Sakaratul Maut Industri Mal Amerika Serikat

Oleh: Aulia Adam - 10 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Orang Amerika Serikat lebih senang jalan-jalan ketimbang nongkrong di mal. Ratusan mal kini sudah tutup. Industri ini sedang mengalami sakaratul mautnya.
tirto.id - “Ada masanya di AS, ketika kegilaan konsumerisme dirayakan, dan semua orang berbelanja, dan mal jadi tempat orang-orang pergi untuk menghabiskan waktunya,” kata Harley Peterson, koresponden senior Business Insider. “Ya tahulah, kita bakal nongkrong di stan Auntie Anne’s Pretzel, dan pergi ke Abercrombie, dan kita keliling-keliling mal cuma untuk menghabiskan waktu,” tambah Ashley Lutz, deputi editor Business Insider.

Namun, masa-masa itu berakhir ketika resesi secara pelan tapi pasti datang. “Kebiasaan berbelanja orang-orang berubah,” kata Ashley. Industri mal AS sedang sakaratul maut.

Orang-orang AS sekarang lebih senang menabung untuk pergi liburan ketimbang membeli pakaian. Mereka juga lebih senang jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri—untuk mengoleksi pengalaman—ketimbang nongkrong di mal dan merayakan konsumerisme. Berdasarkan riset Cushman and Wakefield yang dikutip Business Insider, jumlah kunjungan ke mal-mal di AS pada 2010 mencapai angka 35 juta. Angka ini merosot lebih dari 50 persen tiga tahun kemudian. Pada 2013, kunjungan ke mal hanya mencapai angka 17 juta.

Dalam laporan TIME, analis ritel Jan Kniffen bahkan memprediksi lebih dari sepertiga mal di Amerika akan tutup pada 2017. Dari 1.100, 400 di antaranya akan segera tutup. Dan dari sisa 700, hanya 250 yang akan bertahan dalam beberapa tahun ke depan.

Penelitian Green Street, sebuah grup konsultan perumahan, bahkan menunjukkan 15 persen mal di AS akan tutup dalam 10 tahun ke depan. Selain perubahan kebiasaan belanja, kemajuan teknologi menjadi salah satu faktor utama yang mematikan industri mal. Seperti dilansir CNBC, perusahaan-perusahaan mal kehilangan jenama-jenama besar yang menyewa tempat mereka karena orang-orang yang berbelanja secara daring meningkat. Berjualan daring terbukti memangkas biaya sewa tempat di mal, yang harganya cukup besar.

Sejumlah jenama besar di AS, seperti Macy’s, Sears, GAP, dan Abercrombie & Fitch ramai-ramai menarik gerai mereka di mal-mal karena sepi pengunjung. Penarikan besar-besaran paling anyar dilakukan Macy’s pada awal Januari 2017. Sebanyak 68 gerai ditutup dan tak main-main sampai mengorbankan 10 ribu pekerja yang harus kehilangan mata pencaharian. Penutupan ini dilakukan karena pendapatan Macy’s pada musim liburan akhir tahun lalu jauh dari target. Sebelumnya, pada Agustus 2016, Macy’s sempat menarik 100 gerai.

Sebagai salah satu pemasukan terbesar bagi pengelola mal, tentu saja ini adalah pukulan terberat. Garrick Brown dari Cushman & Wakefield mengatakan kepada CNBC bahwa kawasan-kawasan metropolitan di AS yang biasanya punya 12 mal kini hanya punya 7 atau 8 mal saja.

Masalah ini rupanya tak hanya melanda mal-mal kecil atau kelas C, D, E, dan seterusnya. Mal-mal kelas A yang luasnya bisa sampai 1,1 juta kaki persegi juga mengalami krisis. Highland Mall di Austin, Texas, adalah contohnya. Sebelum benar-benar tutup, mal itu kehilangan gerai J.C. Peney, Macy’s, dan Dillard’s.

Infografik Nasib Mal Di Amerika


Kalau kabar mal di Texas ini kurang mengejutkan, tengoklah fakta soal Galleria at Pittsburgh Mills, salah satu mal paling besar di Pennsylvania, yang terjual cuma seharga $100 atau setara sekitar Rp1,3 juta. Padahal luasnya mencapai 1 juta kaki persegi.

“Sayangnya, bangunan-bangunan bekas mal juga tak bernilai tinggi,” kata Kate Taylor, reporter Business Insider dalam video editorial yang sama dengan Harley Peterson dan Ashley Lutz. “[Bangunan] mal yang terlalu besar bukanlah sesuatu yang bakal dilirik pengelola mal baru,” tambahnya.

Business Insider sepakat bahwa satu-satunya cara menyelamatkan industri ini adalah dengan beradaptasi mengubah konsep mal menjadi tempat orang-orang merasakan pengalaman-pengalaman yang tak dijual di tempat lain. Misalnya pengalaman menonton di bioskop dan membuat restoran besar. Atau cara-cara lain yang bisa merayu pengunjung mendatangi mal lagi. Ini persis sebagaimana dilakukan oleh sejumlah mal di Jakarta.

Menurut Bill Taubman dari Taubman Centers, salah satu pengelola pusat perbelanjaan terbesar di AS dan Asia, cara lain untuk mempertahankan industri mal di AS adalah memusatkan mal-mal di kota dan merancangnya sebisa mungkin berbeda dari yang sudah ada sehingga pengunjung kembali datang.

Setidaknya pengunjung datang untuk melihat-lihat komoditas kesayangannya secara langsung, tidak hanya dari layar ponsel atau komputer saja.

=========

Naskah semula terbit pada 20 Februari 2017

Baca juga artikel terkait MAL atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Maulida Sri Handayani
Artikel Lanjutan