tirto.id - Operasi pencarian dan pertolongan atau search and rescue (SAR) operation terhadap korban insiden pesawat ATR 42-500 telah memasuki hari keempat.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI M. Syafi’i, memaparkan sejumlah tantangan dalam operasi ini. Dia mengatakan tantangan utama yang dihadapi tim SAR gabungan bukan hanya keterbatasan akses, tetapi juga kondisi cuaca dan medan ekstrem yang menyulitkan proses evakuasi.
Syafi’i menyampaikan bahwa dua korban telah ditemukan, namun proses evakuasi belum dapat dilakukan secara optimal karena kondisi alam yang tidak bersahabat. Medan terjal di kawasan Gunung Bulusaraung, serta cuaca yang cepat berubah menjadi faktor krusial yang mempengaruhi jalannya operasi.
“Hari ini kita hari keempat melaksanakan operasi SAR. Dua korban yang sudah ditemukan sekarang dalam proses evakuasi memang karena kondisi medan dan juga cuaca. Permasalahannya di dua itu,” kata Syafi’i saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Lebih lanjut, Syafi’i mengatakan saat dalam situasi evakuasi udara tidak memungkinkan, tim SAR memilih strategi alternatif. Upaya itu dengan memindahkan korban ke titik yang lebih aman dan memungkinkan untuk dijangkau. Langkah tersebut diambil sembari menunggu kondisi cuaca membaik agar proses evakuasi lanjutan dapat dilakukan.
“Namun dengan jumlah personel yang ada, kita berupaya pada saat pesawat tidak bisa evakuasi kita akan berupaya tetap untuk merapatkan korban ini ke punggung (ridge) dari pada puncak Gunung Bulusaraung,” ujar Syafi’i.
Untuk mendukung upaya pencarian, Basarnas mengerahkan sejumlah armada udara, termasuk pesawat dan helikopter. Bahkan, modifikasi cuaca turut dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar memperbaiki kondisi lapangan.
“Mohon doanya saja, kita sudah mengerahkan banyak pesawat mulai dari pesawat Boeing, ada tiga pesawat helikopter, sekarang kita modifikasi cuaca, mudah-mudahan cuaca membaik,” terang dia.
Tak tutup peluang ada korban selamat
Meski hingga kini belum ditemukan tanda-tanda adanya korban selamat, Syafi’i belum sepenuhnya menutup harapan. Pengalaman kecelakaan serupa di masa lalu menjadi pengingat, kemungkinan di luar dugaan tetap ada, meski peluang itu sangat kecil.
“Tidak ada [korban selamat, sejauh ini]. Saya sampaikan kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup. Karena pernah itu kejadian ada pesawat crash kemudian kondisinya sama terburai pesawatnya. Tapi ternyata ada penumpang yang terlempar kemudian mati suri beberapa hari temukan dalam kondisi hidup,” ucapnya.
Sembari melanjutkan pencarian korban, Syafi’i menyebut Basarnas juga mengumpulkan puing-puing pesawat yang ditemukan di sekitar lokasi kecelakaan. Seluruh temuan tersebut nantinya akan diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk keperluan investigasi lebih lanjut.
Sejumlah Serpihan Pesawat ATR 42-500 Sudah Ditemukan
Pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang pada Sabtu (17/1/2026), dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Bandara Hasanuddin, Makassar. Pesawat itu mengangkut 10 orang.
Tim SAR gabungan sempat menemukan sejumlah serpihan pesawat dalam operasi pencarian terhadap pesawat yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data pergerakan di lapangan, Minggu (18/1/2026), pada pukul 07.46 WITA tim menemukan serpihan berupa bagian kerangka pesawat dalam kondisi kecil di koordinat 04°55’48” LS – 119°44’52” BT. Selanjutnya, pukul 07.49 WITA, ditemukan bagian badan pesawat berukuran besar.

Pada pukul 07.52 WITA, tim kembali memperoleh informasi bahwa bagian puntak pesawat telah terbuka serta ditemukan bagian ekor pesawat yang berada di sebelah selatan lereng bawah lokasi kejadian. Seiring perkembangan tersebut, pergerakan unsur SAR terus disesuaikan, termasuk pergeseran search rescue unit (SRU) menuju titik-titik prioritas.
Pada pukul 08.02 WITA, serpihan besar kembali terpantau oleh SRU aju dengan pemantauan udara menggunakan Helikopter Caracal. Selanjutnya, pada pukul 08.11 WITA, tim aju menyampaikan kebutuhan peralatan tambahan berupa perlengkapan mountaineering atau climbing untuk menjangkau lokasi yang memiliki medan terjal.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menyampaikan bahwa temuan serpihan ini menjadi petunjuk penting dalam operasi SAR yang sedang berlangsung.
“Penemuan serpihan pesawat ini menjadi clue penting dalam mempersempit area pencarian. Tim SAR gabungan saat ini fokus pada pengamanan lokasi, pendataan temuan, serta penyesuaian taktik operasi sesuai dengan kondisi medan di lapangan,” ujar Arif.
Ia menambahkan bahwa medan lokasi kejadian cukup menantang dan memerlukan dukungan peralatan khusus.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id





























