tirto.id - Kemacetan di Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, pada Kamis (29/1/2026), menjadi salah satu pengalaman macet paling “horor” yang dialami Iwan, seorang mahasiswa dan juga kreator konten yang setiap hari rutin melintasi jalan tersebut untuk beraktivitas.
Kepada Tirto, Iwan menggambarkan kondisi Jalan Daan Mogot dan sekitarnya pada pagi itu sangat ruwet. Ia bersama ribuan warga lainnya terjebak kemacetan yang diklaim sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa waktu terakhir di Jakarta. Iwan bercerita, hujan deras dan luapan sungai yang mengakibatkan banjir, serta tingginya volume kendaraan yang diperparah oleh pengendara yang melawan arah, membuat situasi di Jalan Daan Mogot menjadi kacau balau.
“Kamis, 29 Januari 2026, Daan Mogot berubah fungsi. Bukan cuma jadi jalan nasional, tapi juga kolam renang dadakan dan arena uji kesabaran warga. Macet, banjir, motor mogok, sampai pejalan kaki naik angkutan gerobak,” ujarnya saat bercerita kepada Tirto, Jumat (30/1/2026).
Pagi itu, Iwan tengah melakukan perjalanan dari Cengkareng menuju Grogol. Sejak memasuki wilayah Pesing, Jakarta Barat, hingga kawasan Halte Taman Kota, kemacetan mulai terasa. Situasi semakin parah saat memasuki Jalan Daan Mogot Raya KM 13 yang tergenang banjir. Kemacetan seakan tak terputus hingga Flyover Cengkareng.
Awalnya, Iwan berniat menggunakan sepeda motor. Namun, ia mengurungkan niat tersebut dan beralih ke transportasi umum. Sayangnya, alih-alih bisa lolos dari kemacetan dengan Bus TransJakarta, bus yang ia tumpangi justru ikut terjebak dan tak bisa bergerak akibat banjir.
Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah berjalan kaki. Namun, opsi ini pun tidak mudah karena genangan banjir cukup tinggi. Menurut Iwan, banyak pejalan kaki akhirnya memanfaatkan angkutan gerobak dadakan untuk mencapai halte atau tempat tujuan.
“Banyak pengendara motor pasrah karena motornya mati. Ada yang berhenti karena capek, ada juga yang naik angkutan gerobak buat ke halte, tapi tetap kejebak macet berjam-jam,” katanya.
Sementara itu, Iwan mengaku sempat mendapat tumpangan truk untuk melewati banjir dan kemacetan tersebut. Ia menumpang truk sebanyak dua kali, dari sekitar Halte Taman Kota dan dari Flyover Cengkareng, bersama sejumlah warga lainnya.
“Karena rumah saya juga harus lewat jalan yang tergenang banjir, akhirnya saya nebeng truk pagi saat berangkat dan sore saat pulang. Rasanya nostalgia banget, keingat zaman sekolah dulu sering nebeng mobil bareng teman-teman. Bedanya, dulu buat berangkat sekolah, sekarang buat menerjang banjir,” tuturnya.
Perjalanan normal Cengkareng–Grogol yang biasanya ditempuh dalam waktu 20–30 menit—meski sambil berkelakar ia mengaku jarang merasakan waktu normal—pagi itu memakan waktu hampir empat jam. Sebagai warga kota, Iwan pun membagikan keluh kesahnya. Baginya, kemacetan telah menjadi santapan sehari-hari bagi warga Jakarta, baik pagi maupun malam.
“Dari pagi sampai sore. Pagi berangkat kerja disambut banjir, sore pulang kerja disambut lagi. Tetap konsisten,” ujarnya.
Ketika Daan Mogot Berubah Menjadi Jalur Neraka
Pengalaman serupa juga dialami Nisa. Perempuan yang tinggal di Plumpang Semper, Jakarta Utara, itu bekerja di Cipondoh, Tangerang, Banten. Jalur Grogol hingga Daan Mogot sudah lama menjadi santapan hariannya. Namun, Kamis pagi itu terasa berbeda.
“Hampir semua warga Jakarta mengalami ‘musibah’ pada Kamis, 29 Januari pagi, saat ingin memulai aktivitas, terutama mereka yang melintasi wilayah Jakarta Barat. Saya salah satunya dari ratusan orang itu,” ujar Nisa saat bercerita kepada Tirto, Jumat (30/1/2026).
Nisa menggambarkan kondisi Jalan Daan Mogot benar-benar tidak kondusif. Kendaraan melintas di jalur busway, melawan arah, bahkan naik ke trotoar. Banyak penumpang TransJakarta memilih turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Yang paling membuatnya heran, sejumlah pengendara justru memarkirkan kendaraan di badan jalan.
“Itu karena lalu lintas benar-benar tidak bergerak sama sekali. Mereka memilih menitipkan motor lalu berjalan kaki ke kantor,” katanya.

Opsi tersebut tak dipilih Nisa. Di tengah ketidakpastian, keputusasaan, dan kegelisahan mengejar waktu agar tiba tepat jam kerja, ia memilih bertahan. Dengan sisa kesabaran, Nisa melewati jalur yang ia ibaratkan sebagai jalur neraka.
Butuh waktu sekitar dua jam 30 menit hingga akhirnya ia tiba di kantor. Padahal, dalam kondisi normal, perjalanan dari Plumpang ke Cipondoh hanya memakan waktu sekitar satu jam 10 menit.
“Waktu dan tenaga sudah terkuras. Untungnya, saat itu atasan mengerti,” ujarnya.
Tak hanya pengendara motor seperti Nisa yang terjebak di Jalan Daan Mogot, penumpang TransJakarta di kawasan tersebut juga terpaksa turun dari bus dan menaiki truk akibat kemacetan panjang imbas banjir, Kamis (29/1/2026).
Di lokasi, sejumlah penumpang terlihat turun dari bus dan langsung menaiki truk. Penumpang lainnya berjalan kaki di jalur busway, sementara sebagian menyeberang dan melanjutkan perjalanan melalui trotoar.
Fida (29), seorang karyawan swasta, mengaku kepada Antara terpaksa berjalan kaki sejauh 2,3 kilometer demi mengejar waktu agar bisa tiba di kantornya di kawasan Kalideres. Ia memilih berjalan kaki untuk menghindari titik kemacetan dan banjir di sepanjang Jalan Daan Mogot, dari Halte Jembatan Gantung hingga Halte Jembatan Baru.
“Tadi jalan dari Jembatan Gantung sampai sini. Hampir 30 menit, soalnya busnya enggak jalan sama sekali,” kata Fida di depan Halte TransJakarta Jembatan Baru.
Mobil Terombang-Ambing saat Menerjang Banjir
Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak dini hari membuat Lydia Surianata harus bertugas mengantar anak-anaknya ke sekolah menggunakan mobil pada Kamis (29/1/2026). Namun, pagi itu berbeda dari biasanya. Saat ia hendak keluar dari Taman Kota menuju Jalan Daan Mogot, jalanan setelah rel KA sudah mulai tergenang, sehingga pukul 06.25 WIB kemacetan sudah mulai terasa.
Di perjalanan menuju sekolah, genangan juga terlihat di beberapa titik, antara lain dekat Pondok Rangi Taman Ratu, di sekitar SMA Wardaya, serta di arah gang Macan menuju sekolah Pelita 2.
“Sudah pasti menyebabkan kerugian waktu di mana kedua anak saya terlambat masuk sekolah,” ujar Lydia kepada Tirto, Jumat (30/1/2026).
Situasi ternyata tidak membaik saat ia pulang setelah mengantar anak-anak. Meskipun hujan sudah tidak deras, genangan di beberapa titik semakin tinggi. Kali Mookervart di Daan Mogot terlihat penuh, bahkan airnya sudah mencapai atau melewati bagian bawah jembatan Taman Kota.
“Jalanan Daan Mogot mulai dari jembatan pabrik es/rumah pompa Green Garden sudah mulai tergenang karena luapan air kali, dan makin dalam di jalanan saat memasuki jembatan Taman Kota,” cerita Lydia yang juga berprofesi sebagai arsitek.
Ia menambahkan bahwa kondisi mobilnya sempat terguncang hebat. “Mobil terasa terombang-ambing, seperti ditabok ombak di bagian bawah, sampai terdengar bunyi kencang ‘grobyok grobyok’. Genangan terus naik sampai mencapai rel KA Taman Kota,” ujarnya.
Selain mengalami kerugian waktu, Lydia menyebut bahwa banjir juga merugikan kualitas dan stamina kendaraannya. “Deg-degan sih, takut mogok atau mengalami masalah lain di perjalanan selanjutnya,” ujarnya.
Lalu, apa yang terjadi di Daan Mogot?
Kemacetan horor memang menghantui Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, pada Kamis (29/1/2026). Banjir setinggi 20 hingga 40 sentimeter merendam jalan utama tersebut dan melumpuhkan arus lalu lintas sejak pagi hari. Genangan air terjadi di sejumlah titik, mulai dari kawasan Samsat Jakarta Barat, Halte Jembatan Gantung, hingga sekitar Halte TransJakarta Taman Kota.
Berdasarkan pantauan Korlantas Polri di lapangan, banjir terjadi di kedua arah, yakni dari Cengkareng menuju Grogol, termasuk di sekitar Samsat Jakarta Barat, serta dari arah sebaliknya. Genangan setinggi sekitar 30 sentimeter terlihat di dekat Halte Jembatan Gantung, sementara di kawasan Halte TransJakarta Taman Kota ketinggian air mencapai sekitar 15 sentimeter.

Akibat kondisi tersebut, kendaraan melambat dan saling bermanuver untuk menghindari sisi jalan yang lebih dalam. Dampaknya, antrean kendaraan memanjang hingga sekitar 5,5 kilometer, dari Halte Pulo Nangka hingga kawasan Gedung Mayora, Kalideres. Kemacetan juga terjadi dari arah Pesing menuju Jembatan Gantung.
Di perempatan lampu merah Cengkareng, arus lalu lintas terpantau padat. Sejumlah pengendara sepeda motor memilih memutar balik untuk mencari jalur alternatif karena khawatir kendaraan mereka mogok saat melintasi genangan air. Kondisi tersebut membuat lalu lintas lumpuh dan kendaraan nyaris tidak dapat bergerak.
Banjir di Jakarta memang meningkat intensitasnya pada Kamis kemarin. Berdasarkan pantauan BPBD hingga siang, banjir merendam 35 rukun tetangga (RT) dan 10 ruas jalan.
"Saat ini banjir terjadi di 34 RT yang berada di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Mohamad Yohan, di Jakarta, dikutip dari Antara.
Menurut Yohan, data terakhir menunjukkan banjir semakin meluas dan merendam sebagian wilayah DKI dengan ketinggian air bervariasi antara 30 hingga 150 sentimeter. Banjir terparah terjadi di Jakarta Timur dengan ketinggian air antara satu meter hingga satu setengah meter.
Ia menjelaskan, hujan deras yang melanda wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada Rabu (28/1/2026) menyebabkan kenaikan air di sejumlah bendungan yang menjadi pos pantau.
"Penyebab utamanya adalah curah hujan tinggi dan meluapnya sejumlah sungai seperti Sungai Ciliwung, Pesanggrahan, dan Angke Hulu," ujarnya.
Harapan dan Solusi dari Masyarakat
Sebagai warga yang hampir setiap hari mengandalkan Jalan Daan Mogot untuk bekerja, Nisa berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi drainase, menata lalu lintas saat banjir terjadi, serta menyediakan sistem peringatan dini untuk mengantisipasi macet maupun genangan. Menurutnya, langkah-langkah ini sangat penting agar warga tidak lagi terjebak dalam kondisi lalu lintas yang kacau seperti yang dialami pada Kamis kemarin
“Pemerintah harus evaluasi menyeluruh kondisi drainase, kemudian penataan lalu lintas saat kondisi sedang banjir, dan penyediaan sistem peringatan macet maupun banjir di wilayah,” ujarnya.
Sementara itu, Lydia, yang berprofesi sebagai arsitek, menyoroti permasalahan luapan Kali Mookervart yang selalu menggenangi Daan Mogot karena alirannya ke sungai lain kurang lancar. Ia berharap pemerintah dapat meninjau kembali sambungan saluran kali tersebut untuk memastikan alirannya bisa lebih cepat hingga ke laut.
Selain itu, sheet pile di sepanjang Kali Mookervart perlu diperiksa untuk menemukan titik-titik bocor dan diperkuat jika diperlukan. Lydia juga menekankan pentingnya peninggian permukaan jalan di titik-titik akses masuk ke perumahan agar sesuai dengan ketinggian jembatan dan JPO di sekitarnya.
“Sheet pile sepanjang kali Mookervart harus dicek titik-titik bocornya di mana, apa perlu dicor lagi?” ujarnya.
Lydia juga menekankan pentingnya peninggian permukaan jalan di titik-titik akses masuk ke perumahan agar sesuai dengan ketinggian jembatan dan JPO di sekitarnya. Jalan dari jembatan Taman Kota hingga sebelum rel KA juga sebaiknya dinaikkan levelnya karena area tersebut sangat rawan genangan.
Tirto telah menghubungi dua staf khusus Gubernur Jakarta, Pramono Anung, yaitu Chicco Hakim dan Nirwono Yoga, untuk meminta tanggapan Pemprov terkait banjir yang terjadi serta langkah mitigasi dan kesiapsiagaan agar kejadian serupa tidak terulang. Namun, hingga Jumat sore, pihak Tirto belum mendapatkan jawaban.
Meski demikian, pada hari Kamis, Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat telah menurunkan empat unit pompa bergerak untuk menanggulangi banjir setinggi sekitar 40 sentimeter di Jalan Daan Mogot KM 13. “Kapasitas satu pompa itu 300 liter per detik, jadi total ada empat pompa yang bekerja,” ujar Japra, petugas operator pompa dari SDA Jakarta Barat, di lokasi banjir, Kamis, seperti dilansir Antara.
Genangan yang sempat melumpuhkan arus lalu lintas di Jalan Daan Mogot mulai berangsur surut pada Kamis malam, sehingga kendaraan kembali bisa melintas setelah hujan deras yang sebelumnya menghambat mobilitas warga.
Mengutip pemberitaan Antara, genangan di KM 13 Jalan Daan Mogot sekitar pukul 21.30 WIB tersisa maksimal 10 sentimeter, jauh berkurang dibandingkan siang hari, sehingga kendaraan roda dua maupun roda empat sudah bisa melewati jalan tersebut.
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id





























