Belajar Menertawakan Diri Sendiri dari Gus Dur

Oleh: Ivan Aulia Ahsan - 7 September 2017
Dibaca Normal 2 menit
Satu hal yang paling menonjol dari Gus Dur adalah kemampuannya menertawakan diri sendiri lewat lelucon.
tirto.id - Beberapa pekan setelah menjadi presiden pada 1999, Gus Dur berpidato di depan para tamu negara asing. Peristiwanya terjadi di Denpasar, Bali. Ia berpidato dalam bahasa Inggris tanpa teks. Di awal pidato, dia berkata begini:

“Saya dan Megawati adalah pasangan presiden dan wakil presiden yang lengkap: saya tidak bisa melihat, dia tidak bisa ngomong.”

Semua tamu tentu saja ger-geran tanpa kecuali. Gus Dur bersikap biasa saja melihat orang tertawa bahak-bahak. Wajahnya lempang saja.

Waktu itu banyak omongan soal wakil presiden yang irit bicara. Megawati Soekarnoputri jarang sekali memberi komentar soal apapun. Gus Dur, sementara itu, hampir saban hari mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang sering bikin panas berita-berita di surat kabar.

Diamnya Megawati memang membuat orang bertanya-tanya, terutama menyangkut kapasitas pribadinya sebagai seorang wakil presiden dan ketidakcocokannya dengan sang presiden. Gus Dur tahu betul tentang itu dan ia mencoba menetralisir situasi dengan kemampuannya yang menyenangkan: lelucon dan menertawakan diri sendiri.


Pada kesempatan lain, ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur makin kencang di mana-mana, Emha Ainun Nadjib, mampir ke istana. Berdasarkan cerita yang pernah dituturkan Emha, ia mendatangi Gus Dur sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan.

“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan,” kira-kira begitu kata Emha kepada Gus Dur.

Jawaban Gus Dur: “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur.”

Dua orang itu ngakak.

Infografik Riwayat Gus Dur


Waktu itu memang posisi Gus Dur berada di ujung tanduk. Lawan politiknya terus menyerang dengan isu Buloggate lewat DPR dan MPR. Suasana memanas akibat pendukung Gus Dur dan penentangnya tiap hari melakukan demonstrasi dan unjuk kekuatan di depan istana. Gus Dur sempat mengeluarkan senjata pamungkas berupa Dekrit Presiden yang salah satu poinnya adalah membekukan DPR dan MPR.

Tapi langkah-langkah politik Gus Dur sudah begitu lunglai. Segala jurus yang dikeluarkannya percuma saja karena dukungan politik kian surut. Akhirnya, Gus Dur benar-benar mundur. Ada peristiwa yang kemudian jadi ikonik ketika di malam sebelum ia mundur, Gus Dur melambaikan tangan kepada para pendukungnya yang berkumpul di depan istana. Busana yang dipakainya: baju tidur, celana pendek, dan sandal jepit. Malam itu, ia menjadi presiden pertama Indonesia yang menampakkan diri kepada publik dengan celana pendek di Istana Negara.

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu. Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.

Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir di situ bersalawat bareng-bareng. Para hadirin senang sekali melafalkan salawat dipimpin seorang kiai besar.

Di akhir ceramah, Gus Dur nyeletuk.

“Saya minta Anda semua bersalawat agar tahu berapa banyak jumlah yang hadir. Saya, kan, gak bisa melihat.”

Satu lapangan terpingkal-pingkal.

Salah satu humor Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku: agama.

“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa.”

Seluruh Indonesia, tentu saja, tertawa.

Gus Dur memang sangat lihai memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Seperti ia tulis dalam Kata Pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia (1986): “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”

Jika ia masih hidup, hari ini umurnya genap 77 tahun. Gus Dur mungkin cengar-cengir saja melihat politik Indonesia hari ini yang penuh makian tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon. Barangkali ia cengar-cengar juga ketika melihat meme yang menghina salah satu putrinya, Alissa Qotrunnada Munawaroh, dengan sebutan “anak si buta”.

Selamat ulang tahun, Gus.

Baca juga artikel terkait GUS DUR atau tulisan menarik lainnya Ivan Aulia Ahsan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Ivan Aulia Ahsan
Penulis: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Zen RS
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live