tirto.id - Pencapaian kinerja sektor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia pada 2025 menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, realisasi lifting atau produksi minyak mentah berhasil melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Namun, di sisi lain, pendapatan negara dari sektor ini justru mengalami shortfall akibat harga minyak dunia yang lebih rendah dari asumsi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa lifting minyak bumi mencapai 605.300 barel per hari (bph), melampaui target APBN 2025 sebesar 605.000 bph.
"Kalau kita melihat target APBN kita 10 tahun terakhir di lifting itu enggak pernah tercapai. Alhamdulillah kali ini kita tercapai," kata Bahlil dalam konferensi pers, Kamis (8/1/2025).
Namun, capaian serupa tidak terjadi pada lifting gas bumi. Realisasinya tercatat rata-rata 951,8 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD), masih berada di bawah target APBN sebesar 1.005 ribu MBOEPD.
Meski demikian, Bahlil menyoroti keberhasilan pemerintah menjaga ketahanan energi dengan tidak melakukan impor Liquefied Natural Gas (LNG) sepanjang 2025, meskipun sempat ada rencana impor sekitar 40 kargo di awal tahun.
“Tapi berkat kerja keras kita semua, di tahun 2025 tidak ada kita melakukan impor gas,” ucapnya.
Ia menjelaskan, dari total produksi gas bumi sebesar 5.600 billion British thermal unit per day (BBtud), sebanyak 31 persen diekspor dan 69 persen dialokasikan untuk konsumsi domestik.
Adapun, dari porsi domestik tersebut, sekitar 37 persen digunakan untuk kegiatan hilirisasi.
Di balik keberhasilan lifting minyak, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor migas justru hanya mencapai 83 persen dari target.
Realisasi PNBP migas sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp105,4 triliun, jauh di bawah target APBN sebesar Rp125 triliun. Capaian ini juga lebih rendah dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai Rp110,9 triliun.
Bahlil menjelaskan bahwa penyebab utama tidak tercapainya target pendapatan tersebut adalah asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) dalam APBN yang meleset.
"Karena sekali lagi asumsi di APBN ICP itu 82 dolar AS per barel, tapi riilnya 68 dolar AS per barel. Lifting kita tercapai tapi harganya memang lagi turun," jelasnya.
Ia menambahkan, penurunan harga tidak hanya dialami komoditas minyak mentah, tetapi juga berbagai komoditas mineral lainnya.
"Memang harga komoditas sekarang lagi turun semua,” ucapnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































