk, bukan gambaran keseluruhan nilai gizinya.
Saat menilai apakah suatu minuman itu lebih baik atau lebih sehat, konsumen perlu melihat jenis dan jumlah pemanis yang digunakan, kandungan kalori, serta komposisi bahan secara keseluruhan.
Minuman zero sugar belum tentu memiliki kandungan kalori yang rendah, terutama jika produk menggunakan bahan lain yang tetap menyumbang energi. Sementara itu, penggunaan pemanis non-gula juga tidak dijamin aman bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.
Mengutip dari situs WHO, pemanis buatan tidak direkomendasikan untuk digunakan sebagai pengganti gula dengan tujuan mengendalikan berat badan atau menurunkan risiko penyakit tidak menular dalam jangka panjang.
Jadi, label zero sugar bukan jaminan bahwa minuman tersebut lebih sehat. Jika ingin memilih minuman sehari-hari, perhatikan label secara menyeluruh, termasuk gula, kalori, bahan pemanis, dan komposisi lainnya.
Yang tidak kalah penting adalah pola konsumsi secara keseluruhan. Mengurangi asupan gula merupakan bagian dari pola makan sehat, tapi mengganti semua minuman manis dengan minuman berpemanis non-gula bukan berarti otomatis menjadi pilihan terbaik untuk kesehatan jangka panjang.
Cara Membaca Label Minuman Zero Sugar

Klaim zero sugar pada bagian depan kemasan sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya pertimbangan saat memilih minuman. Untuk mengetahui kandungan produk secara lebih utuh, konsumen perlu melihat informasi nilai gizi dan daftar bahan/komposisi.
Informasi ini biasanya ada pada bagian belakang atau samping kemasan. Sebagai contoh, sebuah produk memiliki informasi nilai gizi dan komposisi minuman sebagai berikut:
Informasi Nilai Gizi:
Takaran Saji : 250 ml
4 Sajian per Kemasan
Jumlah Per Sajian:
Energi Total: 0 kkal
Energi dari Lemak: 0 kkal
| Komponen | Jumlah | %AKG* |
| Lemak Total | 0 g | 0% |
| Lemak Jenuh | 0 g | 0% |
| Protein | 0 g | 0% |
| Karbohidrat Total | 0 g | 0% |
| Gula | 0 g | - |
| Garam (Natrium) | 30 mg | 2% |
Komposisi: Air berkarbonasi, pengatur keasaman (asam sitrat, trinatrium sitrat, asam malat), perisa alami, pemanis buatan (asesulfam-K dan sukralosa), pengawet (natrium benzoat), serta minyak jeruk nipis dan lemon (0,001%).
Dari informasi gizi di atas, dapat disimpulkan bahwa takaran saji ditetapkan sebanyak 250 ml, artinya angka kandungan energi dan zat gizi yang tercantum pada “Informasi Nilai Gizi” dihitung untuk setiap konsumsi sebanyak 250 ml.
Sementara itu, keterangan “4 sajian per kemasan” berarti satu kemasan secara keseluruhan setara dengan empat kali takaran saji. Jadi, jika seluruh isi kemasan dikonsumsi, jumlah energi dan zat gizi yang masuk ke tubuh dihitung sebanyak empat kali dari nilai yang tercantum per sajian.
Selain itu, produk tersebut diketahui memiliki kandungan gula 0 gram, tapi tetap menggunakan pemanis buatan berupa asesulfam-K dan sukralosa. Jadi, sebaiknya tetap tidak dikonsumsi secara berlebihan.
Produk tersebut juga diketahui tetap mengandung natrium (garam) sebanyak 30 gram yang bisa memenuhi 2% AKG. Jika meminum seluruhnya (4 sajian), total natrium yang dikonsumsi adalah 120 mg.
Rekomendasi Minuman Zero Sugar

Jika sedang mencari alternatif minuman dengan kandungan gula yang rendah, berbagai produk minuman zero sugar dapat dijadikan pilihan. Mulai dari teh hingga susu, berikut beberapa rekomendasi minuman zero sugar yang dapat dipertimbangkan sesuai selera dan kebutuhan:
1. ITO EN Unsweetened Oolong Tea
Produk teh oolong kemasan botol ini memiliki cita rasa panggang yang kuat sekaligus lembut. Minuman ini tanpa pemanis, mengandung 0 gram gula, dan diklaim zero calories, dengan bahan berupa air murni, teh oolong, serta asam askorbat (vitamin C).Teh oolong sendiri bisa menjadi sumber vitamin C, mampu memberikan efek relaksasi, bahkan memiliki zat antioksidan yang menyehatkan. Produk ini mengandung kafein sekitar 60 mg per botol serta telah bersertifikasi halal MUI dan BPOM. Harganya dibanderol Rp15.000–Rp18.000 (480 ml).
2. Teh Botol Sosro Tawar
Teh botol Sosro merupakan minuman teh siap minum yang sudah sangat populer di Indonesia. Hadir dalam varian teh tawar, teh yang dibuat dari bahan baku air dan teh melati ini mengandung 0 gram gula atau zero sugar.Tehbotol Sosro dapat disajikan dalam berbagai kesempatan, baik saat berkumpul di rumah, bekerja di kantor, maupun ketika beraktivitas di luar ruangan. Produk ini bisa didapatkan dengan harga Rp50.000–Rp60.000 (12 x 350 ml)
3. Blue Diamond Almond Breeze Unsweetened
Produk ini merupakan susu almond buatan Australia yang sudah ada sejak tahun 1910. Susu almond ini tak hanya memiliki rasa yang enak dan creamy, tapi juga bernutrisi tinggi. Terbuat dari kacang almond berkualitas tinggi, susu ini memiliki kandungan gula 0 gram.Susu almond dari Blue Diamond juga mengandung zat gizi lain seperti lemak, protein, karbohidrat, hingga serat pangan yang menyehatkan. Produk susu bebas gula ini bisa dibeli di harga Rp50.000–Rp60.000 (946 ml).
4. Tropicana Slim Oat Drink
Tropicana Slim Oat Drink merupakan minuman berbahan oat dengan rasa vanilla yang nikmat. Produk ini diklaim zero sugar dengan kandungan gula 0 gram. Tropicana Slim Oat Drink juga rendah lemak serta bisa menjadi sumber serat dan kalsium.Dengan kemasan yang praktis, minuman oat ini mudah dibawa, cocok untuk menemani aktivitas sehari-hari, dan bisa mendukung pola makan sehat bagi mereka yang sedang diet maupun penderita diabetes. Tropicana Slim Oat Drink dibanderol harga Rp30.000–Rp35.000 (4 x 190 ml).
5. 137 Degrees Almond Milk Unsweetened
137 Degrees menghadirkan minuman susu nabati berbahan kacang almond dengan cita rasa yang creamy dan lezat. Produk ini dibuat menggunakan bahan-bahan berkualitas dan diproses pada suhu 137 °C untuk mempertahankan kandungan nutrisi sekaligus menjaga kesegaran produk.Produk ini memiliki kandungan gula 0 gram. Susu nabati ini dapat dinikmati langsung maupun digunakan sebagai campuran kopi, sereal, atau berbagai resep makanan dan minuman. Dapatkan susu ini dengan harga Rp25.000–Rp30.000 (180 ml).
Tertarik dengan info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id





























