tirto.id - Gubernur Bali, Wayan Koster, mengungkapkan terjadinya penurunan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali sebanyak 800 orang per hari. Penurunan wisman tersebut terjadi selama 4 hari ke belakang.
"Satu hari 800 orang untuk sekarang. Akan berdampak tergantung eskalasi perangnya, mudah-mudahan cepat berhenti," kata Koster di sela kegiatan Bali Bersih Sampah, Kamis (05/03/2026).
Dia menyebut apabila perang di Asia Barat masih berlanjut, maskapai kemungkinan akan memperbaiki rute penerbangan dari Eropa dan Asia Barat ke Bali. Pasalnya, wilayah udara di sejumlah titik di Asia Barat masih ditutup.
"Kalau Eropa, pasti akan menyesuaikan rute keberangkatan yang tadinya lewat Dubai, Doha, akan beralih. Mungkin ke Singapura atau Thailand. Yang langsung ke Bali ada Rusia, dari negara lain juga ada," ungkap Koster
Berdasarkan data Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai per 4 Maret 2026 pukul 15.00 WITA, jumlah penerbangan internasional di bandara tersebut yang terdampak pembatalan berjumlah 35 penerbangan. Penerbangan tersebut terdiri atas 20 penerbangan keberangkatan dan 15 penerbangan kedatangan.
Sementara itu, jumlah penumpang dari penerbangan yang mengalami penyesuaian berjumlah 5.905 penumpang keberangkatan. Untuk penumpang terdampak tersebut, Kantor Imigrasi Kelas I Ngurah Rai memberikan pelayanan untuk Izin Tinggal Keadaan Terpaksa (ITKT) dan tarif nol rupiah untuk overstay.
Mengenai pembatalan sejumlah penerbangan tersebut, Pemprov Bali melalui Dinas Pariwisata mengklaim sudah berkoordinasi dengan Imigrasi dan Angkasa Pura.
Kepala Dinas Pariwisata Bali, I Wayan Sumarajaya, menyebut pihak Bandara Ngurah Rai sudah memiliki help desk di terminal keberangkatan internasional untuk melayani penumpang yang tertunda keberangkatannya.
"Pariwisata sangat dipengaruhi oleh keamanan. Tentu berpengaruh secara keseluruhan atau secara global terutama dalam layanan airline," ucap Sumarajaya kepada kontributor Tirto, Kamis.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali juga sempat mengungkap tingkat okupansi rata-rata regional Bali pada awal Maret 2026 hanya 60 persen. Situasi ini disebabkan oleh berkurangnya wisatawan dari Asia Barat dan Eropa yang penerbangannya condong melalui transit di Doha, Dubai, dan Abu Dhabi.
“Saat ini, ada penurunan di data wisatawan dari Timur Tengah dan Eropa karena mereka yang sedang berwisata banyak yang tertunda, apalagi calon wisatawan banyak yang mengurungkan niat. Berwisata itu perlu aman. Mereka perlu aman dan menunggu apa yang akan terjadi,” kata Rai kepada kontributor Tirto, Selasa (03/03/2026).
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id































