Mal di antara Mimpi Ruang Publik, Konsumerisme, dan Teror

Oleh: Windu Jusuf - 10 April 2017
Dibaca Normal 4 menit
Sebuah ikon konsumerisme yang perkembangannya makin meminggirkan pasar tradisional dan jadi target protes serta serangan bersenjata.
tirto.id - Victor Gruen, arsitek yang disebut-sebut pionir desain mal modern, tidak membayangkan jika ciptaannya menjadi ikon konsumerisme. Gruen, imigran asal Austria yang menyelamatkan diri dari rezim Nazi ke Amerika Serikat, merancang mal untuk mengerem laju ekspansi perpindahan penduduk ke pinggiran kota.

Pada era 1950-an, AS baru saja muncul sebagai pemenang Perang Dunia II dan memasuki masa kemakmuran. Sebagai tindak lanjut dari program pemulihan ekonomi New Deal yang dimulai sejak Presiden Roosevelt, banyak kebijakan dikeluarkan untuk meningkatkan standar kesejahteraan masyarakat setelah dihantam depresi ekonomi 1920-an. Pembangunan infrastruktur, dari bendungan hingga rumah sakit, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Selain itu, pada sektor perburuhan, penentuan upah minimum dan jam kerja maksimum, dalam perkembangannya mengurangi kesenjangan pendapatan secara drastis. Akibatnya, angka konsumsi naik dari $61,7 miliar (1939) menjadi $98,5 miliar (1944), sebagaimana dituturkan William H. Chafe dalam The Unfinished Journey: America Since World War II (1986).

Peningkatan pendapatan dan konsumsi ini berjalan seiring program pemerintah lainnya: penyediaan kredit jangka panjang untuk kepemilikan rumah di pinggiran kota (suburbs). Ini berdampak pada ekspansi suburbs besar-besaran yang dalam sejumlah kasus melampaui kapasitas tanah.

Di Pantai Timur, misalnya di Manhattan, perluasan permukiman mencapai pesisir pantai. Di Los Angeles, di Pantai Barat, meledaknya permukiman pinggir kota menggerus sumber daya air. Sebagaimana yang terjadi dalam banyak kasus serupa, pertumbuhan liar ke pinggir kota menghasilkan tata kota yang semrawut. Toko dan bangunan, dengan tingkat kepadatan penduduk yang rendah, terus muncul tak terkendali.

Melihat kenyataan itu Gruen mengusulkan pembangunan kompleks perbelanjaan yang berisi toko, ruang-ruang komunal, sarana hiburan publik, yang bisa dicapai tanpa mobil—teknologi yang sangat dibenci Gruen. Dalam karyanya yang ditulis bersama Larry Smith pada 1960, Shoping Town USA, Gruen menuturkan visinya: “[Pusat-pusat perbelanjaan] dapat menyediakan tempat dan peluang yang dibutuhkan untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat modern, sebagaimana yang ditawarkan Agora di Yunani Kuno, pasar abad pertengahan, serta alun-alun kota kita di masa lampau.”

Salah satu proyek perdana Gruen adalah South Dale Shopping Center di Minnesota, kompleks perbelanjaan raksasa yang menjadi salah satu cetak biru bagi mal-mal modern Amerika hingga hari ini. Namun, berbeda dari mal-mal saat ini, South Dale Shopping Center diproyeksikan sebagai pusat komunitas yang mampu menopang kehidupan warga sekitar. Ada sekolah, rumah sakit, dan danau. Kenyataannya, itu tak pernah dibangun hingga kematian Gruen.

Setelah firma arsitektur Gruen merancang puluhan mal di banyak negara bagian AS, sang pionir menyatakan kekecewaannya terhadap perkembangan mal yang tidak berjalan sesuai impiannya. Tak ada Agora Yunani atau alun-alun yang guyub di mal. Yang lebih buruk, perkembangan masif mal di sejumlah kota Dunia Ketiga justru menggerus pasar-pasar tradisional yang selama ini punya peran penting sebagai ruang publik.

Menjadi Modern Bersama Mal

Namun visi Gruen sebetulnya tidak benar-benar baru. Ia hanya merumuskan secara konseptual apa yang telah dipraktikkan di Eropa dan menerjemahkannya menjadi pengalaman Amerika, termasuk proposal Gruen untuk membangun mal sebagai ruang publik.

Berbeda dari pengalaman mal Amerika yang dirancang justru untuk mengendalikan laju perluasan kota, kompleks perbelanjaan di Perancis dibangun sebagai paket modernisasi kota di bawah pemerintahan Napoleon III. Arsitek kota Paris, Baron van Haussman membangun jalan-jalan besar, mencacah paris dengan rel-rel besi, dan mendirikan blok-blok apartemen.

Perombakan Paris yang memakan waktu sekitar 40 tahun hingga 1870-an itu dirancang untuk melayani kepentingan kapitalis industri yang berkembang pesat pada era tersebut serta kelas menengah kota baru. (Hingga akhir abad 19, mayoritas pekerja Prancis bekerja di sektor non-industri)

Seiring derasnya industrialisasi, kelas pekerja yang sebagian besar di antaranya imigran mulai memenuhi kota. Orang mulai mengenal apa yang dinamakan "kerumunan," yakni kumpulan orang-orang yang tidak saling mengenal tapi berkumpul di ruang-ruang publik.

Dalam Arcades: The History of a Building Type (1985), Johann F. Geist menuturkan pusat-pusat perbelanjaan di Paris merupakan kelanjutan dari arcade, yakni deretan kios di lantai dasar kompleks bangunan yang disatukan oleh atap kaca, yang didesain untuk dilewati sebagai jalur perbelanjaan. Mengambil inspirasi dari bazaar di Timur Tengah, arcade dibangun untuk merespons kebiasaan “belanja yang direncanakan,” mulai dikenal pada akhir abad 18 ketika tradisi pasar tumpah dan pameran dagang marak di Paris.

Sebelum konsep mal ala Amerika yang kita kenal hari ini, sejarah mencatat pusat perbelanjaan pertama yang menjalankan fungsi seperti mal adalah Bon Marché di Paris. Terletak di sisi kiri sungai Seine (Rive Gauche), Bon Marché tumbuh di lingkungan yang sangat bohemian yang penuh dengan studio seni, salon intelektual, kafe, dan bar. Di situ kerumunan adalah ciri khasnya.

Dibuka pada 1838 sebagai toko kecil dan baru mengalami perubahan besar pada 1852, Bon Marché ialah toko pertama yang memperkenalkan konsep swalayan dengan memasang harga tetap untuk tiap barang yang dikelompokkan dalam seksi-seksi tertentu (départements) seperti yang kita kenal sekarang. Artinya, tidak ada tawar-menawar harga sebagaimana pada toko-toko tradisional.

Namun transformasi mal menjadi ruang publik tidak dimulai di Bon Marché. Toko tersebut hanya menjual barang dan untuk kelas atas.

Dalam “Social Space, Technology, and Consumer Culture at the Grands Magasins Dufayel” (2011), sejarawan Brian Wemp menyatakan perubahan datang dari Grands Magasins Dufayel, suatu kompleks pertokoan indoor yang menyediakan apa yang tidak ada di Bon Marché: kombinasi antara barang konsumsi dan harga terjangkau sekaligus atraksi hiburan, mulai dari tempat menyaksikan perangkat teknologi baru pada masanya (sinar X dan gramafon) hingga orkestra. Dilihat dari lokasinya, Grands Magasins Duyafel didirikan di sekitar lingkungan buruh yang sangat diawasi oleh polisi setempat karena dekat dengan stasiun-stasiun utama yang menjadi pintu masuk imigran.

Diferensiasi kelas pengunjung mal, serta pengategorian di antara mal sendiri, kelihatannya menemukan akarnya pada pembedaan komoditas yang dijual serta para pengunjung Bon Marché dan Grands Magasins Dufayel.

INFOGRAFIK HL Mall

Protes, Teror, Kerusuhan

Di Indonesia, pembangunan mal juga menampakkan hasrat untuk duduk sejajar dengan dunia modern, tak peduli ongkosnya. Presiden Sukarno memulainya dengan Sarinah, yang dibangun sebagai proyek mercusuar bersama Hotel Indonesia dan Monas agar setara kota-kota besar dunia.

Pada 1990-an, ketika jumlah mal membengkak di Jabodetabek, logika yang sama pun berlaku: mal adalah simbol masyarakat beradab; sementara yang becek dan jorok dimiliki pasar-pasar tradisional. Namun seringkali, bagi lapisan masyarakat terbawah, kata beradab merupakan penghalusan dari konsumsi mencolok dan gaya hidup mewah.

Pada Mei 1998, Mal Taman Anggrek, Slipi Plaza, Klender Plaza, Lippo Karawaci, Mal Citraland, dan beberapa lain dijarah dan dibakar. Di Plaza Klender, kurang lebih 700 orang mati terpanggang di dalam gedung. Setahun berikutnya, pagar-pagar di luar mal didirikan menjelang pemilu 1999. Ketakutan akan kerusuhan dan penjarahan bertahan hingga di tahun-tahun berikutnya.

Namun, lagi-lagi, ini fenomena global. Sederet narasi, protes, dan peristiwa berdarah justru mengingatkan, dalam praktiknya, mal telah berkembang menjadi ruang publik yang sangat eksklusif.

Pada 1978, film Dawn of the Dead dirilis di bioskop-bioskop Amerika. Film ini mengisahkan sekelompok orang yang dikejar-kejar zombie dan akhirnya bertahan hidup di mal. Gambaran ini dikontraskan dengan pedesaan dan kota-kota kecil yang sukses menahan serbuan zombie; sebaliknya pusat-pusat aktivitas warga di kota besar gagal.

Di Brasil, beberapa tahun belakangan, mal menjadi situs protes. Pada 2014, harian LA Times melaporkan anak-anak muda Sao Paolo dari kelas bawah yang berkulit gelap mulai menyerbu mal-mal untuk sekadar nongkrong. Kadang mereka mengorganisir flashmob. Rolezinhos, demikian aksi-aksi ini disebut oleh pers setempat, merupakan reaksi atas pertumbuhan mal yang masif di Sao Paolo serta penyingkiran ruang-ruang hidup yang dihuni rakyat jelata berkulit gelap. Di dalam mal-mal kota itu, orang-orang kelas atas yang berkulit cerah adalah pengunjung reguler mal, sementara warga berkulit gelap keturunan Afrika pada umumnya bekerja sebagai satpam.

Ketika aksi-aksi teror bersenjata merebak di sejumlah kota di dunia, mal menjadi salah satu sasarannya.

Di Indonesia, contoh itu bisa dilacak dalam serangan bom di Plaza Atrium pada 2001. Ancaman bom tahun lalu di Mall Alam Sutera. Serangan teror di sekitar Mall Sarinah, Thamrin, pada Januari 2016.

Pada 2013 di Kenya, al-Shabaab, kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan al-Qaeda, melakukan serangan ke Westgate Mall yang terletak di jantung ibukota Nairobi. Pada September 2016, seorang simpatisan ISIS menusuk sembilan orang di sebuah mal di negara bagian Minnesota. Maret tahun ini, sebuah mal di Essen, Jerman, terpaksa ditutup menyusul ancaman teror. Jumat pekan lalu (8/4), sebuah truk menerobos kerumunan orang di Ahlen Mall, Stockholm, Swedia.

Tampaknya ada pergeseran target serangan teror dari simbol pusat-pusat keuangan seperti WTC ke mal atau ruang-ruang publik tempat khalayak berkerumun.

Kita bisa melihat, dari semula mal dibangun dengan gagasan yang sangat inklusif, lalu berkembang dan berubah menjadi sangat eksklusif, kini—dalam situasi terorisme global—ia menjadi target serangan bersenjata sebagai pusat kerumunan. Rupa-rupanya harga yang dibayar untuk menjadi bagian dari publik modern ternyata sangat mahal dan menyeramkan.

Baca juga artikel terkait MAL atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Windu Jusuf
Penulis: Windu Jusuf
Editor: Fahri Salam
a