Hal ini diungkapkan ahli ginekologi di Alpha IVF & Women Specialist, Dr. Lam Wei Kian di Jakarta, Rabu (15/1/2020) sebagaimana dikutip Antara.

"Kemungkinan mendapatkan bayi kembar itu kurang dari lima persen. Tapi tidak disarankan, kenapa? Berisiko komplikasi misalnya kelahiran prematur," katanya.

Bayi juga berisiko lahir dengan berat badan rendah dan memiliki kemungkinan bertahan lebih kecil menurut ahli kesehatan seperti dikutip dari WebMD.

Sementara itu, pada ibu sendiri ada risiko terkena pre-eklampsia, diabetes gestasional dan pendarahan sebelum dan sesudah persalinan.

Dokter Lam juga menjelaskan, ada cara untuk mengurangi risiko kelahiran prematur yakni pemberian obat khusus agar rahim rileks dan mengurangi kontraksi.

"Ada cara yang kita bisa lakukan untuk kurangi bersalin prematur, pemberian obat agar rahim rileks, mengurangi kontraksi, semasa 24 minggu ke atas, injeksi pada ibu untuk mematangkan (fungsi) paru-paru. Kelahiran prematur berisiko paru-paru tidak matang (sempurna fungsinya)," kata dia.

Dari sisi makanan, sebenarnya tidak ada pantangan khusus bagi ibu yang menjalani IVF. Mereka tetap perlu mengonsumsi makanan bergizi secara seimbang.

"Kami sebagai dokter tidak hanya menganjurkan konsumsi makanan sehat, jangan campur dengan obat tradisional. Kita tidak tahu kandungan di dalam obatnya, mungkin ada hormon yang mempengaruhi kinerja obat injeksi," tutur Lam.

Sebelum menjalani IVF, pasangan suami istri harus berkonsultasi dengan dokter dan menjalani serangkaian tes mulai dari darah untuk menentukan perawatan yang diperlukan jika ternyata ada masalah dalam sistem reproduksi.

Prosedur berikutnya, pemberian injeksi atau obat-obatan untuk meningkatkan kesuburan, lalu injeksi GnRH dan pengambilan sel telur, diikuti pengambilan sperma.

Kalau sperma cukup, tinggal mencemplungkannya ke sel telur dalam cawan petri. Di laboratorium, ahli embrio akan memantau embrio hingga siap ditanamkan ke rahim. Umumnya, proses IVF membutuhkan waktu lima sampai enam minggu.


Keberhasilan bayi tabung didukung oleh gaya hidup dan juga oleh usia. Semakin tua usia pasangan memulai program, maka semakin rendah pula tingkat keberhasilannya karena produksi telur sehat semakin berkurang.

Individu dengan usia di bawah 35 tahun memiliki peluang 40-50 persen kehamilan. Peluang akan mengecil menjadi hanya 20-30 persen pada umur lebih dari 35 tahun.


Sekretaris Jendral Perkumpulan Fertilisasi In Vitro Indonesia (Perfitri), dr. Ivan Sini, mengatakan, saat ini kesadaran masyarakat terhadap gangguan kesuburan telah meningkat.

Kondisi ini diperlihatkan dengan pergeseran tren bayi tabung ke pasangan dengan umur lebih muda. Masyarakat Australia mulai menjajal bayi tabung saat usia pernikahannya mencapai 1-2 tahun.

“Di Indonesia, dari rata-rata pasangan berumur 38-39 tahun dengan masa nikah 8-9 tahun turun menjadi pasangan berumur 35 tahun,” ujar dokter spesialis kandungan ini.

Hingga kini, total anak-anak yang lahir dari program bayi tabung di dunia telah mencapai 6,5 juta jiwa. Anak yang pertama lahir dari program tersebut, Loise Joy Brown, kini sudah berusia 40 tahun.