Asian Games: Hasrat Politik Sukarno & Ambisi Infrastruktur Jokowi

Oleh: Aulia Adam - 6 April 2018
Dibaca Normal 5 menit
Membangun infrastruktur lewat Asian Games adalah ambisi pemerintahan Presiden Jokowi. Terinspirasi dari Bung Karno, 56 tahun lalu.
tirto.id - "Sekiranya tidak punya Asian Games ’62, kita tidak punya GBK," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla pada acara penandatanganan kerja sama sponsorship Asian Games 2018 di kantornya, 5 Desember 2017. "Sekiranya tidak ada Asian Games, kita barang kali terlambat punya teve," sambung Kala.

Sebagai Ketua Dewan Pengarah Indonesia Asian Games Organizing Committee (Inasgoc), Kalla menyambut sejumlah sponsor yang turut berpartisipasi dalam ajang empat tahunan tersebut. Sejak Maret 2017, ia memang menggantikan Presiden Joko Widodo sebagai Ketua Dewan Pengarah Inasgoc, sebutan untuk panitia Asian Games. Salah satu tugasnya memastikan pembiayaan pesta olahraga terbesar se-Asia itu berjalan baik.

Tak cuma meyakinkan para sponsor, Kalla juga tersirat ingin meyakinkan bangsa Indonesia bahwa menjadi tuan rumah Asian Games adalah investasi yang tepat.

Ia menyebut dana yang dikucurkan untuk merenovasi sekaligus membangun arena-arena Asian Games kali ini nyaris mencapai Rp10 triliun. Belakangan, dana itu dipotong jadi Rp4,5 triliun, diambil dari APBN, dengan tambahan dari sponsor sekitar Rp1 triliun.

“Memang tidak ada yang gratis di dunia ini. Ingin terkenal, ingin prestasi, ingin menonjol mesti ada investasi yang baik,” ungkapnya.

Semangat yang disebar Kalla tak jauh beda dengan semangat yang disebar Bung Karno, 56 tahun lalu, ketika menyodorkan diri sebagai tuan rumah Asian Games keempat pada 1962.

Indonesia, yang baru merdeka 17 tahun, masih tertatih di pelbagai sektor terutama ekonomi. Empat tahun usai terbentuk Dewan Asian Games Indonesia saja, ekonomi Indonesia mengalami devaluasi yang bikin harga barang naik empat kali lipat. Ironi ini tentu saja membuat visi Bung Karno untuk membangun infrastruktur terhitung nekat.


Belum lagi ketika itu Indonesia tak punya waktu banyak untuk berbenah. Indonesia, yang unggul dari Pakistan lewat pemungutan suara oleh Dewan Federasi Asian Games di Tokyo, diumumkan sebagai tuan rumah pada Mei 1958. Itu membuat Bung Karno cuma punya waktu empat tahun untuk membangun semua infrastruktur yang dibutuhkan demi menyambut para tamu internasional.

Kalla Benar. Jika kenekatan Sukarno tak senyalang waktu itu, mungkin infrastruktur Indonesia tumbuh lebih lamban. Tak bisa dimungkiri, helatan Asian Games pada 56 tahun lalu menjadi titik balik transformasi Jakarta sebagai sebuah kampung besar menjadi salah kota yang diimajinasikan Sukarno sebagai "mercusuar" kelas dunia.


Momentum Menyulap Jakarta jadi Kosmopolitan

Kampung Senayan, Petunduan, Kebon Kelapa, dan Bendungan Hilir dirombak menjadi yang kini kita kenal sebagai Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno alias GBK. Di atas lahan seluas 300 hektare, ambisi Sukarno membangun arena olahraga kelas internasional pun menjadi kenyataan.

Sukarno disokong pinjaman 12,5 juta dolar AS dari Uni Soviet, nama saat itu untuk Rusia. Uang ini dipakai untuk membangun Stadion Utama GBK yang mampu menampung 100 ribu penonton, dan pernak-pernik lain yang melengkapi kompleks olahraga di Senayan.


Kontraktor hingga materialnya juga diimpor dari Soviet. Pada 8 Februari 1960, Presiden Sukarno bahkan mendatangkan Perdana Menteri Uni Soviet, Anastan Mikoyan, saat menancapkan tiang pancang Stadion Utama sebagai pencanangan pembangunan kompleks Asian Games IV.

“Stadium raksasa yang mampu menampung 100 ribu orang itu dilapisi atap kualitas terbaik pada massanya,” tulis Stefan Hübner dalam The Fourth Asian Games (Jakarta 1962) in a Transnational Perspective.


Hübner juga menulis Sukarno turut membangun Hotel Indonesia, Sarinah, Jembatan Semanggi, dan sejumlah monumen, termasuk Patung Selamat Datang di Bundarn HI. Demi gengsi Asian Games, Sukarno juga membangun TVRI sebagai televisi negara. Berdiri 24 Agustus 1962, TVRI dipakai Sukarno untuk menyiarkan pembukaan dan pertandingan Asian Games.

“Sekitar 10 ribu perangkat teve dibeli dari Jepang untuk memberi kesempatan orang-orang Indonesia menonton pertandingan, sekaligus jadi awal mula pertelevisian Indonesia,” tulis Hübner.

TVRI juga kelak digunakan Sukarno untuk mendukung pencitraan politik personal. Stasiun teve pertama itu menjadi sarana rezim pemerintah untuk menyiarkan propaganda.


Tak cuma itu, Jakarta benar-benar dirombak. “Mobil-mobil dibeli, Jakarta direnovasi. Pengemis dan pelacur dikirim pergi,” ungkap Hübner.

Sukarno benar-benar serius ingin menjadikan Asian Games sebagai momentum perombakan muka Indonesia. Sosialisasi digencarkannya tak hanya di Jakarta. Ia turut mencetak perangko-perangko bergambar bangunan-bangunan baru agar dapat dilihat orang-orang yang tinggal di daerah terpencil.

Namun, menjadikan Asian Games sebagai medium pembangunan infrastruktur rupanya bukan satu-satunya tujuan Bung Karno. Secara lebih luas, ia ingin menggaungkan nama Indonesia sebagai negara besar. Ada keputusan politis yang turut terselip di sana.


Pemerintahannya tak menerbitkan visa untuk atlet dari Israel dan Taiwan, yang sempat bikin hubungan Indonesia dan India—sebagai negara asal Dewan Olimpiade Asia (OCA)—panas. Penolakan Bung Karno ini ingin menunjukkan sikap politisnya mendukung Palestina dan Republik Rakyat Tiongkok, yang punya hubungan jelek dengan Israel dan Taiwan.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) akhirnya menskors Indonesia pasca-Asian Games 1962. Namun, Bung Karno tak gentar.

Sukarno justru kembali menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah pesta olahraga lainnya, Games of The Newly Emerging Forces (Ganefo) alias Pertandingan Negara-negara Berkembang. Menurut Hübner, Bung Karno memang punya ketertarikan sendiri dengan olahraga.

“Olahraga dipertimbangkan sebagai bagian vital dari upaya pembangunan bangsa Indonesia,” tulisnya.





Charles Little dalam “Games of the Newly Emerging Forces” pada buku Sports Around The World: History, Culture and Practice, menyebut antusias Sukarno terhadap Asian Games tak lepas dari upaya sang Proklamator mengokohkan diri sebagai pimpinan negara-negara non-blok. Namun, bagi Indonesia sendiri khususnya Jakarta, olahraga memang terbukti membantu mempercepat pembangunannya.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, daerah Senayan berkembang jadi salah satu titik vital di Jakarta, sejumlah infrastruktur lain berdiri di sana: Markas Besar Polda Metro Jaya, Bursa Efek Indonesia, SCBD, dan Direktorat Jenderal Pajak. Barangkali, kawasan Sudirman–Thamrin serta Bundaran HI juga tak akan jadi pusat kota Jakarta hingga saat ini bila tanpa gagasan Sukarno pada awal tahun 1960-an.


Asian Games 2018: Demi 'Citra Baik di Mata Dunia'

Semangat membangun infrastruktur seperti Bung Karno inilah yang juga menjadi motivasi pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan soal "dampak pembangunan" sesudah olahraga terbesar se-Asia. “Dibanding Thailand dan Cina, yang sudah menggelar Asian Games tiga kali, Indonesia baru sekali. Padahal selalu ada dampak pembangunan yang bagus setelah penyelenggaraan multi-event sebesar ini,” ujarnya.

Semangat itu kembali diulang Erick Thohir, Ketua Inasgoc, dalam acara Konferensi Pers Internasional Asian Games, Senin kemarin (2/3) di Hotel Borobudur.

Thohir menyebut salah satu tujuan utama dan faktor yang menjadikan tanda kesuksesan Asian Games 2018 adalah pembangunan sarana dan infrastruktur, yang diharapkan sekaligus menjadi “citra baik Indonesia di mata dunia”.

Asian Games 2018 tak cuma merenovasi Stadion Gelora Bung Karno, yang memakan biaya miliaran rupiah. Di Jakarta, Kampung Atlet di daerah Kemayoran juga dipugar dan diperluas. Velodrome Rawamangun dan Equestrian Park Pulomas dibangun sebagai arena balap sepeda dan pacuan kuda.

Sementara, demi kelancaran transportasi, light trail transit (LRT) dibangun sejak 2016 silam dan ditargetkan bisa dipakai sebelum Asian Games. Untuk tahap pertama, rute LRT itu masih sekitar 5,8 kilometer dari Stasiun Kelapa Gading di Jakarta Utara hingga Velodrome di Jakarta Timur.

Sayangnya, hingga artikel ini dirilis, belum ada satu pun dari infrastruktur itu yang rampung 100 persen.

Wakil Transportasi Inasgoc, AKBP Ipung Purnomo, mengatakan Velodrome Rawamangun dipastikan bakal kelar akhir April ini. Sementara pembangunan LRT dan Equestrian Park Pulomas baru rampung pada Juni—kurang dari 100 hari menuju hari-H.

“Tapi, kami (Inasgoc) optimis kok semua selesai tepat waktu,” ujar Ipung kepada Tirto.

Adapun untuk renovasi arena pendukung lain, Sekretaris Jenderal INASGOC, Eris Herryanto, berharap 94 arena pertandingan dan non-pertandingan sudah selesai pada H-100, 5 Mei mendatang.

“Kalaupun ada yang belum selesai, mungkin hanya satu atau dua arena,” ujarnya saat Konferensi Pers Internasional Asian Games.

Infografik Ancaman Asian Games


Memproyek(si)kan Palembang jadi 'Kota Olahraga Dunia'

Selain infrastruktur di Jakarta, Palembang turut mempercantik diri sebagai tuan rumah pendukung Asian Games 2018. Kompleks Jakabaring digadang-gadang sebagai proyek utama yang mempertegas cita-cita ibu kota Sumatera Selatan itu menjadi "Kota Olahraga Dunia."

Friederike Trotier, dosen Studi Asia Tenggara di Universitas Goethe, menyatakan bahwa Alex Noerdin, Gubernur Sumatera Selatan, sebagai aktor utama yang bersikukuh menjadikan Palembang sebagai partner Jakarta untuk Asian Games 2018.


Dalam Jakarta’s Asian Games, Yesterday and Today, Trotier menyebut bahwa ambisi Noerdin terinspirasi dari semangat serupa yang dibawa Sukarno, 56 tahun lalu, untuk Jakarta.

Itu pernyataan tak berlebihan. Palembang memang dalam beberapa dekade terakhir dikenal sebagai tempat turnamen olahraga nasional, regional, hingga internasional. Tujuh tahun terakhir saja, Palembang pernah jadi tuan rumah untuk 40 ajang.

Keluarga Noerdin sendiri telah membangun dinasti politik sejak ia menjabat bupati Musi Banyuasin pada 2002, lalu menjabat gubernur selama dua periode sejak 2008. Putranya, Dodi Reza Alex Noerdin, kini mencalonkan diri sebagai penggantinya dalam Pilkada 2018.


Infrastruktur yang dibangun Palembang untuk Asian Games tak cuma Jakabaring Sport City. Gubernur Alex Nordien juga membangun empat ruas tol baru, underpass dan flyover, rumah sakit, perluasan bandara, serta pembangunan LRT dari bandara menuju Jakabaring.

“Akhir April ini akan diuji coba. Dia akan dapat dua set rangkaian dari Madiun. Satu rangkaian itu ada loko, tiga gerbong. Satu gerbong itu bisa 200 orang, jadi sekali angkut bisa 600 orang. Sudah aman yang di Palembang,” kata Wakil Transportasi Inasgoc, AKBP Ipung Purnomo.

Alex Noerdin menjamin semua infrastruktur Asian Games di Palembang sudah akan rampung pada Juni mendatang. “Tidak mungkin venue yang kami bangun ini asal-asalan,” kata Noerdin seperti dilansir Antara. “Walau dikejar waktu, tetap harus selesai sebelum Asian Games, tapi venue tetap harus sesuai standar."

Pemerintah dan Inasgoc memang masih terus berjibaku menyelesaikan tenggat. Pertanyaannya, berhasilkan mereka mengejar ambisi besar seperti Bung Karno? Dan apakah bersih dari praktik korupsi?

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 2018 atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan