Sarinah, Proyek Mercusuar Sukarno

Oleh: Petrik Matanasi - 10 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Sarinah dibangun di era Sukarno sebagai pusat promosi penjualan barang-barang produksi dalam negeri, terutama hasil pertanian dan perindustrian rakyat. Itu berjalan cuma sebentar.
tirto.id - Banyak proyek besar yang dibangun setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 tatkala kekuasaan pemerintahan kembali ke tangan Presiden Sukarno, yang mengakhiri apa yang sering disebut para pengamat sebagai era parlementer atau demokrasi liberal (1950-1959).

Menurut Dr Raden Soeharto, mantan pejabat yang dekat dengan Sukarno, dalam autobiografinya Saksi Sejarah: Mengikuti Perjuangan Dwitunggal (1984), dari 10 Juli 1959 hingga 6 Maret 1962, setidaknya ada pembangunan asembling radio, tivi, bemo, pabrik tekstil, alat pertanian, dan pasaraya.

Masa-masa itu adalah masa Indonesia memperoleh uang pampasan perang dari Jepang sesudah perjanjian kedua pihak diteken pada 1958. Masa ini ialah salah satu tahun terburuk dalam perekonomian Indonesia. Selain dapat dana pampasan perang, Indonesia-nya Sukarno dapat kucuran bantuan dari negara-negara yang sehaluan garis politik seperti Uni Sovyet. Negeri komunis ini sering membantu proyek-proyek Sukarno, yang oleh lawan-lawan politik maupun pengkritiknya disebut proyek mercusuar.

Menurut mantan menteri zaman Sukarno sekaligus ahli beton legendaris Indonesia Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo, dalam Roosseno, Pakar dan Perintis Teknologi Sipil Indonesia (1989), proyek itu termasuk persiapan Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games pada 1962. (Baca: Profil Maladi, Ketua Dewan Asian Games Indonesia)

Uang ini, menurut Roosseno, digunakan untuk membangun Denpasar Hotel di Pelabuhan Ratu, gedung toserba Sarinah, dan Wisma Nusantara. Dari tiga proyek itu, yang mudah dilihat orang-orang yang berkunjung ke Jakarta adalah Sarinah. Sukarno mengambil nama Sarinah dari nama pengasuhnya ketika kecil.

“Sarinah adalah nama yang biasa. Akan tetapi Sarinah yang ini, bukanlah wanita biasa. Ia adalah satu kekuasaan besar dalam hidupku. Di masa mudaku, aku tidur dengan dia. Kami berdua tidur di tempat tidur kecil. Ketika aku besar, Sarinah sudah tidak ada lagi,” ujar Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karangan Cindy Adam. Sukarno bermaksud menjadikan tempat dengan nama seperti pengasuhnya semasih kecil itu sebagai tempat yang menopang ekonomi.

“Sarinah harus merupakan pusat sales promotion barang-barang produksi dalam negeri, terutama hasil pertanian dan perindustrian rakyat,” ujar Dr. Soeharto mengutip Sukarno.

“Presiden tampaknya mau mengatasi kesulitan rakyat di bidang sandang pangan,” tulis Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga kekuasaan sebelum prahara politik (2006).

Menurut Rosihan, “Pembangunan department store ini akan menggunakan uang pampasan perang Jepang dan harus selesai pada akhir 1964 sehingga, pada pertengahan 1965, toko yang menjulang di Jalan Thamrin sudah dapat melayani penjualan aneka ragam barang kebutuhan. Melihat banyaknya pengecam proyek tersebut, Sukarno hanya bilang, “Jangan terlalu menghiraukan kecaman itu [….] Kita harus memandang jauh ke depan.”

INFOGRAFIK HL Mall sarinah


“Saya sudah mengajukan ketetapan," ujar Sukarno kepada Dr. Soeharto. "Kepada semua gedung di tepi Jalan Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman harus bertingkat, paling sedikit terdiri dari lima tingkat. Arsitek dan insinyur kita sendiri kelak harus dapat mengerjakannya tanpa bantuan tenaga asing."

Menurut pengakuan Dr. Soeharto, “Bangunannya dirancang dengan bantuan arsitek Abel Sorensen dari Denmark, dibangun kontraktor Jepang dan pembiayaannya dari pampasan perang Jepang.” Kontraktor itu ialah Obayashi Corporation, yang juga membangun jembatan Sungai Musi di Palembang. Ia adalah salah satu dari lima kontraktor besar alias 'Big Five' asal Jepang.

Pembangunan Sarinah dimulai pada 17 Agustus 1962. Menurut Dr. Soeharto, buat proyek ini, dibentuk perseroan bernama Sarinah dan dia sendiri menjabat presiden direktur. "Bung Karno," katanya, "menghendaki gedung toko serba ada itu selesai dibangun dalam waktu lima tahun dan mulai berfungsi paling lambat tanggal 17 Agustus 1966." Proses pembangunannya disokong "secara maksimal" dari dr Soemarno, Gubernur Jakarta saat itu.

Setelah 17 Agustus 1966, sebelum Sukarno dilengserkan, Pasaraya Sarinah pun dibuka.

“Sarinah termasuk toko serba ada yang paling awal di Asia Tenggara. Ketika Singapura belum dibangun dan Kuala Lumpur masih rawa-rawa, Jakarta mulai berbenah dengan membangun departement store yang pertama. Tentu, Sarinah itu! Namanya diambil dari perempuan sederhana yang pernah mengasuh almarhum Presiden Sukarno,” tulis Eka Budianta dalam Cakrawala Roosseno (2008).

Scott Merrillees dalam Jakarta: Portraits of a Capital 1950-1980 (2015) menulis Sarinah memang toserba modern pertama Jakarta. Ia dilengkapi eskalator plus ruangan berpendingin udara—semuanya serba pertama.

Pada awal 1970-an, Sarinah berfokus menjadi etalase dengan barang-barang kerajinan lokal terutama batik. Namun, sesudah 1990-an ketika jumlah mal membengkak di Jakarta dan kawasan sekitarnya, merek waralaba macam McDonald's dan Hard Rock Cafe mulai merasuk ke Sarinah.

Tak hanya dua gerai asal Amerika Serikat itu saja, produk-produk luar negeri yang lain berdatangan bersama produk lokal. Pelan tapi pasti, sejumlah jenama internasional mengisi etalase Sarinah yang keluar jalur dari ide awal Sukarno, yakni sebagai pusat perbelanjaan bagi produk dalam negeri.

Baca juga artikel terkait MAL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam