Petrik Matanasi
Pernah menulis beberapa buku sejarah. Di antaranya: Pemberontak Tak Selalu Salah (2009); Thomas...

Ben Anderson dan Seekor Katak Terbang

26 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Jika ajal belum menjemputnya, 26 Agustus 2016 ini Ben Anderson alias Om Ben merayakan ulang tahu ke-80. Jika kami berjumpa, sudah pasti kami minum bir ramai-ramai sambil bicara ngalor-ngidul. Sudah pasti, pula Ben akan geram dengan serdadu-serdadu yang bubarkan secara paksa perpustakaan jalanan di Bandung. Ya, di negeri yang ia cintai ini mau pintar saja susah.

Ben, bule berdarah Irlandia-Inggris itu, jelas seorang pembangkang. Betul-betul orang Irlandia yang tak pernah takut kalah dan terus melawan meski musuhnya lebih kuat. Hingga di akhir hidupnya paspornya tetap Irlandia meski ia di Amerika. Di Amerika Ben memilih jadi alien, pemegang green card saja.

Bagi saya, Ben menjalani masa kecil yang seru. Ia lahir di Kunming, Tiongkok, ketika ayahnya menjadi petugas bea cukai Inggris di sana. Diasuh gadis remaja Vietnam. Sempat menjalani sekolah dasar di Amerika, sewaktu Hitler dan NAZI-nya masih berjaya dalam Perang Dunia II. Menjalani masa remaja di sekolah menengah elit bernama Eton. Kuliah di Cambridge di bidang klasik. Ben akhirnya kembali ke timur lagi.

Ia tidak pernah betah berdiam di satu tempat dalam waktu lama. Ia orang yang suka jalan dan jajan.

Semasa sekolah, Ben mendalami bahasa, tentu saja termasuk bahasa latin yang merupakan ibu dari bahasa-bahasa Eropa. Hingga dengan mudah dia kuasai bahasa-bahasa bangsa Eropa yang menjajah Asia. Dan sejarah penghisapan bangsa Eropa pada bangsa timur pun dengan cepat dia pahami. Hidupnya kemudian ditentukan Profesor ahli Indonesia bernama George McTurnan Kahin, yang ikut 'memplonconya' sebagai peneliti soal Indonesia.

Ben tak lupa soal kesannya pertama kali tiba di Indonesia dan indekos di rumah ibu Iwan Tirta di tahun 1961. Ben pernah cerita soal anak kecil main bola di dekat Bundaran HI sekarang, seperti dia tulis di memoarnya, “Kalau sore, sekelompok anak-anak kampung berusia 8 hingga 12 tahun berkumpul main bola. Awalnya mereka lempar koin, dan yang kalah dengan enteng mencopot celana pendeknya (mereka tak pakai kolor). Begitulah cara mereka membedakan mana kawan mana lawan.” Begitulah tuyul-tuyul (anak-anak) itu bermain bola.

Di zaman "tuyul-tuyul" Indonesia main bola sambil telanjang itu, suatu hari Ben bermaksud bertemu seorang jenderal yang kemudian jadi Pahlawan Revolusi. “Sewaktu saya pergi ke rumahnya meminta janji bertemu, saya bengong mendapatinya sedang berada di garasi, dengan gembira bermain kereta-keretaan listrik dengan jalur relnya yang mahal seperti bocah 10 tahun. Ia bilang akan menjemput saya malam itu.”

Ben lalu diantar sang jenderal ke daerah Tanah Abang dengan VW tua. Belakangan Ben tahu dia dibawa ke markas intelijen. Sang Jenderal pun sesumbar jika dirinya punya mata-mata di dalam tubuh Partai Komunis Indonesia (PKI), yang kala itu masih jaya. Semua keputusan yang diambil itu partai, bisa terdeteksi kapan saja olehnya. Ben akhirnya berkesimpulan jika sang Jenderal mengira dirinya adalah agen CIA. Untung saja Ben tidak mau jahil sama itu Jenderal Intel yang berintuisi lemah dan segera mengaku dirinya adalah mahasiswa, bukan mata-mata. Begitulah pengalaman Ben bertemu intelijen militer hasil didikan Fasis Jepang.

Jika negara membatasi bacaan, tentu saja tak hanya rakyat-rakyat saja yang bodoh. Akhirnya akan banyak intel-intel atau bahkan Jenderal berintuisi lemah, seperti yang mengira Ben adalah CIA. Karena bagaimana pun intel dan jenderal berasal dari rakyat, toch?

Sejak muda, Ben mengunjungi beberapa tempat di Indonesia. Jawa adalah fokusnya. Barangkali terkait juga dengan risetnya yang menjadi buku Revolusi Pemoeda. Karya penting Ben itu adalah pelengkap karena lemahnya gambaran Indonesia di zaman pendudukan Jepang dalam karya Kahin, Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. Ben berkenalan dengan banyak orang Jawa. Salah satunya seorang mahasiswa asal Bagelen.

Si kawan ini generasi ketiga di keluarganya yang mendukung Partai Komunis Indonesia. Meski begitu, orang ini doyan ngebir dan menggoda gadis-gadis. Suatu kali terlontarlah pertanyaan cabul dari Ben, soal bagaimana si mahasiswa Bagelen ini melepas keperjakaannya?

Si kawan bilang di desanya ada adat yang agak aneh, di mana ada seorang perempuan berusia 40an tahun yang tak pernah kawin, juga tak punya keluarga. Si perempuan ini rupanya sangat dihormati semua orang desa termasuk pemimpin-pemimpin desa itu. Oleh penduduk desa, si perempuan ini dapat tugas khusus, 'mengajari para pemuda soal seks.' Si mahasiswa ini, ketika ia berusia 15 tahun, pernah diinapkan semalam di rumah itu perempuan. Apa yang terjadi? Silahkan Anda bayangkan sendiri apa yang dilakukannya di rumah itu perempuan.

Perempuan itu mirip dengan Srinthil 'dalam kisah Ronggeng Dukuh Paruk. Ben belum beritahu bagaimana kemudian kabar si mahasiswa Bagelen yang jika Pemilu akan memilih PKI. Bisa jadi sudah merasakan Rutan Salemba atau Nusakambangan atau Pulau Buru. Nasib si pemuda Bagelen ini akan mirip dengan Tan Swie Ling, orang kepercayaan Sudisman. Tan menjalani siksa ala Orde Baru. Orde yang yang membuat Ben tak boleh ke Indonesia selama 27 tahun.

Meski tak boleh masuk ke Indonesia dan juga sibuk meneliti soal Filipina, bukan berarti Ben tidak mengikuti perkembangan Indonesia. Ben punya banyak kawan yang memberitahu banyak soal Indonesia. Ben setidaknya punya banyak mahasiswa asal Indonesia. Ben juga punya Ben Abel, yang sangat dekat dengan Ben layaknya keluarga. Ben yang bekerja di perpustakaan Cornell termasuk orang yang membuat Ben bisa mengikuti perkembangan Indonesia.

Bagi mereka yang merindukannya, kini hanya bisa membuka memoar intelektualnya, yang versi Indonesianya diberi judul: Hidup Di Luar Tempurung (2016) dan diterbitkan penerbit Indonesia yang begitu dipercaya Ben. Hanya saja, Ben tidak narsis dalam buku memoarnya itu. Alasan Ben memilih judul itu dia sudah melintasi batas-batas nasional sejak lahir. Ketika dia tak bisa lagi menginjakkan kaki ke Indonesia lagi, Ben masih bisa mengikuti Indonesia dengan memakai mata lain. Bicara soal tempurung, kita akan ingat sebuah peribasaha katak dalam tempurung. Ben bicara soal katak yang tak hidup di dalam tempurung. Katak itu tentu tak lain adalah Ben sendiri.

Ben adalah katak yang tak berhenti melompat. Usia tak menghalangi. Dia bisa melompat ke mana pun. Di masa orde baru, hanya negeri tertutup tempurung bernama Indonesia saja yang tak bisa dipijaknya. Namun, bukan Ben namanya jika tidak tahu melihat apa yang ada di dalam tempurung. Setelah orde baru tumbang, barulah Ben bisa melompat dan berpijak ke Indonesia lagi. Di mana dia dan kawan-kawannya bisa berkumpul dan minum bir. Sambil angkat gelas Ben akan bilang, “Gantung Bakrie!”

Selamat ulang tahun di alam sana, Om. Semoga birnya tetap segar dan mencerahkan...

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight