Menuju konten utama

Bank Indonesia Diproyeksikan Pertahankan Suku Bunga di Level 5%

BI perlu mengambil jeda untuk mengevaluasi efektivitas transmisi kebijakan moneter terkini sembari memantau volatilitas rupiah secara ketat.

Bank Indonesia Diproyeksikan Pertahankan Suku Bunga di Level 5%
Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen yang tertuang dalam asumsi makro pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 bisa dicapai dengan sinergi kebijakan pemerintah dan bank sentral. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,00 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16-17 September 2025.

Rekomendasi ini disampaikan menyusul dua kali penurunan suku bunga berturut-turut pada Juli dan Agustus lalu, serta didasarkan pada evaluasi perkembangan inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, dan faktor eksternal seperti kebijakan Federal Reserve AS.

Ekonom Makroekonomi LPEM FEB UI, Jahen F. Rezki, mengatakan bahwa BI perlu mengambil jeda untuk mengevaluasi efektivitas transmisi kebijakan moneter terkini sembari memantau volatilitas rupiah secara ketat.

“BI sebaiknya mempertahankan suku bunga BI di 5,00 persen pada September 2025 setelah melakukan dua kali penurunan suku bunga berturut-turut, untuk mengevaluasi efektivitas transmisi kebijakan terkini sambil memantau volatilitas rupiah secara ketat,” katanya dalam Laporan Seri Analisis Makroekonomi RDG BI September 2025, Rabu (17/9/2025).

BI disarankan untuk menahan suku bunga lantaran inflasi tahunan Indonesia tercatat sebesar 2,31 persen pada Agustus 2025, masih dalam rentang target BI yaitu 1,5–3,5 persen. Sementara itu, inflasi inti melambat menjadi 2,17 persen, mencerminkan lemahnya permintaan domestik.

Menurutnya, meskipun terjadi kenaikan harga pangan seperti beras dan transportasi pada Juni lalu, tekanan inflasi secara keseluruhan masih terkendali berkat penurunan harga komoditas tertentu seperti cabai merah dan bensin.

Sedangkan, nilai tukar rupiah sempat menguat pada awal September akibat aliran masuk modal asing, namun mengalami tekanan usai perombakan kabinet dan kekhawatiran atas koordinasi kebijakan fiskal-moneter. Hal ini memicu arus keluar modal hingga 960 juta dolar AS.

Di sisi eksternal, pasar global tengah menantikan keputusan Federal Reserve (The Fed) yang diprediksi akan memangkas suku bunga acuan AS.

Kebijakan ini berpotensi mendorong aliran modal ke pasar emerging markets seperti Indonesia, namun juga memperkuat kebutuhan untuk menjaga stabilitas rupiah.

“Suku bunga kebijakan telah dipertahankan pada kisaran 4,25 - 4,50 persen sejak Desember 2024, namun ekspektasi penurunan semakin kuat setelah munculnya tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja AS,” ujarnya.

Sejak mencapai puncaknya di level 6,25 persen, BI telah melakukan empat kali pemotongan suku bunga pada tahun 2025 dan satu kali pada tahun 2024, dengan total penurunan sebesar 125 basis poin.

Baca juga artikel terkait SUKU BUNGA ACUAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra