Pandemi COVID-19

Beban Ganda dan Penuh Risiko Nakes Hamil saat COVID-19

Reporter: Alfian Putra Abdi, tirto.id - 8 Agu 2021 08:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Tenaga kesehatan yang tengah mengandung memiliki kerentanan berlipat saat pandemi Covid-19. Tak sedikit dari mereka yang meninggal dunia.
tirto.id - Berapa pun luas dan lebarnya rumah yang ia miliki, tidak mampu menampung segala kerinduan itu. Saat Ia di ruang tamu, meja makan, ruang tengah, apalagi di kamar tidur; bayangan sang Istri selalu muncul, memutar kembali kejadian-kejadian lampau.

Istrinya meninggal karena Covid-19, usai melahirkan anak kedua. Ia berusaha tegar dan merelakan kejadian tersebut sebagai bagian takdir Tuhan. Walakin Ia tetap tak mampu menahan tangis setiap malam tiba. Nampaknya mengikhlaskan bukan perkara instan, ia adalah jalan panjang nan terjal dan butuh proses.

“Saya enggak bisa tidur sampai sekarang. Di rumah ini saya enggak bisa sendiri. Ini rumah yang saya bangun bersama Gesti dari awal. Semua titik selalu ada dia,” ujar Sunni Nugraha Priadi, suami mendiang Gesti Wira Nugrayekti, kepada saya pada Rabu (4/8/2021) sore.

Gesti merupakan mahasiswa termuda di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Departemen Anestesiologi Universitas Airlangga, Surabaya. Usianya menjejak 24 tahun saat masuk PPDS pada Januari 2021.

Dekan FK Unair Prof. Dr. Budi Santoso, dr, SpOG (K) menyebut Gesti sebagai dokter pintar dan salah satu yang terbaik dari FK Unair. Gesti menyelesaikan jenjang pendidikan dokter dalam rentang waktu 2012 hingga 2018.

Dokter anestesi memang cita-cita Gesti sejak lama. Setelah berhasil menjadi dokter umum dan menikah dan memiliki satu orang anak. Gesti izin kepada Sunni untuk melanjutkan pendidikan spesialis. Ia ingin memberikan manfaat bagi orang-orang dengan garis hidup-mati begitu tipis.

“Seenggaknya Ia bisa menghidupkan harapan keluarganya, misalkan menolong pasien yang hampir meninggal,” ujar sang suami.

Demi mewujudkan tekadnya, Gesti menimba ilmu dengan getol; Ia mengikuti berbagai seminar daring dan luring hingga keluar kota. Buku-bukunya di rumah begitu banyak. Sunni mengenang Gesti sebagai sosok dengan etos belajar tinggi. Sekaligus teman hidup yang terandalkan.

Empat bulan pertama sebagai mahasiswa PPDS, Gesti belajar secara daring. Ia sesekali ke rumah sakit untuk pendidikan dan praktik menangani pasien Covid-19 secara tak langsung pada bulan Juni. Saat itu, semuanya masih baik-baik saja.

Akhir Juni, kampus Gesti mengadakan acara besar dan mengundang banyak dokter spesialis dari luar Kota Surabaya. Gesti yang sedang hamil tua ditempatkan sebagai admin dan jauh dari kerumunan.

Dua hari pasca acara, Ia mendapat kabar empat teman satu angkatannya terinfeksi Covid-19. Lantaran merasa kontak erat dengan mereka, Gesti melakukan tes PCR dan hasilnya negatif.

Berselang satu hari, Gesti mendadak demam. Ia pikir hanya sakit biasa. Namun kondisi Gesti tak kunjung membaik, bahkan batuk berdahak disertai demam muncul keesokan harinya.

Gesti mencoba tes PCR ulang pada 2 Juli 2021 dan hasilnya positif varian delta. Suhu tubuhnya mencapai 39 derajat celsius dan saturasi oksigennya menurun, napasnya tersengal-sengal. Bagian yang tak pernah diharapkan terjadi; janin Gesti mengalami kekurangan oksigen dan mesti segera dioperasi caesar.

Setelah Sunni menyetujui, Ragil Salman lahir di RSUD dr Soetomo, Surabaya pada 3 Juli 2021 waktu pagi hari—lebih cepat satu bulan dari prediksi kelahiran.

Gesti hanya punya waktu kurang dari satu minggu melihat si bungsu Salman dari ruang isolasi khusus di rumah sakit yang sama. Sunni memfasilitasi jalinan kasih ibu-anak itu via panggilan video. Hal yang membekas dibenak Sunni: Salman lucu, kata Gesti, kemudian ia tersenyum.

Dalam kondisi terbaring lemah dan selang oksigen di hidung, Gesti masih sempat mencarikan donor ASI untuk Salman via media sosial pribadi dan mengajari Sunni cara mengurus bayi. Sunni menyebutnya sebagai “dorongan keibuan”.

“Aku minta ia istirahat. Dia bilang, ‘enggak apa-apa, aku optimis bisa sembuh’,” ujarnya.

Secara berkala kondisi Gesti memburuk meski tak memiliki penyakit penyerta. Menurut Sunni hal itu disebabkan dua faktor: istrinya belum divaksinasi dan pasca mengandung, sehingga imunnya tidak terlalu bagus. Pada 12 Juli 2021, Gesti memerlukan tindakan intubasi—prosedur medis untuk memasukkan alat bantu napas tabung endotrakeal melalui mulut atau hidung.

“Waktu mau diintubasi, dia nangis. Karena ia dokter, dia tahu kondisinya akan seperti apa,” tutur Sunni.

Tiga hari kemudian, varian delta membuat Gesti mengalami gagal jantung akut. Dokter memasangkan alat ECMO untuk mendukung asupan darah dan oksigen pada tubuh Gesti.

Gesti sempat juga mengalami syok septik atau peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi. Sampai akhirnya dokter menyatakan Gesti meninggal dunia pada 22 Juli 2021, di Ruang Isolasi Khusus RSUD dr Soetomo. Gesti dimakamkan di bijananya di Jember, Jawa Timur.

Sementara kondisi Salman berangsur membaik dan sudah pulang ke rumah setelah dinyatakan negatif Covid-19 sejak 5 Juli 2021. Sekarang, Ia menjadi satu-satunya pemecah kesunyian di rumah Sunni; tiap dua jam sekali Salman menangis, sebagai tanda agar ayahnya menyiapkan sebotol ASI perah untuknya.

Sementara si sulung masih tenang dan tidak rewel mempertanyakan ketiadaan sang ibu di rumah. Bisa jadi ia mengira Mama Gesti masih lembur bekerja di rumah sakit dan akan segera pulang untuk memeluknya seperti biasa.

“Anak pertama saya masih 1,5 tahun, belum paham situasinya. Tapi, setiap melihat foto mamanya, selalu dipeluk dan diciumin. Saya nangis saat itu,” ujar Sunni.



Memikul Beban Berlipat


Sore (4/8/2021) itu, pusara Eni Lisnawati diziarahi keluarga dan beberapa kerabatnya. Mereka merayakan ritus 7 harian dan mendoakan Eni agar selamat dalam perjalanan keabadian.

Eni Lisnawati (36) merupakan perawat RS PKU Muhammadiyah, Bantul yang telah bekerja sejak 2007. Ia meninggal dunia karena Covid-19, dalam keadaan mengandung janin 7 bulan.

“Saya bangga, beliau meninggal di hari Jumat, hari baik. Dalam kondisi hamil dan melawan covid. Insyallah syahid,” ujar Ana Dwiyanto (33), adik Eni, kepada saya pada Rabu malam.

Bagi Ana, Eni lebih dari seorang kakak. Mbak Lis—begitu ia mengakrabi Eni—adalah suri tauladan, ing ngarsa sung tuladha sekaligus ing madya mangun karsa.

Eni seperti terlahir untuk menjadi perawat bagi banyak orang. Eni selalu senang membantu orang lain. Ana masih ingat kejadian itu; saat seorang anggota keluarga mereka yang lama tak kontak, kemudian jatuh sakit, Eni bersedia memberikan pertolongan meski energi hariannya sudah terkuras di rumah sakit.

Sehari-hari Eni juga membuka jasa pelayanan kesehatan ke rumah (home care). Ia bepergian dari satu desa ke desa lain, merawat pasien-pasiennya. Hal-hal tersebut ia lakukan tanpa mengesampingkan waktu menemani kedua anaknya membuat tugas sekolah. Sampai-sampai Eni rela jatah istirahatnya berkurang.

“Kalau bermanfaat bagi orang lain, bikin dia senang,” tutur Ana.

Kebiasaan menolong orang tersebut mendorong Eni menjadi perawat pasien Covid-19 sejak awal pandemi di Indonesia. Sebelumnya ia ditugaskan di bangsal dewasa. Eni tak sampai hati melihat korban berjatuhan begitu banyak karena virus ini.

Eni tahu keputusannya berisiko, apalagi sejak 2020, Ia berencana menambah momongan. Ia berusaha ketat menjaga protokol kesehatan sampai akhirnya dinyatakan hamil pada Desember tahun lalu.

Pertahanan Eni ambruk pada Juli 2021. Ia kelelahan lantaran mesti bekerja ganda di rumah orangtua dan rumah sakit. Awal Juli, bapak dan ibu dan adik ipar Eni terinfeksi Covid-19; mereka menjalani isolasi mandiri di rumah Bantul dan Eni ikut merawat mereka.

“Setiap hari dia bolak-balik ke rumah, rumah sakit. Dan anak-anaknya juga mesti diurusi karena masih belajar online,” ujar Ana yang saat itu masih berada di Kalimantan.

Pada 15 Juli. Suhu tubuh Eni tinggi. Ia menjalani tes PCR dan hasilnya positif Covid-19. Eni lantas menjadi pasien di rumah sakit tempatnya bekerja.

Meski dokter meminta ia beristirahat, pikiran Eni justru pulang ke rumah. Ia teringat anak sulungnya akan segera masuk pesantren. Ia meminta untuk diizinkan isolasi mandiri saja di rumah. Ia mau menyiapkan segala keperluan si sulung sebelum terpisah berbulan-bulan.

Namun terlalu berisiko bagi Eni yang sedang hamil tua.

Kondisi Eni memburuk dan mesti dialihkan ke ruang perawatan intensif pada 22 Juli. Eni butuh donor darah konvalesen. Setelah dua hari mencari, pihak keluarga mendapatkan dua kantung darah konvalesen untuk Eni.

Hemoglobinnya juga rendah sehingga ia membutuhkan donor darah. Eni bertahan hingga 30 Juli. Sebelum azan asar berkumandang, dokter menyatakan Eni telah meninggal dunia. Sementara nasib janin Eni sudah meninggal dua jam lebih dulu.

“Mba Lis itu tulang punggung keluarganya. Suaminya belum dapat rezeki. Saya belajar kesabaran darinya, selalu positif dan tidak pernah dendam,” ujar Ana.


Atur Ulang Jam Kerja Nakes Hamil

Ibu hamil merupakan kelompok rentan dalam pandemi Covid-19. Begitupun para tenaga kesehatan yang berada di garis depan berperang melawan virus Corona. Bayangkan kamu adalah bagian dari dua kelompok itu sekaligus, seorang tenaga kesehatan yang tengah mengandung, maka kerentananmu terhadap virus mematikan ini makin berlipat.

Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Ari Kusuma Januarto mengatakan ibu hamil memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah dibanding ibu tidak hamil.

Bahkan ibu hamil memiliki potensi terinfeksi Covid-19 seperti orang dengan penyakit komorbid. Sehingga dalam kondisi terparah, ibu hamil akan menempuh operasi terminasi untuk menyelematkan janinnya.

“Karena Covid menyerang pernapasan, paru-paru, dan sirkulasi darah. Jelas memengaruhi ibu hamil, kalau dia kekurangan oksigen atau darah, pasti berdampak pada bayinya,” ujar Ari kepada Tirto, Rabu (4/8/2021).

Ari mencontohkan dari data di DKI Jakarta saja dari Januari-Mei 2021 ada 15.000 ibu hamil yang diperiksa total ada 1.639 yang terkonfirmasi positif COVID-19 atau sekitar 11 persen. Sementara data POGI mencatat selama April 2020-April 2021, terdapat 536 ibu hamil yang positif COVID-19.



“Indonesia sedang mengurangi angka kematian ibu hamil. Data sampai Juli, 2.373 ibu hamil meninggal dunia dan 20 persennya disumbang oleh Covid-19. Yang mestinya diturunkan, karena Covid jadi naik,” ujar Ari.

Sehingga menurut Ari, perlu adanya rumah sakit rujukan di setiap provinsi. Agar masyarakat bisa waspada jika akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada ibu hamil. Selain itu perlu percepatan vaksinasi pada ibu hamil.

“Vaksinasi ibu hami ini supaya dia punya daya tahan tubuh dan antibodi. Vaksin ini salah satu pencegah, meski bukan segalanya,” tukas Ari.

Upaya menekan angka kasus COVID-19 pada ibu hamil memang tengah dilakukan. Bagi nakes yang hamil, Juru Bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi kepada reporter Tirto, Senin (2/8/2021) meminta agar beban kerja mereka diatur dengan ketat melalui shift kerja yang tidak memberatkan untuk mengurangi risiko terpapar COVID-19.

Kemenkes juga sudah mengeluarkan Surat Edaran HK.02.01/I/2007/2021 tentang Vaksinasi COVID-19 Bagi Ibu Hamil dan Penyesuain Skrining Dalam Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19. Ibu hamil akan mendapatkan vaksin dari jenis Pfizer, Moderna, dan Sinovac.

Pemberian dosis pertama vaksin akan diberikan pada trimester kedua kehamilan. Dosis kedua diberikan sesuai dengan interval dari jenis vaksin.

“Kita sudah akan memberikan vaksinasi kepada ibu hamil. Kedua, ibu hamil kelompok yang rentan jadi harus ketat dalam menjalankan prokes dan kurangi mobilitas,” kata Nadia.

Pemerintah juga akan menanggung Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) COVID-19 yang membutuhkan pengobatan dan perawatan di faskes sesuai dengan indikasi medis dan protokol pengobatan.


Baca juga artikel terkait IBU HAMIL COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Restu Diantina Putri

DarkLight