tirto.id - Tiap kali memulai pertunjukannya, Harry Hartanto kerap memainkan kartu triple minority sebagai hook perkenalan: Tionghoa, Kristen, dan penyintas kanker. Lelucon itu "dimakan" penonton dengan ragam ekspresi—kadang tawa, kadang juga hening yang canggung.
Tapi, sebagai seorang pegiat komedi tunggal, Harry paham betul risikonya: menjadikan tubuh dan identitas sebagai bahan komedi, apalagi ketika audiens datang dengan berbagai latar belakang, bukan lah hal mudah.
Harry adalah pemuda asal Tasikmalaya yang memulai perjalanan stand up comedy pada Januari 2022 di Ketawa Comedy Club, Jakarta. Ia masuk ke dunia komedi tunggal pada masa yang tak ideal: sisa-sisa pandemi Covid-19 membuat komunitas Stand Up Indo belum sepenuhnya bisa menggelar open mic secara masif.
Namun, justru di situ Harry menemukan fungsi lain dari komunitas. Di ruang tersebut, kemampuan berkomedi dapat diasah secara lebih terukur melalui mekanisme umpan balik yang relatif jujur.
Materi yang belum lucu tidak dicemooh, melainkan dibedah. Pola ini menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi siapa saja—baik mereka yang ingin menempuh jalur profesional, maupun yang sekadar melatih kemampuan public speaking.
"Berada di komunitas sedikit banyak membantu, karena itu jadi tempat latihan kita," ujar Harry yang kini bekerja di sebuah agensi kreatif di Jakarta, saat berbincang dengan Tirto.
Meski baru menekuni kesenian ini sekitar tiga tahun terakhir, Harry terbilang aktif di skena Stand Up Comedy Indonesia. Ia tak hanya tampil dalam bahasa Indonesia, tetapi juga Inggris. Ketertarikannya pada stand up—yang tumbuh dari tayangan YouTube hingga televisi—juga tak serta-merta dibarengi ambisi instan menjadi komika profesional.
Bagi Harry, stand up lebih dulu berfungsi sebagai coping mechanism: cara mengolah pengalaman sebagai penyintas kanker lidah menjadi narasi yang dapat dibagikan ke khalayak, sekaligus sarana edukasi mengenai penyakit yang ia derita.
Pada 2023, ia terpilih sebagai pemenang Anugerah Bernard, lomba yang diadakan oleh Pandji Pragiwaksono untuk memberangkatkan komika ke New York. Nama Bernard diambil dari salah satu penggemar karya Pandji Pragiwaksono yang meninggal akibat tumor otak pada Mei 2020.
Sejak itu, aktivitas Harry di komunitas kian meningkat, tak hanya di komunitas asalnya, Stand Up Indo Tasikmalaya. Saat jadwal manggung kosong, ia juga mengampu semacam "kelas" stand up comedy berbahasa Inggris di sebuah kafe di bilangan Cipete, Jakarta Selatan. Ia juga rutin mengisi sejumlah acara open mic di Markas Comika, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
"Orang-orang di sana pun tahu kalau, 'oh ini masih ngeraba nih, oh ini tulisannya masih baru nih'. Jadi tempat untuk eksperimen, seperti lab gitu," jelasnya.
Bagi Dzawin Nur, komika jebolan Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Season 4 sekaligus konten kreator, keberadaan komunitas merupakan variabel mutlak dalam skena ini. Menurut Dzawin Nur, komunitas bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan fondasi eksistensi profesi stand up comedy.
"Tanpa komunitas, tidak ada Stand Up Comedy," ucap pria yang telah bergaung di tiga komunitas Stand Up Indo—Bogor, UIN Ciputat dan Tangsel—tersebut kepada Tirto.
Ia menjelaskan bahwa denyut utama komunitas terletak pada kegiatan rutin open mic. Kegiatan ini bersifat non-profit dan sepenuhnya didedikasikan untuk latihan. Di sinilah prinsip kesetaraan dijalankan secara konkret: belajar gratis dan mengajar gratis.
Dzawin juga menyoroti kemampuan komunitas Stand Up Indo dalam membentuk ekosistem yang mandiri dan sirkular—sebuah kesadaran komunal yang tumbuh secara organik. Komunitas tidak hanya melahirkan komika panggung, tetapi juga berbagai profesi pendukung industri kreatif, mulai dari penulis naskah, videografer, fotografer, desainer grafis, hingga manajer tur atau road manager.
"Kesuburan komunitas adalah kesuburan kami semua," kata Dzawin.
"Prinsipnya dari kami untuk kami. Stand Up Comedian nyari kameramen dari komunitas, nyari roadman dari komunitas, nyari penulis kreatif dari komunitas. Jadi semakin ramai komunitasnya, kami-kami ini kalau butuh penulis tinggal ambil, nggak perlu pusing."
Siklus tersebut menciptakan regenerasi yang relatif sehat dan saling menguntungkan. Para senior membuka ruang dan kesempatan kerja, sementara para junior memperoleh pengalaman lapangan, portofolio, serta penghasilan dari keahlian yang diasah di dalam komunitas.

Dzawin sendiri turut mendirikan Markicabs Institute, sebuah program pelatihan nonformal yang mengajarkan keterampilan teknis seperti fotografi, videografi, dan jurnalistik. Sebagian pesertanya merupakan anggota komunitas stand up. Tujuannya sederhana: membekali anggota komunitas dengan keterampilan yang dapat diberdayakan di industri kreatif, meski mereka belum berhasil menembus panggung profesional.
“Saya kaget, ternyata berguna. Lebih dari setengah lulusannya sudah pada kerja. Jadi win-win solution,” tambah Dzawin.
Dampak pengembangan keterampilan di dalam komunitas juga diakui oleh Muhadkly Acho, komika yang kini dikenal sebagai sutradara dan penulis skenario. Menurutnya, selain solidaritas, ekosistem ini memberi komunitas keunggulan kompetitif yang nyata.
Dalam praktik produksi sinema, jejaring komunitas kerap menghadirkan efisiensi. Kebutuhan pemain tambahan, promosi mendadak, atau kru di luar kota bisa dipenuhi lebih cepat dan fleksibel dibandingkan jalur profesional konvensional.
"Kalau misalnya udah sesama komunitas tuh pasti gampang untuk reach-nya. Kita bisa sefleksibel itu," tuturnya.
Tak Mudah
Meski demikian, jalan yang ditempuh anggota komunitas ke jenjang tidaklah instan. Dzawin memaparkan dua variabel wajib yang harus dikuasai secara seimbang: kemampuan teknis stand up dan kemampuan promosi diri alias personal branding di media sosial.
Sisi teknis melibatkan disiplin menulis materi, melakukan open mic secara rutin, bisa dua hingga empat kali seminggu, serta evaluasi materi yang ketat melalui sesi comedy buddy (Kombud).
Menurut pria yang aktif di Komunitas Stand Up Tangerang Selatan ini, jalan pedang yang harus ditempuh seorang komika profesional adalah siap menulis, gagal, mengevaluasi, dan menulis ulang.
"Rajin itu enggak cukup. Jadi harus ditambah evaluasi. Capek? Ya capek banget dong. Waktu merintis kurang tidur kok," kenang Dzawin.
Selain itu, di era digital saat ini, kemampuan teknis tersebut harus diimbangi dengan pengelolaan media sosial yang cerdas. Dzawin mencontohkan banyak kasus komika yang sangat lucu di panggung namun karirnya stagnan karena abai terhadap media sosial. Sebaliknya, banyak konten kreator yang viral namun kemampuan stand up-nya belum matang.
"Ujung-ujungnya jadi konten kreator. Banyak juga tuh dari komunitas-komunitas. Yang mungkin orang nggak tahu kalau itu dari komunitas stand up tuh. Banyak juga," tuturnya.
Pun demikian, Dzawin tak menampik bahwa kultur di dalam komunitas cenderung keras, jujur, dan tanpa sensor. Karena itu, meski komunitas stand up dikenal inklusif dan terbuka bagi siapa saja, mulai dari dokter, mahasiswa, hingga pengangguran, ada mekanisme seleksi alam yang berjalan ketat di dalamnya.
Kritik pedas, ceng-cengan, hingga teguran langsung seringkali dilontarkan, baik di tongkrongan maupun di atas panggung. Hal ini, menurut Dzawin, berfungsi sebagai filter alami untuk menyaring mereka yang hanya sekadar ingin panjat sosial, sok asik, atau mencari jalan pintas menuju ketenaran tanpa menghormati proses.
"Komunitas tuh mulutnya jahat, lho. Kita baik, tapi mulutnya tanpa sensor. Jadi ada orang sok asik tuh ya kita bilang, ‘Sok asik lu’. To the point. Kadang di panggung," katanya.
Bagi Dzawin, hanya mereka yang memiliki mental kuat, kerendahan hati untuk belajar, dan keseriusan tinggi yang akan bertahan. Senioritas dalam komunitas, imbuhnya, bukan tentang gila hormat, melainkan soal apresiasi terhadap proses dan etika.
Komika yang lebih dulu terjun ke ranah profesional akan dengan senang hati meluangkan waktu, bahkan memberikan konsultasi materi bagi junior yang menunjukkan semangat dan etos kerja yang tinggi.
"Senior itu akan selalu menanggapi junior yang mau ngajak nongkrong dan belajar. Tapi kalau baru datang dua kali sudah ikut ceng-cengan, itu namanya sok asik," tambah Dzawin.
Dengan cara tersebut, Dzawin optimistis bahwa industri stand up comedy akan bertahan sangat lama. Ia memiliki argumen logis: regenerasi. Komunitas tidak pernah berhenti mencetak talenta baru. Bahkan jika sorotan media massa meredup atau tren televisi berganti, ekosistem ini tidak akan mati karena basisnya adalah hobi dan komunitas yang terus beregenerasi.
“Karena jika orang-orang yang Anda tonton di TV mati, kami tetap mencetak komika-komika baru. Stand up tidak akan pernah mati. Tenggelam mungkin (secara hype nasional), tapi tidak akan mati karena basisnya adalah komunitas. Suplainya kami bikin terus,” terang Dzawin.
Keyakinan serupa disampaikan oleh Harry. Mengutip pandangan Pandji Pragiwaksono, ia menyebut bahwa jumlah komika di Indonesia sebenarnya belum sebanyak di negara-negara lain seperti Amerika Serikat. Dengan demikian, ruang untuk tumbuh dan berkembang di kesenian ini masih akan terbuka lebar.
“Kayaknya enggak perlu mengkhawatirkan tentang orang lain, tapi lebih fokus ke diri sendiri untuk nulis jokes yang lebih baik aja,” ujar Harry.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































