Bayi Tabung: Alternatif Jitu Mendapat Momongan

Oleh: Aditya Widya Putri - 16 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Penderita kista endometriosis punya harapan baru memiliki momongan dengan program bayi tabung.
tirto.id - Gambar testpack bergaris dua dan sebuah buku catatan medis bertanggal 5 September 2018 diunggah Tya Ariestya di laman Instagramnya. Keterangan dalam foto itu menegaskan kabar bahagia dirinya yang tengah mengandung anak dari hasil program In Vitro Fertilisation (IVF) atau bayi tabung yang dijalankan awal Agustus lalu.

“Aku positif hamil....kita dikasih kesempatan untuk mengulang keberhasilan bayi tabung kembali.”

Program bayi tabung yang dijalankan Tya berhasil mendapatkan enam embrio bagus, dua ditransfer ke rahim, dan empat sisanya dibekukan dengan teknologi pembekuan embrio. Jika dihitung, sudah dua kali duta taekwondo Indonesia ini menjajal bayi tabung. Anak pertamanya, Kanaka, juga lahir dari program sama yang dimulai tiga tahun lalu.

Tya memilih program bayi tabung sebagai usaha memiliki momongan lantaran ia memiliki masalah kesuburan. Satu tahun pernikahan, ia memeriksakan diri dan dokter menyatakan ovum miliknya sulit membesar serta tak bisa berkembang. Program pertamanya menghasilkan empat embrio dengan dua penanaman di rahim dan dua lainnya dibekukan.

“Kanaka habis sekitar Rp50 juta, ini mungkin sekitar Rp100 juta karena kondisiku sekarang membutuhkan stimulan lebih tinggi,” katanya membocorkan kisaran biaya saat mengisi acara Fertility Science Week di Jakarta, Sabtu (8/9). “Semakin muda usia kita saat ikut program, biayanya juga semakin murah.”



Bayi tabung dapat menjadi alternatif program kehamilan ketika pasangan belum memiliki anak sejak setahun pernikahan, bahkan meski sudah berhubungan seksual rutin 3-4 kali dalam seminggu. Prof Arief Boediono, seorang embryologist (ahli embrio) dari Klinik Morula IVF menjelaskan alur proses bayi tabung. Pertama dimulai dari pemeriksaan, dilanjut pengambilan sperma dan ovum.

Pada tahap pemeriksaan sperma, pasien cukup melakukan masturbasi dan memberikan sampel sperma kepada tenaga ahli. Ia lalu memperlihatkan sebuah ruangan yang lebih cocok disebut kamar dibanding ruangan medis. Di tempat itulah pasien-pasiennya melakukan masturbasi tanpa harus merasa canggung. Ruangannya kedap suara, sampel sperma juga tak perlu ditenteng-tenteng dan diserahkan pada tenaga ahli, namun cukup diletakkan pada wadah khusus yang tersedia di sana.

“Nanti kami (ahli embrio) yang ambil,” ujar Arief.

Agar tidak tertukar satu sama lain, sperma diberi penanda berupa barcode. Setelahnya ahli embrio akan memilih sperma terbaik dan memulai proses kultur inkubasi. Dari sekian banyak sperma, dibutuhkan hanya satu sperma untuk pembuahan. Perkembangan embrio akan dilihat dari mikroskop yang diletakkan dalam inkubator dan dicek setiap 5-15 menit. Pada hari ke 5-6 embrio ditransfer ke rahim.

“Tak perlu khawatir kualitas sperma buruk, bahkan jika sperma kosong, alternatifnya dapat diambil dari testis langsung dengan biopsi,” papar Arief.

Keberhasilan bayi tabung didukung oleh gaya hidup dan juga oleh usia. Semakin tua usia pasangan memulai program, maka semakin rendah pula tingkat keberhasilannya karena produksi telur sehat semakin berkurang. Individu dengan usia di bawah 35 tahun memiliki peluang 40-50 persen kehamilan. Peluang akan mengecil menjadi hanya 20-30 persen pada umur lebih dari 35 tahun.

Sekretaris Jendral Perkumpulan Fertilisasi In Vitro Indonesia (Perfitri), dr. Ivan Sini, mengatakan, saat ini kesadaran masyarakat terhadap gangguan kesuburan telah meningkat. Kondisi ini diperlihatkan dengan pergeseran tren bayi tabung ke pasangan dengan umur lebih muda. Masyarakat Australia mulai menjajal bayi tabung saat usia pernikahannya mencapai 1-2 tahun.

“Di Indonesia, dari rata-rata pasangan berumur 38-39 tahun dengan masa nikah 8-9 tahun turun menjadi pasangan berumur 35 tahun,” ujar dokter spesialis kandungan ini.

Hingga kini, total anak-anak yang lahir dari program bayi tabung di dunia telah mencapai 6,5 juta jiwa. Anak yang pertama lahir dari program tersebut, Loise Joy Brown, kini sudah berusia 40 tahun.


Alternatif bagi Penderita Kista Endometriosis

Program bayi tabung tidak hanya memberikan harapan bagi pasangan yang belum mempunyai anak. Ia juga bisa memberikan harapan bagi penderita penyakit kista endometriosis, penyakit yang menyerang 10 persen perempuan di dunia. Laman Hopkin Medicine menyebut endometriosis sebagai salah satu dari tiga faktor utama masalah infertilitas pada perempuan. Ia ditemukan pada 24-50 persen perempuan dengan masalah kesuburan. Gejalanya dapat dideteksi ketika merasakan nyeri luar biasa pada saat haid, berhubungan seksual, pendarahan berlebihan saat menstruasi, dan pendarahan pada tinja atau urine.

Infografik Proses bayi Tabung


Berdasarkan tingkat keparahannya, endometriosis dibagi menjadi empat stadium didasarkan pada lokasi, jumlah, kedalaman, dan ukuran jaringan endometrium. Jaringan endometrium di stadium awal masih berukuran kecil, sementara pada stadium dua dan tiga, jaringan berukuran lebih besar dari 3 cm. Pada stadium akhir, endometrium dapat memengaruhi organ panggul, ovarium, menimbulkan adhesi, dan berpotensi menghalangi jalannya sperma.

“Kista tak bisa sembuh. Dia bisa hilang, tapi berpotensi kambuh lagi meski sudah dioperasi,” kata dr. Indra NC Anwar, spesialis kandungan dari Klinik Morula IVF.

Ia memaparkan peluang kehamilan alami masih bisa terjadi pada individu dengan endometriosis stadium 1-2. Namun, pada stadium 3-4 program kehamilan sebaiknya fokus pada metode bayi tabung. Melakukan program kehamilan dengan inseminasi buatan hanya memiliki sedikit peluang. Inseminasi adalah metode pembuahan dengan menyemprotkan sperma langsung ke serviks, saluran tuba, atau rahim menggunakan kateter. Tujuannya membuat perjalanan menuju sel telur jadi lebih pendek.



Penelitian Paula Kuivasaari, Maritta Hippeläinen, Maarit Anttila, dan Seppo Heinonen (2005) menilai peluang kehamilan penderita endometriosis menggunakan bayi tabung. Mereka mengobservasi 31 perempuan dengan endometriosis stadium 1 dan 2, ditambah 67 perempuan dengan endometriosis stadium 3 dan 4.

Tingkat kehamilan per transfer embrio segar pada endometriosis stadium 3 dan 4 lebih rendah, yakni 22,6 persen bila dibandingkan dengan kelompok stadium 1 dan 2 sebesar 40 persen. Pada proses transfer embrio beku, sebanyak 56,7 persen kelompok endometriosis 3 dan 4 berhasil hamil, dan 40,3 persennya melahirkan. Sementara pada kelompok endometriosis 1 dan 2 persentase hamilnya mencapai 67,7 persen dengan angka kelahiran 55,8 persen.

“Selama indung telur tidak tertutup, kista tak perlu dioperasi karena tak memengaruhi angka kehamilan,” urai Indra.



Meski meningkatkan peluang kehamilan, namun program ini tetap punya risiko kegagalan. Hanya saja jika program komulatifnya diulang, maka peluang keberhasilannya juga makin meningkat. Pada program perdana, peluang keberhasilan bayi tabung bisa mencapai 40-50 persen. Ketika diulangi, program selanjutnya punya keberhasilan hingga 70-80 persen.

Keunggulan lainnya yang didapat ketika memulai program ini adalah seleksi calon embrio. Sebelum ditanam ke rahim, mereka dapat dipilih berdasar kromosom atau materi genetiknya guna menghindari kecacatan. Teknologi ini juga memungkinkan ahli embrio melihat jenis gender embrio yang ditanam. Hanya saja di Indonesia, Perfitri menyepakati larangan pemilahan embrio berdasar gender guna menghindari diskriminasi dan eliminasi gender.

“Embrio juga bisa dibekukan dan digunakan kembali suatu saat sehingga tak perlu mengulang proses pembuahan dari awal,” kata Indra.

Nah, jika tertarik melakukan program ini, Anda perlu menyiapkan beberapa persyaratan termasuk dokumen pernikahan. Sebab program bayi tabung di Indonesia tidak menerima layanan bagi pasangan yang belum menikah secara negara, pasangan sejenis, individu yang belum menikah, atau yang pasangannya meninggal, dan memakai ibu pengganti (surogasi).

Baca juga artikel terkait BAYI TABUNG atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Nuran Wibisono